Tampilkan postingan dengan label Antropologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Antropologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Mei 2020


Indonesia merupakan negara multikultural dengan penduduk yang berasal dari berbagai latar belakang etnis, suku, agama, ras dan budaya. Salah satu etnis yang ada di Indonesia adalah Etnis Tionghoa. Etnis Tionghoa pertama kali datang ke tanah Nusantara pada awal abad ke-5 Masehi. Pada tahun 414, para Tionghoa yang melakukan perjalanan ke India terdampar di Jawa. Mereka terdampar seiring dengan hubungan perdagangan Nusantara. Perkembangannya pun terus meningkat, semakin banyak orang Tionghoa seperti berasal dari Mongol memilih tidak pulang dan menetap di Indonesia[1].
Orang-orang Etnis Tionghoa pun sangat beragam, bukan hanya dari golongan pedagang kelas menengah dan saudagar. Beberapa dari mereka juga datang dari golongan tukang, pedagang kecil, buruh dan kuli kasar. Selanjutnya, orang Tionghoa ini pun membaur dengan bahasa, makanan, pakaian, dan agama di Indonesia. Mereka pun menikahi sejumlah perempuan Indonesia dan menghasilkan keturunan[2].
Masuknya Etnis Tionghoa ke Nusantara pada saat itu, memberikan dinamika tersendiri dalam perkembangan Islam. Seiring berjalannya waktu, banyak Etnis Tionghoa yang memeluk agama Islam dan melakukan penyebaran. Dinamika sejarah Islam Tionghoa di Negara Indonesia dapat dilihat mulai berbagai fase, mulai fase pertumbuhan, fase perkembangan, fase kemunduran dan fase kebangkitan lagi di era sekarang[3]. Fase pertumbuhan dimulai dari rekam jejak sejarah ekspedisi laksamana Cheng Hoo ke Nusantara. Fase perkembangan ditandai dengan tersebarnya berbagai ajaran Islam dengan budaya Tionghoa melalui berbagai jalur, seperti perdagangan, pernikahan, dan kekeluargaan. Fase kemunduran adalah Era Orde Baru yang ditandai dengan berbagai problem politik adu domba antara rezim kolonial belanda dan orde baru terkait dengan Etnis Tionghoa.
Penyebaran ajaran Islam awal yang dilakukan oleh Tionghoa Muslim tidak dapat ditentukan secara pasti. Secara umum, dapat dikatakan bahwa proses tersebut telah berlangsung sejak pertama kali mereka datang ke Indonesia. Selain itu masyarakat Tionghoa sangat mengenal siapa Laksamana Muhammad Cheng Hoo, yang telah menjadi ikon bagi mereka. Laksamana Cheng Hoo (Zheng He), tercatat dalam sejarah sebagai salah seorang admiral muslim yang telah berhasil menjadi duta Islam kala itu. Ia memulai pelayaran pada tahun 1405, berlayar selama 29 tahun dan berhasil melalui wilayah Asia hingga Afrika[4]. Pelayarannya bukan hanya untuk membangun jaringan perdagangan, tetapi juga menyebarkan agama Islam secara luas.
Warisan Cheng Hoo (Zheng He) yang termasyur hingga kini adalah jalur perdagangan yang ditempuhnya dikenal sebagai Jalur Sutra. Kennedy, dalam bukunya The Great Arab Conquest (Kennedy : 2007) menyebutkan bahwa jalur sutra yang dilewati oleh Cheng Hoo (Zheng He) membawa spirit Islam yang kental. Hingga ke wilayah semenanjung Malaka dan Asia Tenggara kemudian jalur tersebut dikenal sebagai Jalur Santri. Diketahui kapal ekspedisi Cheng Hoo (Zheng He) tidak hanya memuat beragam barang perdagangan, di dalamnya juga mengangkut beberapa pemeluk dan pemuka agama. Hubungan tersebut kemudian mempengaruhi bagaimana Cheng Hoo (Zheng He) mengembangkan hubungan yang lebih dalam dengan penguasa di wilayah semenanjung Malaka, khususnya di wilayah Jawa. Tercatat keberadaan Cheng Hoo (Zheng He) di Jawa bahkan membuahkan sebuah kerjasama lebih erat melalui perkawinan antara Putri Campa dengan Raja Majapahit kala itu. Dari perkawinan tersebut lahirlah keturunan yakni Raden Patah (Sunan Kalijaga), Raden Rahmat (Sunan Ampel), dan Raden Muhammad Ainul Yakin (Sunan Giri). Ketiganya menjadi cikal bakal penyebaran agama Islam dan menjadi bagian dari Wali Songo.
Kehidupan beragama Muslim Tionghoa terus berlanjut hingga sekarang. Pada mulanya, kehidupan keagamaan mereka bersifat perorangan. Akan tetapi, dalam perkembangan berikutnya, kehidupan keagamaan yang semula bersifat personal menjadi sosial. Hal ini terlihat dengan pembentukan organisasi yang salah satu fungsinya adalah dakwah Islamiyah, seperti Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI)[5]. PITI merupakan salah satu organisasi dakwah Islamiyah Muslim Tionghoa pertama yang dibentuk. Selanjutnya organisasi tersebut dibentuk di masing-masing daerah seperti Serdang, Yogyakarta, Surabaya, dan lain sebagainya.
Pada masa Orde Baru, Muslim Tionghoa mengalami tekanan yang cukup keras dari pemerintah. Organisasi PITI harus dibubarkan karena menurut Jaksa Agung, penggunaan kata ‘Tionghoa’ berbau eksklusif. Tak lama setelah itu, pada tanggal 15 Desember 1972 Muslim Tionghoa mendirikan organisasi baru bernama Pembina Iman Tauhid Islam yang masih berakronim PITI[6].
Seiring dengan kebebasan pers pasca Orde Baru, ditambah dengan pencabutan terhadap pelarangan praktik adat dan tradisi Tionghoa di ruang publik oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Keppres No. 6 Tahun 2000), warga Tionghoa semakin mendapatkan ruang untuk berekspresi dalam beragam cara, termasuk di antaranya warga Muslim Tionghoa. Momentum kebebasan tersebut dimanfaatkan untuk merevitalisasi organisasi PITI (Pembina Iman Tauhid Islam). Dalam Muktamar Nasional PITI ke-2 yang berlangsung di Jakarta tahun 2000, akronim lama digunakan lagi bersamaan dengan yang sekarang yaitu Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. Selain itu, di Surabaya dibangun masjid pertama yang bergaya arsitek China dan diberi nama Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia.


