Tampilkan postingan dengan label Penelitian Kualitatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penelitian Kualitatif. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Januari 2014

ANALISIS DATA DAN CODING

A.    Anallisis Data
Analisis data kualitatif (Bodgan dan Biklen, 1982) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya meenjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang penting dan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Proses analisis data kualitatif menurut Siddel adalah sebagai berikut:
1.      Membuat catatan lapangan, dengan hal member kode sumber datanya tetap dapat ditelusuri,
2.      Mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan, mensintesiskan, membuat ikhtisar, dan membuat indeksnya,
3.      Berpikir, dengan cara membuat kategori data yang bermakna, mencari dan menemukan pola dan hubungan serta membuat temuan-temuan umum.

Sedangkan tahapan analisis data menurut Janice McDrury adalah sebagai berikut:
1.      Membaca/mempelajari data, menandai kata-kata kuncidan gagasan yang ada dalam data,
2.      Mempelajari kata-kata kunci dan berupaya menemukan tema-tema yang berasal dari data,
3.      Menuliskan ‘model’ yang ditemukan,
4.      Koding yang telah dilakukan.

Komponen-komponen yang perlu ada dalam analisis data antara lain:
1.      Pemrosesan Satuan
Pemrosesan satuan terdiri atas tipologi satuan dan penyusunan satuan.
a.       Tipologi satuan, satuan suatu latar social yang berfungsi untuk menentukan dan mendefinisikan kakegori. Patton membedakan jenis tipe satuan menjadi tipe asli yang menggunakan perspektif emik dalam antropologi, dan tipe hasil konstruksi analis yang digunakan subyek untuk merinci kompleksitas kenyataan dalam bagian- bagian.
b.      Penyusunan satuan,yaitu pemasukan data ke dalam kartu indeks dan hendaknya dapat dipahami oleh orang lain.   
2.      Kategorisasi
a.       Fungsi dan prinsip kategorisasi, tugas pokoknya adalah mengelompokkan, merumuskan dan menjaga agar setiap kategori yang disusun mengikuti prinsip taat asas.
b.      Langkah-langkah kategorisasi, metode yang digunakan berdasar atas metode analisis komperatif.
3.      Penafsiran Data
a.       Tujuannya meliputi tujuan deskriptif semata-mata (menerima dan menggunakan teori yang sudah ada), tujuan deskriptif analitik (pengembangan kategori dan hubungan yang muncul dari data) dan tujuan teoti substantive (gabungan teori untuk mendapat teori yang baru).
b.      Proses umum dan penafsiran data, yaitu menuliskan teori dengan bahasa disiplin sendiri dengan metode tertentu.
c.       Peranan hubungan kunci dalan pehafsiran data,yaitu suatu metafora, model, kerangka umum, pola yang menolak atau garis riwayat sebagai aturan untuk digunakan sebagai criteria inklusi-ekslusi.
d.      Peranan interogasi terhadap data, yaitu mengajukan seperangkat pertanyaan pada data sehingga terungkaplah banyak persoalan dari data itu sendiri.
e.       Langkah-langkah penafsiran data dengan menggunakan metode analisis komparatif dalam rangka penyusunan teori substantif.

Model analisis data meliputi:
1.      Hermeneutik ; dialektik antara pemahaman teks secara menyeluruh dan interpretasi bagian-bagiannya yang deskripsinya bermakna dengan dibimbing oleh penjelasan yang diperkirakan.
2.      Semiotic : berkaitan dengan makna dari tanda dan symbol dalam bahasa dengan bentuk analisis konten, analisis pembicaraan dan analisis wacana.
3.      Narasi : menceritakan tayangan fakta maupun dongeng yang telah diceritakan oleh orang pertama.
4.      Metafora : aplikasi nama atau deskripsi frasa atau istilah pada sesuatu objek atau tindakan yang tidak diaplikasikan secara sebenarnya.

B.     Koding
Langkah penting sebelum analisis dilakukan adalah membubuhkan kode-kode pada materi yang telah diperoleh.. koding atau pengkodeandimaksudkan untuk dapat meengorganisasi dan mensistematisasi data secara lengkap dan mendetail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topic yang dipelajari.
Secara praktis dan efektif, langkah awal koding dapat dilakukan melalui 3 tahapan yaitu:
1.      Peneliti menyusun transkripsi verbatif (kata demi kata) atau catatan lapangan dengan memberikan kolom kosong di sebelah kiri dan kanan transkrip,
2.      Melakukan penomeran secara kontinyu melakukan penomoran pada baris-baris transkrip atau catatan lapangan tersebut,
3.      Peneliti memberikan nama pada masing-masing berkas dengan kode-kode tertentu, kode yang dipilih haruslah kode yang mudah diingat dan dianggap paling tepat mewakili berkas tersebut serta jangan lupa menuliskan tanggal di setiap berkas.
Koding sangatlah penting dalam penelitian kualitatif guna memudahkan peneliti dalam menarasikan dan menganalisis data secara sistematis serta menemukan kembali data-data yang mungkin terlupakan dengan melihat catatan lapangan yang telah dibuat sebelumnya.



MACAM-MACAM PENELITIAN KUALITATIF

A.    MACAM-MACAM METODE PENELITIAN KUALITATIF
Dalam penelitian kualitatif ada lima ciri utama yang dimilikinya, meskipun pada kenyataannya dalam penelitian kualitatif tidak memperlihatkan semua ciri tersebut. Adapun lima ciri tersebut:
1.       penelitian kualitatif mempunyai setting alami sebagai sumber data langsung dan peneliti kebidanan adalah instrument utamanya
2.       penelitia kualittatif bersifat diskriptif, yaitu data yang terkumpul berbentuk kata-kata , gambar bukan angka-angka
3.       penelitian kualitatif lebih menekankan proses kerja , yang seluruh fenomena yang dihadapi diterjemahkan dalam kegiatan sehari-hari, terutama yang berkaitan langsung dengan kebidanan
4.       penelitian kualitatif cenderung menggunakan pendekatan induktif
5.       penelitian kualitatif memberi titik tekan pada makna, yaitu fokus penelaahan terpaut langsung dengan masalah kehidupan manusia.
Aplikasi metode kualitatif dalam penelitian ilmu-ilmu sosial dilakukan dengan langkah-langkah yaitu merumuska masalah sebagai fokus penelitia kebidanan, mengumpulkan data lapangan, menganalisis data, merumuskan hasil studi, dan menyuusun rekomendasi untuk perbaikan kinerja dalam bidang ini

B. METODE-METODE PENELITAIAN KUALITATIF.
1.       Penelitian Fenomenologi Penelitian fenomenologi bersifat induktif. Pendekatan yang dipakai adalah deskriptif yang dikembangkan dari filsafat fenomenologi. Fokus filsafat fenomenologi adalah pemahaman tentang respon atas kehadiran atau kebaradaan manusia, bukan sekedar pemahaman atas bagian-bagian yang spesifik atau prilaku khusus. Tujuan penelitian fenomenologikal adalah menjelaskan pengalama-pengalaman apa yang dialami seseorang dalam kehidupan ini, termasuk interaksinya dengan orang lain.Contoh penelitian fenomenologi atau study mengenai daur hidup masyarakat tradisional dilihat dari perspektif kebiasaan hidup sehat 
2.       Penelitian Teori Grounded
 penelitian grounded adalah tehnik penelitian induktif. Tekhnik ini pertama kali digagas oleh Strauss dan sayles pada tahun 1967.Pendekatan penelitian ini bermaslahat dalam menemukan problem-problem yang muncul dalam situasi kebidanan dan aplikasi proses-proses pribadi untuk menanganinya.Metodologi teori ini menekankan observasi dan mengembangkan basis praktik hubungan ”intuitif” antara variabel.Proses penelitian ini melibatkan formulasi,pengujian,dan pengembangan ulang proposisi selama penyusunan teori
3.       Penelitian Etnograf
Penelitian tipe ini berusaha memaparkan kisah kehidupan keseharian orang-orang yang dalam kerangka menjelaskan fenomena budaya itu, mereka menjadi bagian integral lainnya. Pada penelitian ini pengumpulan data dilakukan secara sistematis dan deskriptif. Analisis data dilakukan untuk mengembangkan teori prilaku kultural.Dalam penelitian etnografi, peneliti secara aktuyal hidup atau menjadi bagian dari seting budaya dalam tatanan untuk mengumpulkan data secara sistematis dan holistik. Melalui penelitian ini perbedaan-perbedaan budaya dijelaskan, dibandingkan untuk menambah pemahaman atas dampak budaya pada perilaku atau kesehatan manusia.
4.       Penelitian Historis
Penelitian historis adalah penelitian yang dimaksudkan untuk merekonstruksi kondisi masa lampau secara objktif, sistematis dan akurat. Melalui penelitian ini, bukti-bukti dikumpulkan , dievaluasi, dianalisis dan disintesiskan. Selanjutnya, berdasarkan bukti-bukti itu dirumuskan kesimpulan. Adakalanya penelitian historis digunakan untuk menguji hipotesis tertentu.Misalnya,hipotesis mengenai dugaan adanya kesamaan antara sejarah perkembangan pendidikan dari satu negara yang mengalami hegemoni oleh penjajah yang sama.
Penelitian historis biasanya memperoleh data melalui catatan catatan artifak, atau laporan-laporan verbal. Ada beberapa ciri dominan penelitian histories