[1] Muchlisa Choiriah, “Sejarah Kedatangan Etnis Tionghoa di Indonesia”, (https://www.merdeka.com/peristiwa/sejarah-kedatangan-etnis-tionghoa-di-indonesia.html diakses pada 27 Januari 2020)

[2] Keturunan yang lahir dari perkawinan silang ini disebut peranakan Tionghoa-Indonesia

[3] Muhibbin, “KEBERAGAMAAN ETNIS MUSLIM TIONGHOA  DI JAWA TIMUR;  Studi Terhadap Jamaah Masjid Cheng Hod di Jember dan Surabaya”. FENOMENA. Vol. 18 No. 1, April 2019, 2
[4] Ahmad Ma’ruf, “NILAI-NILAI AL-QUR’AN DALAM PENDIDIKAN ISLAM PERSPEKTIF ETNIS TIONGHOA DI PERSATUAN ISLAM TIONGHOA INDONESIA (PITI JATIM)”. MAFHUM : Ilmu al-Qur’an dan Tafsir. Vol. 2 No. 2, November 2017, 180

[5] Yusuf Zainal Abidin, “Keberagamaan dan Dakwah Tionghoa Muslim”. Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies. Vol. 11 No. 2, 2017, 358
[6] Rezza Maulana, “DAKWAH DAN ETNISITAS: Negosiasi Identitas pada Majalah Cheng Hoo”. Mukaddimah, Vol. 19, No. 1, 2013, 28-29

Rabu, 01 September 2010

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Anthropology berarti “ilmu tentang manusia” dan adalah suatu istilah yang sangat tua. Dahulu istilah itu dipergunakan dalam arti yang lain, yaitu “ilmu tentang cirri-ciri tubuh manusia” (malahan pernah juga dalam arti “ilmu anatomi”).
Dalam makalah kami ini membahas tentang system religi atau agama. Emosi keagamaan ini biasanya pernah dialami oleh setiap manusia, walaupun getaran emosi itu mangkin hanya berlangsung beberapa detik saja, untuk kemudian menghilang. Emosi keagamaan inilah yang mendorong orang melakukan tindakan-tindakan yang bersifat religi. Selebihnya lebih lengkap ada pada makalah kami yang membahas tentang pengertian religi, pengertian system religi, dan unsur-unsur religi.


B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian Religi atau Agama?
2. Apa pengertian system Religi atau Agama?
3. Apa unsur-unsur Religi atau Agama? 

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian Religi atau Agama
2. Untuk mengetahui pengertian Religi atau Agama
3. Untuk mengetahui unsur-unsur Religi atau Agama




BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Agama atau Religi.

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.
Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta agama yang berarti "tradisi". Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.
Dengan kata singkat, definisi agama menurut sosiologi adalah agama yang evaluatif (menilai). Ia “angkat tangan” mengenai hakikat agama, baiknya atau buruknya agama atau agama-agama yang tengah diamatinya. Dari pengamatan ini ia hanya sanggup memberikan definisi yang deskriptif (menggambarkan apa adanya), yang mengungkapkan apa yang dimengerti dan dialami pemeluknya.
Dalam kaitan ini harus ditegaskan lagi bahwa aliran fungsionalisme dengan sengaja dan sebagai prinsip memberikan sorotan tersendiri serta tekanan khusus atas apa yang ia lihat dari agama. Agama dipandang sebagai suatu institusi yang lain, yang mengemban tugas (fungsi), agar masyarakat berfungsi dengan baik, baik dalam lingkup lokal, regional, nasional maupun mondinal. Maka dalam tinjauannya yang dipentingkan ialah daya guna, dan pengaruh agama terhadap masyarakat, sehingga bakat eksistensi dan fungsi agama (agama-agama) cita-cita masyarakat (akan keadilan dan kedamaian, dan akan kesejahteraan jasmani dan rohani) dapat terwujud.
Menurut William James, definisi tentang agama, membuang aspek-aspek agama yang bersifat universal, sosial dan institusional yang justru merupakan perhatian utama sarjana sosiologi.
Agama dipandang dari segi keadaan manusianya adalah gejala yang begitu sering “terdapat di mana-mana” sehingga sedikit membantu usaha kita untuk membuat abstraksi ilmiah. Agama berkaitan dengan usaha-usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari keberadaannya sendiri dan keberadaan alam semesta.


B. Sistem Religi

Perhatian ilmu antropologi terhadap religi sejak lama, ketika ilmu antropologi belum ada. Dan hanya merupakan suatu himpunan tulisan. Mengenai adat-istiadat yang aneh-aneh dari suku-suku bangsa di luar Eropa, religi telah menjadi suatu suku-suku bangsa di luar Eropa, religi telah menjadi suatu pokok penting dalam buku-buku para pengarang tulisan-tulisan etnografi mengenai suku-suku bangsa itu. kemudian, waktu bahan etnografi tersebut digunakan secara luas oleh dunia ilmiah, perhatian terhadap bahan mengenai upacara keagamaan itu sangat besar. Sebenarnya ada 2 hal yang menyebabkan perhatian yang besar itu yaitu:
1. Upacara keagamaan dalam kebudayaan suatu suku bangsa biasanya merupakan unsur kebudayaan yang tampak paling lahir:
2. Bahan etnografo mengenai upacara keagamaan diperlukan untuk menyusun teori-teori tentang asal-mulanya teligi.
Para pengarang etnografi yang datang dalam masyarakat. suatu suku bangsa tertentu, akan segera tertarik akan upacara-upacara keagamaan suku bangsa itu, karena upacara-upacara itu pada lahirnya tampak berbeda sekali dengan upacara keagamaan di Eropa itu sendiri, yakni agama Nasrani, hal-hal yang berbeda itu dahulu dianggap aneh, dan justru karena keanehannya itu menarik perhatian. Masalah asal-mula dari suatu unsur universal seperti religi, artinya masalah mengapa manusia percaya kepada adanya suatu kekuatan gaib yang dianggapnya lebih tinggi dari padanya, dan mengapa manusia itu jmelakukan berbagai hal dengan cara-cara yang beraneka warna, untuk berkomunikasi dan mencari hubungan dengan kekuatan-kekuatan tadi, telah lama menjadi pusat perhatian banyak orang di Eropa, dan juga dari dunia ilmiah pada umumnya.
Dalam usaha memecahkan masalah asal-mula religi, para ahli biasanya menganggap religi suku-suku bangsa di luar Eropa sebagai sisa-sisa dari bentuk-bentuk religi yang kuno, yang dianut oleh seluruh umat manusia dalam zaman dahulu, juga oleh orang Eropa ketika kebudayaan mereka masih berada pada tingkat yang primitif.


C. Unsur-Unsur Khusus.

Dalam rangka sistem religi 1) sistem religi, 2) sistem ilmu ghaib. Semua aktivitas manusia yang bersangkutan dengan religi berdasarkan atas suatu getaran jiwa, yang biasanya disebut emosi keagamaan, atau religious emotion. Emosi keagamaan ini biasanya pernah dialami oleh setiap manusia, walaupun getaran emosi itu mungkin hanya berlangsung untuk beberapa detik saja. Untuk kemudian menghilang lagi. Emosi keagamaan itulah yang mendorong orang melakukan tindakan-tindakan yang bersifat religi, suatu sistem religi dalam suatu kebudayaan selalu mempunyai ciri-ciri untuk memelihara emosi keagamaan itu di antara pengikut-pengikutnya. Dengan demikian emosi keagamaan merupakan unsur penting dalam suatu religi. Bersama dengan unsur-unsur lain yaitu:
1. Sistem keyakinan
2. Sistem upacara keagamaan
3. Suatu umat yang menganut religi itu.

Adapun sistem kepercayaan dan gagasan, pelajaran, aturan agama, dongeng suci tentang riwayat dewa-dewa (mitologi). Biasanya tervantum dalam suatu himpunan buku-buku yang biasanya juga dianggap sebagai kesusastraan suci.
Sistem upacara keagamaan secara khusus mengandung 4 aspek yang menjadi perhatian khusus dari para ahli antropologi :

1. Tempat upacara keagamaan dilakukan
2. Saat-saat upacara keagamaan dijalankan
3. Benda-benda dan alat-alat upacara
4. Orang-orang yang melakukan dan memimpin
Aspek pertama berhubungan dengan tempat-tempat keramat di mana upacara dilakukan, yaitu: makam, candi, pura, kuil, gereja, langgar, surau, masjid dan seterusnya.
Aspek ke dua adalah aspek yang mengenai saat-saat ibadah: hari-hari keramat dan suci dan sebagainya. Aspek ke tiga adalah tentang benda-benda yang dipakai dalam upacara: patung-patung, lonceng suci, genderang suci, dan sebagainya. Aspek ke empat adalah aspek yang mengenai para pelaku upacara keagamaan, yaitu: para pendeta, biksu, syaman, dukun dan lain-lain
Upacara-upacara itu sendiri banyak juga unsurnya, yaitu:

1) Bersaji
2) Berkorban
3) Berdo'a
4) Makan bersama makanan yang telah disajikan dengan do'a ]
5) Menari tarian suci
6) Memainkan seni drama suci
7) Berprosesi atau berpawai
8) Menyanyi-nyayian suci.
9) Berpuasa.
10) Intoksikasi/mengaburkan pikiran dengan makan obat bius untuk mencapai keadaan trance, mabuk.
11) Bertapa
12) Bersemedi
Diantara unsur-unsur upacara keagamaan tersebut ada yang dianggap penting sekali dalam satu agama, tetapi tidak dikenal dalam agama lain, dan demikian juga sebaliknya. Kecuali itu suatu acara upacara biasanya mengandung suatu rangkaian yang terdiri dari sejumlah unsur tersebut, misalnya untuk kesuburan tanah, para pelaku upacara dan para pendeta berpawai dahulu menuju ke tempat-tempat bersegi, lalu mengorbankan seekor ayam, setelah itu menyajikan bunga kepada dewa kesuburan, disusul dengan do'a yang diucapkan oleh para pelaku, kemudian menyanyi bersama berbagai nyanyian-nyayian suci, dan akhirnya semuanya bersama kenduri makan hidangan yang telah disilakan dengan do'a.
Sub unsur ketiga dalam rangka religi, adalah sub unsur mengenai umat yang menganut agama/religi yang bersangkutan. secara khusus sub unsur itu meliputi misalnya soal-soal pengikut sesuatu agama, hubungannya satu dengan lain. hubungannya dengan para pemimpin agama, baik dalam saat adanya upacara keagamaan maupun dalam kehidupan sehari-hari dan akhirnya sub-unsur itu juga meliputi soal-soal seperti organisasi dari para umat, kewajiban, serta hak-hak para warganya sistem ilmu ghaib.
Dalam ilmu ghaib sering terdapat konsepsi-konsepsi dan ajaran-ajarannya: ilmu ghaib juga mempunyai sekelompok manusia yang yakin dan yang menjalankan. Ilmu gaib itu untuk mencapai suatu maksud. Upacara ilmu ghaib juga mempunyai aspek-aspek yang sama, ada pemimpin atau pelakunya, dukun, pada saat-saat tertentu yaitu hari-hari keramat, ada peralatan untuk melakukan upacara, ada tempat, tertentu di mana upacara harus dilakukan.
Walaupun pada lahirnya religi dan ilmu ghaib sering kelihatan sama, dan sukar untuk menentukan batas daripada upacara yang bersifat religi dan upacara yang bersifat ilmu ghaib, pada dasarnya ada perbedaan yang besar sekali antara kedua pokok itu. perbedaan dasarnya terletak dalam sikap manusia pada waktu ia sedang menjalankan agama, manusia bersikap menyerah diri kepada Tuhan, kepada dewa-dewa, kepada roh-roh nenek moyang, atau menyerahkan diri kepada kekuatan tinggi yang disembahnya itu.
Dalam hal ini manusia biasanya terhinggap oleh suatu emosi keagamaan. Sebaliknya, pada waktu menjalankan ilmu gaib manusia bersikap lain. ia berusaha memperlakukan kekuatan-kekuatan tinggi dan gaib agar menjalankan kehendaknya dan berbuat apa yang ingin dicapainya.





BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta agama yang berarti "tradisi". Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.
Perhatian ilmu antropologi terhadap religi sejak lama, ketika ilmu antropologi belum ada. Dan hanya merupakan suatu himpunan tulisan. Mengenai adat-istiadat yang aneh-aneh dari suku-suku bangsa di luar Eropa, religi telah menjadi suatu suku-suku bangsa di luar Eropa, religi telah menjadi suatu pokok penting dalam buku-buku para pengarang tulisan-tulisan etnografi mengenai suku-suku bangsa itu. kemudian, waktu bahan etnografi tersebut digunakan secara luas oleh dunia ilmiah, perhatian terhadap bahan mengenai upacara keagamaan itu sangat besar.
Dalam rangka sistem religi 1) sistem religi, 2) sistem ilmu ghaib. Semua aktivitas manusia yang bersangkutan dengan religi berdasarkan atas suatu getaran jiwa, yang biasanya disebut emosi keagamaan, atau religious emotion. Emosi keagamaan ini biasanya pernah dialami oleh setiap manusia, walaupun getaran emosi itu mungkin hanya berlangsung untuk beberapa detik saja. Untuk kemudian menghilang lagi. Emosi keagamaan itulah yang mendorong orang melakukan tindakan-tindakan yang bersifat religi, suatu sistem religi dalam suatu kebudayaan selalu mempunyai ciri-ciri untuk memelihara emosi keagamaan itu di antara pengikut-pengikutnya.





DAFTAR PUSTAKA


James, William. The Variaties of Religious Experience. 1937, New York: Library. Inc

Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. 2002, Jakarta: Rineka Cipta

Nottingham, Elizabeth K. Agama dan Masyarakat. 1994, Jakarta: Raja Grafindo

O.C., D. Hendropuspito. Sosiologi Agama. 1983, Yogyakarta: Konisius

Selasa, 15 Juni 2010

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Memahami masyarakat mausia merupakan upaya yang selalu menarik untuk dilakukan. Berbagai perspektif sudah ditawarkan, namun tak satupun mampu memberikan jawaban tuntas. Masing-masing perspektif selalu memberikan pemahaman yang parsial.
Di tengah-tengah kesenjangan perpektif seperti itulah etnografi hadir. Etnografi berusaha memberikan pemahaman tanpa distorsi, karena ia berangkat dari pemahaman budaya masyarakat yang ingin dipahami, bukan dari asumsi arbitrer para peniliti.
Di Indonesia, etnografi kurang dikenal oleh kalangan ilmuwan pada umumnya. Hanya mereka yang bergerak di ranah antropologi yang akrab dengan genre metode penelitian ini. Padahal, etnografi, sebagaimana ditegaskan penulis buku ini, bisa digunakan oleh semua bidang ilmu yang ada, apa pun genrenya.
Dengan tujuan memperkenalkan etnografi ke dunia di luar antropologi ( dengan tidak mengabaikan mereka yang berkecimpung dalam dunia antropologi ), maka kami merasa penting untuk membuat makalah ini. Tidak lain agar perkembangan ilmu di Indonesia tetap relevan dengan kepentingan manusi, bukan demi kepentingan ilmu itu sendiri.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apakah etnografi itu?
2. Etnografi dan kebudayaan.
3. Membuat kesimpulan budaya.
4. Untuk apa etnografi itu?
5. Bahasa dan penelitian lapangan.
6. Metode dan tekhnik pengumpulan data



BAB II
PEMBAHASAN


A. Apakah Etnografi Itu?
Etnografi berasal dari kata ethno yang berarti bangsa atau suku bangsa, dan graphy yang berarti tulisan. Jadi, etnografi berasal tulisan atau deskripsi mengenai kehidupan soial budaya suatu suku bangsa. Spradley menyatakan bahwa etnografi adalah menjelaskan suatu kebudayaan. Adapun Spindler, menyatakan bahwa etnografi adalah kegiatan antropologi di lapangan. Lebih lanjut ia menyatakan apabila seorang antropolog tidak memiliki pengalaman lapangan, ibarat seorang ahli bedah tidak memiliki pengalaman membedah.
Etnografi, diinjau secara harfiah, berarti tulisan atau laporan tentang suatu suku bangsa, yang ditulis oleh seorang antropolog atas hasil penelitian lapangan ( field work ) selama sekian bulan, ataau sekian tahun. Penelitian antropologis untuk menghasilkan laporan tersebut begitu khas, sehingga kemudian istilah etnografi juga digunakan untuk mengacu pada metode penelitian untuk menghasilkan laporan tersebut.(1)
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa etnografi bukan sekedar mengumpulkan data tentang orang atau kebudayaan, melainkan menggalinya lebih dalam lagi.
Etnografi, baik sebagai laporan penelitian maupun sebagai metode penelititan, dapat dianggap sebagai dasar dan asal-usul ilmu antropologi. Kutipan-kutipan kalimat dari beberapa tokoh besar antropologi seperti di bawah ini akan meyakinkan kita tentang kebenaran pernyataan di atas.
Margaret mead berkata,” Anthropology as a science is entirely dependent upon field work records made by individuals within living societies ” ( Antropologi sebagai sebuah ilmu pengetahuan secara keseluruhan tergantung pada laporan-laporan kajian lapangan yang dilakukan oleh indiviu-individu dalam masyarakat-masyarakat yang nyata hidup )
James Spradley mengatakan bahwa “ Ethnograpic fieldwork is the hallmark of cultural anthropology “ ( Kajian lapangan etnografi adalah tonggak antropologi cultural ). Jadi singkatnya, belajar tentang etnografi berarti belajar tentang jantung dari ilmu antropologi, khususnya antropologi sosial.
Ciri-ciri khas dari metode penelitian lapangan etnografi ini adalah sifatnya yang holistic-integratif, thick description, dan analisis kualitatif dalam rangka mendapatkan native’points of view ( bersifat holistic atau menyeluruh ). Artinya, kajian etnografi tidak hanya mengarahkan perhatiannya pada salah satu variable tertentu saja. Bentuk holistic didasarkan pada pandangan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan system yang terdiri dari satu kesatuan yang utuh. Teknik pengumpulan data yang utama adalah observasi-partisipasi dan wawancara terbuka dan mendalam, yang dilakukan dalam jangka waktu yang relative lama, bukan kunjungan singkat dengan daftar pertanyaan yang terstruktur seperti pada penelitian survey.
Jadi, etnografi adalah upaya untuk mendeskripsikan kebudayaan. Kebudayaan baik secara implicit maupun secara eksplisit terungkap melalui bahasa. Bahasa merupakan alat utama untuk menyebarkan kebudayaan dari satu generasi ke generasi berikutnya yang ditulis dalam bentuk linguistic. Sehingga, dalam studi etnografi, ethnolinguistik berfungsi untuk menggali kebudayaan.

B. Etnografi dan Kebudayaan
Penelitian lapangan merupakan cirri dari antropologi budaya. Baik disebuah desa di Papua Nugini maupun di jalan-jalan New York, ahli antropologi berada di tempat di mana penduduk tinggal dan “ melakukan penelitian lapang “ (2). Ini berarti dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan, menikmati berbagai masakan asing baginya, mempelajari bahasa baru, menyaksikan berbagai upacara, membuat catatan lapangan, mencuci pakaian, menulis surat kerumah, melacak garis keturunan , mengamati pertunjukkan, mewawancarai informan, dan berbagai hal lainya. Berbagai macam aktifitas ini seringkali mengaburkan tugas utama, yaitu melakukan penelitian etnografi. Makalah ini akan berusaha untuk menjelaskan tugas utama penelitian lapangan antropologi. Pada bagian ini kami akan berusaha menelusuri makna etnografi secara mendetail. Dan bagian berikutnya akan membahas bagaimana melakukan wawancara etnografi.
Etnografi merupakan pekerjaan mendeskripsikan suatu kebudayaan(3). Tujuan utama aktifitas ini adalah memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli. Sebagaimana dikemukakan oleh oleh Malinowski, tujuan etnografi adalah memahami sudut pandang penduduk asli, hubungannya dengan kehidupan, untuk mendapatkan pandangannya mengenai dunianya. Oleh karena itu, penelitian etnografi melibatkan aktifitas belajar mengenai dunia yang orang yang telah belajar melihat, mendengar, berpikir dan bertindak dengan cara-cara yang berbeda. Tidak hanya mempelajari masyarakat, lebih dari itu, etnografi berarti belajar dari masyarakat.
Inti dari etnografi adalah upaya memperhatikan makna tindakan dari kejadian yang menimpa orang yang ingin kita pahami. Beberapa makna ini terekspresikan na ini terekspresikan secara langsung dalam bahasa dan banyak diterima dan disampaikan hanya secara tidak langsung melaui kata dan perbuatan. Tetapi dalam setiap masyarakat, orang tetap menggunakan system makna yang kompleks ini untuk mengatur tingkah laku mereka, untuk memahami diri mereka sendiri dan untuk memahami orang lain., serta untuk memahami dunia di mana mereka hidup. System makna ini merupakan kebudayaan mereka, etnografi selalu mengimplikasikan teori kebudayaan.

C. Membuat Kesimpulan Budaya
Kebudayaan, sebagai pengetahuan yang dipelajari orang sebagai anggota dari suatu kelompok, tidak dapat diamati secara langsung. Orang-orang dimana mempelajari kebudayaan mereka dengan mengamati orang lain, mendengarkan mereka, dan kemudian membuat kesimpulan. Etnografer melakukan hal yang sama, yaitu dengan memahami hal yang dilihat dan didengarkan untuk menyimpulkan hal yang diketahui orang. Perbuatan ini meliputi pemikiran atas kenyataan/hal yang kita pahami atau atas hal yang kita asumsikan.anak-anak memperoleh kebudayaan mereka dari orang dewasa dan membuat kesimpulan mengenai berbagai aturan budaya untuk bertingkah laku, dengan kemahiran bahasa, proses belajar itu akan semakin cepat.
Dalam melakukan kerja lapangan, etnografer membuat kesimpulan kebudayaan dari 3 sumber:
• Dari hal yang dikatakan orang
• Dari cara orang bertindak
• Dari berbagai artefak yang digunakan orang
Penting untuk diungkapkan bahwa mempelajari budaya yang eksplisit dengan menggunakan cara orang berbicara tidak menghilangkan perlunya kita membuat kesimpulan. Mempelajari budaya eksplisit hanya mempermudah tugas yang harus dilakukan
Bagaimanapun, sebagian besar kebudayaan terdiri atas pengetahuan implicit. Kita mengetahui semua berbagai hal sehingga kita tidak dapat menceritakan atau mengungkapkan secara langsung. Etnografer kemudian harus membuat kesimpulan mengenai hal yang diketahui orang dengan cara mendengarkan yang mereka katakan, dengan mengamati tingkah laku mereka, dan dengan mempelajari berbagai artefak dan manfaatnya. Dengan merujuk pada penemuan pengetahuan budaya yang implicit itu.
Seringkali etnografi menggunakan hal yang dikatakan oleh orang dalam upaya untuk mendeskripsikan budayaan mereka. Kebudayaan yang baik implicit maupun eksplisit terungkap melalui perkataan, baik dalam komentar sederhana maupun dalam wawancara panjang. Karena bahasa merupakan alat utama untuk menyebarkan kebudayaan dari Satu generasi ke generasi berkutnya, kebanyakan kebudayaan dituliskan dalam bentuk linguistic.


D. Untuk Apa Etnografi Itu?
Etnografi adalah suatu kebudayaan yang mempelajari kebudayaan lain. Etnografi merupkan suatu bangunan pengetahuan yang meliputi teknik penelitian, teori etnografi, dan berbagai macam deskripsi kebudayaan. Etnografi berulang kali bermakna untuk membangun suatu pengertian yang sistematik mengenai semua kebudayaan manusia dari perspektif orang yang telah mempelajari kebudayaan itu. Etnografi didasarkan pada asumsi berikut : pengetahuan dari semua kebudayaan sangat tinggi nilainya. Asumsi ini membutuhkan pengujian yang cermat. Untuk tujuan apa etnografer mengumpulkan informasi? Untuk alasan apakah kita berusaha menemukan apa yang harus diketahui orang untuk melintasi salju di kutub dengan kereta luncur yang ditarik dengan anjing, hidup di desa Malenesia yang jauh, atau bekerja diberbagai pencakar langit di New York? Siapa saja harus melakukan etnografi?

• Memahami Rumpun Manusia
Kita mulai dengan tujuan antropologi sosial, yaitu untuk mendeskripsikan dan menerangkan keteraturan serta berbagai variasi tingkah laku sosial. Mungkn gambaran paling menonjol dari manusia adalah divertasinya. Mengapa suatu rumpun ini menunjukkan suatu variasi semacam itu, menciptakan pola perkawinan yang berbeda, meengkonsumsi makanan yang berbeda, mempercayai tuhan yang berbeda?dsb.. jika kita harus memahami diversitas ini maka kita harus mulai dengan mendeskripsikannya secara hati-hati. Kebanyakan diversitas dalam rum harus memahami divertasi ini maka kita harus mulai dengan mendeskripsikannya secara hati-hati. Kebanyakan diversitas dalam rumpun manusia muncul, karena diversitas suatu generasi ke generasi berikutnya. Deskripsi kebudayaan, sebagai tugas utama dari etnografi, merupakan langkah pertama dalam memahami rumpun manusia.
Oleh karena itu, dalam pengertian yang paling umum, etnografi memberikan sumbangan secara langsung dalam deskripsi dan penjelasan keteraturan serta evaluasi dalam tingkah laku sosial manusia. Banyak ilmu sosial memiliki tujuan yang lebih terbatas. Dalam studi tingkah laku manapun, etnografi mempunyai peranan penting. Kita dapat mengidentifikasikan beberapa sumbangannya yang khas.
Menginformasikan teori-teori ikatan budaya. Masing-masing kebudayaan memiliki cara untuk melihat dunia. Kebudayaan memmberikan kategori, tanda, dan juga mendefinisikan dunia dimana orang itu hidup. Kebudayaan mengandung berbagai asumsi mengenai sifat dasar realitas dan juga informasi yang spesifik mengenai realitas itu. Kebudayaan mencakup nilai-nilai yang menspesifikasikan hal yang baik, benar, dan bisa dipercaya.. apabila orang mempelajari kebudayaan, maka sanpai batas-batas tertentu dai terpenjara tanpa mengetahuinya. Para ahli antropologi mengatakan ha ini sebagai “ikatan budaya” ( culture bond ), yaitu hidup dalam realitas tertentu yang dipandang sebagai “ realitas “ yang benar.
Etnografi sendiri tidak lepas dari ikatan budaya. Namun, etnografi memberikan deskripsi yang mengungkapkan berbagai model penjelasan yang diciptakan oleh manusia. Etnografi dapat berperan sebagai penunjuk yang menunjukkan sifat dasar ikatan budaya teori-teori ilmu sosial.
Memahami masyarakat yang kompleks(3). Sampai sekarang ini, etnografi umumnya diturunkan ke berbagai kebudayaan kecil, non barat. Nilai untuk mempelajari masyarakat seperti ini sudah dapat diterima. Bagaimanapun, kita tidak banyak tahu tentang mereka, kita tidak dapat melakukan melakukan survey atau eksperimen, sehing etnografi tampaknya tepat. Tapi nilai etnografi dalam memahami kebudayaan kita sendiri sering kali diabaikan.

E. Bahasa dan Penelitian Lapangan
Bahasa memegang peran penting dalam pengalaman manusia. Dalam membuat etnografi, bahasa menyusuan catatan lapangan kita dan masuk kedalam setiap alisis dan wawasan . bahasa menyerap pertemuan kita dengan informan. Apapun yang pendekatan yang digunakan etnografer ( pengamatan terlibat,wawancara etnografis, mengumpulkan kisah-kisah kehidupan, campuran dari berbagai strategi) bahasa masuk kedalam setiap fase proses penelitian. Etnografer paling tidak dihadapkan pada dua bahasa ( bahasa mereka sendiri dan bahasa yang digunakan informan ). Jika kita membagi pekerjaan etnografi menjadi dua tugas utama, yaitu penemuan dan deskripsi, maka kita dapat melihat dengan jelas peran penting yang dimainkan oleh bahasa.

1. Bahasa dan Penemuan
Bahasa lebih dari sekedar alat mengkomuniaksikan realitas, nahasa merupakan alat menyusun realitas. Bahasa yang berbeda menciptakan dan mengekspresikan realitas yang berbeda. Bahasa yang berbeda memberikan pola-pola alternative untuk berpikir dan memahami. Dalam upaya untuk menemukan realitas budaya suatu kelompok penduduk tertentu, etnografer menghadapi satu pertanyaan penting; Bahasa apa yang akan saya gunakan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mencatat makna-makna yang saya temukan? Jawaban atas pertanyaan ini mempunyai implikasi yang sangat dalam bagi seluruh perkerjaan etnografis.
Karena etnografi pada mulanya dilakukan terhadap masyarakat non-Barat, maka mempelajari bahasa penduduk asli menduduki priritas tertinggi. Mempelajari bahasa menjadi dasar dari penelitian lapangan. Mempelajari bahasa merupakan langkah paling awal dan penting utuk mencapai tujuan utama etnografi mendeskripsikan suatu kebudayaan dengan batasan-batasan sendiri.


2. Bahasa dan Deskripsi Etnografi
Hasil akhir dari pembuatan etnografi adalah suatu deskripsi verbal mengenai situasi budaya yang dipelajari. Bahkan film-fil etnografi tidak mendeskripsikan tanpa berbagai statemen verbal yang memberitahu penonton hal-hal yang dapat dilihat orang yang difilmkan dan bagaimana mereka dapat menginterpretasikan suasana yang disajikan.
Oleh karena itu, deskripsi etnografi, tak dapat disangkal lagi melibatkan bahasa. Etnografer biasanya menulis dalam bahasa asli yang digunakannya atau dalam bahasa khalayak khususnya seperti mahasiswa, ahli, atau masyarakat umum. Tapi, bagaimana mungkin mendeskripsikan suatu budayadalam istila-istilahnya sendiri sementara menggunakan bahasa asing? Jawabannya terletak pada kenyataan bahwa setiap deskripsi etnografi merupakan suatu terjemahan. Demikianlah deskripsi etnografi harus menggunakan istilah-istilah asli ( native ) dan makna-maknanya juga menggunakan istilah yang digunakan oleh etnografer.

F. Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa metode adalah cara kerja yang bersistem (teratur) untuk mempermudah suatu kegiatan, atau untuk mencapai suatu hasil yang sudah ditentukan. Metode yang cocok untuk studi etnografi antara lain :

1. Metode observasi/ pengamatan
Metode observasi disebut juga metode pengamatan lapangan. Metode ini dilakukan melalui pengamatan inderawi., yaitu dengan melakukan pencatatan terhadap gejala-gejala pada objek penelitian secara langsung dilapangan.
Pada metode ini pengumpulan data dilakukan dengan mencatat semua kejadian atau fenomena yang diamatai ke dalam catatan lapangan ( field notes ).

a. Jenis-jenis metode pengamatan
Ada tiga macam jenis pengamatan, yaitu :

1. Pengamatan biasa
Pengamatan yang dilakukan tanpa terlibat atau kontak langsung dengan informan yang menjadi sasaran penelitiannya.
2. Pengamatan terkendali
Konsepnya hampir sama dengan pengamatan biasa. Akan tetapi perbedaanya pada metode ini peneliti terlebih dahulu memilih secara khusus calon informan sehingga mudah untuk diamati.
3. Pengamatan terlibat
Atau bisa disebut pengamatan partisipasi, yaitu metode di mana selain mengamati, peneliti juga ikut terlibat dalam kegiatan yang berlangsung serta mengadakan hubungan emosional dan soial dengan para informannya. Metode yang dalam bahasa Jerman disebut “verstehen” ini merupakan metode paling umum digunakan dalam penelitian etnografi.
4. Pengamatan penuh
Yaitu penelitian mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang sedang diteliti. Peneliti sudah diterima dan masuk ke dalam struktur masyarakat yang diamatinya. Dalam kondisi seperti ini, peneliti dapat dengan mudah bergaul.

b. Keuntungan dan Kelemahan Metode Pengamatan
Adapun keuntungan dan kelemahan metode observasi adalah :
1. Keuntungannya antara lain :
• Data yang diperoleh adalah data langsung dari informan (data primer).
• Data yang diperlukan diperoleh dalam waktu yang relative singkat.

2. Kelemahannya antar lain :
• Terbatasnya kemampuan pengamatan menyebabkan banyak informasi yang terlewat.
• Terbatasnya dana dan waktu dikarenakan factor jarak yang jauh dari tempat peneliti.

c. Prinsip-prinsip pengamatan
Beberapan prinsip yang harus diperhatikan oleh para peneliti sebelum mengadakan pengamatan, antara lain :
• Pengamatan harus dilakukan secara cermat, jujur, objectife, serta terfokus.
• Mempertimbangkan luas-tidaknya objek yang diteliti. Yang perlu diingat adalah semakin banyak objek yang diamati, maka pengamatan semakin sulit dilakukan.
• Menentukan cara dan prosedur pengamatan terlebih dahulu.
• Merencanakan apa saja yang akan dicatat serta bagaimana cara membuat catatan pengamatan.


2. Metode wawancara
Wawancara etnografi merupakan jenis peristiwa percakapan (speech event) yang khusus(5). Metode wawancara merupakan metode untuk memperoleh data dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada informan.

a. Jenis-jenis Wawancara

1. Wawancara berencana, yaitu wawancara yang dilaksanakan melalui teknik-teknik tertentu, antara lain menyusun sejumlah pertanyaan sedemikian rupa dalam bentuk angket questioner.
2. Wawancara tidak berencana, yaitu wawancara yang tidak direncanakan secara sistematis dan tidak menggunakan pedoman wawancara. Wawancara ini dilaksanakan untuk memperoleh tanggapan tentang pandangan hidup, system keyakinan, atau keagamaan.
Metode wawancara tidak berencana masih terbagi lagi menjadi 2 macam yaitu :
a. Wawancara terfokus (focused interview), yaitu terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak berstruktur, tetapi terpusat pada satu pokok.
b. Wawancara bebas (free interview), yaitu pertanyaan yang tidak terpusat, melainkan dapat berpindah-pindah pokok pertanyaan.
Adapun jika dilihat dari bentuk pertanyaannya, kedua wawancara di atas dapat dibagi lagi menjadi 2 kategori yaitu :
1. Wawancara tertutup, yaitu terdiri dari berbagai pertanyaan yang jawabannya terbatas. Terkdang pilihan jawaban hanya berbentuk “ya” dan “tidak”.
2. Wawancara terbuka, yaitu pertanyaan yang jawabannya berupa keterangan atau cerita yang luas.

b. Keuntungan dan Kelemahan Metode wawancara :

1. Keuntungannya antara lain :
• Data yang diperoleh sesuai dengan harapan dan tujuan peneliti.
• Dapat memperoleh data yang sifatnya pribadi.
• Akan terjadi hubungan yang baik (rapport) antara pewawancara dengan yang diwawancarai.

2. Kelemahannya antar lain :
• Memerlukan waktu yang cukup lama.
• Memerlukan biaya yang cukup besar.
• Sulit mencari waktu yang tepat untuk mengadakan wawancara.


c. Teknik Bertanya dalam Wawancara
Seorang peneliti dalam melakukan wawancara, baik yang sifatnya tertutup maupun terbuka, harus memperhatikan beberapa ketentuan berikut :
• Menghindari kata-kata yang mempunyai dua arti kata atau lebih.
• Menghindari pertanyaan-pertanyaan panjang.
• Membuat pertanyaan sekonkrit mungkin dengan penunjuk waktu dan lokasi yang konkret pula.
• Mengajukan peratnyaan yang mengenai pengalaman konkret informan.
• Membatasi alternative jawaban. Hal ini dilakukan agar informan tidak bingung dan dapat menjawab peratanyaan dengan baik.
• Dalam wawancara tentang hal-hal yang membuat informan canggung dan malu, peneliti hendaknya menghaluskan beberapa istilah.

d. Tahapan Wawancara
Dalam melakukan wawancara, peneliti harus memahami terlebih dahulu beberapa tahapan yang harus dilaui. Hal ini bertujuan untuk agar ketika peneliti terjun kelapangan untuk mengadakan wawancara, peneliti tidak canggung sehingga proses wawancara dapat berjalan lancer. Beberapa tahapan yang harus dilalui antara lain :
1. Tahap persiapan
Pada tahap ini, pewawancara menyeleksi terlebih dahulu informan, kemudian mengadakan pendekatan terhadap individu yang telah diseleksi, serta membina komunkasi yang baik dengan tujuan agar informan bersedia menjwab dengan jujur, objektif, kooperatif, dan memberikan informasi sebanyak-banyaknya.
2. Tahap pelaksanaan
Ketika akan memulai wawancara, peneliti hendaknya menjelaskan identitas pribadi, maksud dan tujuan wawancara, serta sifat wawancara (rahasia atau tidak).
3. Tahap Pencatatan
Pencatatan data wawancara dapat dilakukan melalui 5 cara, yaitu :
• Pencatatan langsung pada saat wawancara.
• Pencatatan dengan ingatan.
• Pencatatan dengan alat perekam.
• Pencatatan dengan field rating.
• Pencatatan dengan field coding.





INDEKS

1. James P.Spradley, metode etnografi (Jakarta : PT. Tiara Wacana Yogya, 1997), hlm. Xv

2. Freilich (1970), Kimbal dan Watson (1972), dan Splinder (1970)

3. Istilah etnografi digunakan untuk menunjukkan aktivitas mempelajari kebudayaan dan dengan produk akhir sebuah etnografi.

4. Manis dan Meltzer (1967), Blumer (1969), pengantar perspektif teoritis.

5. James P.Spradley, metode etnografi (Jakarta : PT. Tiara Wacana Yogya, 1997), hlm. xv





BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Etnografi, diinjau secara harfiah, berarti tulisan atau laporan tentang suatu suku bangsa, yang ditulis oleh seorang antropolog atas hasil penelitian lapangan ( field work ) selama sekian bulan, ataau sekian tahun. Penelitian antropologis untuk menghasilkan laporan tersebut begitu khas, sehingga kemudian istilah etnografi juga digunakan untuk mengacu pada metode penelitian untuk menghasilkan laporan tersebut.
Etnografi merupakan pekerjaan mendeskripsikan suatu kebudayaan. Tujuan utama aktifitas ini adalah memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli. Sebagaimana dikemukakan oleh oleh Malinowski, tujuan etnografi adalah memahami sudut pandang penduduk asli, hubungannya dengan kehidupan, untuk mendapatkan pandangannya mengenai dunianya. Oleh karena itu, penelitian etnografi melibatkan aktifitas belajar mengenai dunia yang orang yang telah belajar melihat, mendengar, berpikir dan bertindak dengan cara-cara yang berbeda. Tidak hanya mempelajari masyarakat, lebih dari itu, etnografi berarti belajar dari masyarakat.
Etnografi adalah suatu kebudayaan yang mempelajari kebudayaan lain. Etnografi merupkan suatu bangunan pengetahuan yang meliputi teknik penelitian, teori etnografi, dan berbagai macam deskripsi kebudayaan.
Selain menggunakan metode observasi partisipasi dan wawancara, studi etnografi juga dapat dilakukan melalui fieldwork sendiri dalam waktu yang cukup lama. Dalam studi etnografi, istilah bagi orang yang diwawancarai oleh antropolog adalah informan kerena fungsinya sebagai pemberi informasi mendalam (depth interview) dalam pertanyaan terbuka.
Bahasa memegang peran penting dalam pengalaman manusia. Dalam membuat etnografi, bahasa menyusuan catatan lapangan kita dan masuk kedalam setiap alisis dan wawasan . bahasa menyerap pertemuan kita dengan informan. Apapun yang pendekatan yang digunakan etnografer ( pengamatan terlibat,wawancara etnografis, mengumpulkan kisah-kisah kehidupan, campuran dari berbagai strategi) bahasa masuk kedalam setiap fase proses penelitian. Etnografer paling tidak dihadapkan pada dua bahasa ( bahasa mereka sendiri dan bahasa yang digunakan informan ). Jika kita membagi pekerjaan etnografi menjadi dua tugas utama, yaitu penemuan dan deskripsi, maka kita dapat melihat dengan jelas peran penting yang dimainkan oleh bahasa.




DAFTAR PUSTAKA


Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Spradley, James.P. 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta : Tiara Wacana Yogyakarta