Secara lebih rinci Patton (1990 : 88) mengemukakan-penamaan-  macam-macam  penelitian kualitatif (Qualitative inquiry) berdasarkan tradisi teoritisnya  yang diuraikan dalam bentuk tabel sebagai berikut :
Tabel 1.
variety in qualitative Inquiry : Theoritical traditions
No
Perspektif
Akar Ilmu
Pertanyaan Utama
1
Ethnography
Anthropology
Apa kebudayaan masyarakat ini ?
2
Phenomenology
Philosophy
Apa struktur dan esensi pengalaman atas gejala-gejala ini bagi masyarakat tersebut?
3
Heuristics
Psikologi Humanistik                         
Apa pengalaman saya mengenai gejala-gejala ini dan apa pengalaman essensial bagi yang lain yang juga mengalami gejala ini secara intens ?
4
Ethnomethodology
Sosiology
Bagaimana orang memahami kegiatan sehari-hari mereka sehingga berprilaku dengan cara yang dapat diterima secara sosial ?
5
Symbolic interactionism
Psikologi sosial
Apa simbul dan pemahaman umum yang telah muncul dan memberikan makna bagi interaksi sosial masyarakat ?

6
Echological Psychology
Psikologi lingkungan
Bagaimana  orang-orang mencapai tujuan mereka melalui prilaku tertentu dalam lingkungan yang tertentu ?              
7
System theory
interdisipliner
Bagaimana  dan kenapa sistem ini berfungsi secara keseluruhan ?
8
Chaos theory: non -linier dynamics
Fisika teoritis : ilmu-ilmu alam
Apa yang mendasari keteraturan gejala-gejala yang tak teratur jika ada ?
9
Hermeneutics
Teologi, filsafat, kritik sastra
Apa kondisi-kondisi yang melahirkan prilaku atau produk yang dihasilkan yang memungkinkan penafsiran makna ?
10
Orientaional, qualitative
Ideologi, ekonomi politik
Bagimana perspektif ideologi seseorang berujud dalam suatu gejala ?

Dalam perkembangannya, belakangan ini nampaknya istilah penelitian kualitatif telah menjadi  istilah yang dominan dan baku, meskipun mengacu pada istilah yang berbeda dengan pemberian karakteristik yang   berbeda pula, namun bila dikaji lebih jauh semua itu lebih bersifat saling melengkapi/memperluas dalam suatu bingkai  metodologi penelitian kualitatif.
Oleh karena itu dalam wacana metodologi  penelitian, umumnya  diakui terdapat dua paradigma utama dalam metodologi  penelitian yakni paradigma positivist (penelitian kuantitatif) dan paradigma naturalistik (penelitian kualitatif), ada ahli yang memposisikannya secara diametral, namun ada juga yang mencoba menggabungkannya baik dalam makna integratif maupun bersifat komplementer, namun apapun kontroversi yang terjadi kedua jenis penelitian tersebut memiliki perbedaan-perbedaan baik dalam tataran filosofis/teoritis maupun   dalam tataran praktis pelaksanaan  penelitian, dan justru dengan perbedaan tersebut akan nampak kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga seorang peneliti akan dapat lebih mudah memilih metode yang akan diterapkan apakah metode kuantitatif atau metode kualitatif dengan memperhatikan obyek penelitian/masalah yang akan diteliti serta mengacu pada tujuan penelitian yang telah ditetapkan.                                     
Meskipun dalam tataran praktis perbedaan antara keduanya seperti nampak sederhana dan hanya bersifat teknis, namun  secara esensial keduanya mempunyai landasan epistemologis/filosofis yang sangat berbeda. Penelitian kuantitatif merupakan pendekatan penelitian yang mewakili paham positivisme, sementara itu penelitian kualitatif  merupakan pendekatan penelitian yang mewakili paham naturalistik (fenomenologis).  Untuk lebih memahami landasan filosofis kedua paham tersebut, berikut ini akan diuraiakan secara ringkas kedua aliran faham tersebut.

1.1. Positivisme
Positivisme merupakan aliran filsafat yang dinisbahkan/ bersumber dari  pemikiran Auguste Comte seorang folosof  yang lahir di Montpellier Perancis pada tahun 1798, ia seorang yang sangat miskin, hidupnya banyak mengandalkan sumbangan dari murid dan teman-temannya antara lain  dari folosof inggeris John Stuart Mill (juga seorang akhli ekonomi), ia meninggal pada tahun 1857. meskipun demikian pemikiran-pemikirannya cukup berpengaruh yang dituangkan dalam tulisan-tulisannya antara lain Cours de Philosophie Positive (Kursus filsafat positif) dan Systeme de Politique Positive (Sistem politik positif).

1.2. Fenomenologi
Dalam faham fenomenologi sebagaimana diungkapkan oleh Husserl, bahwa kita harus kembali kepada benda-benda itu sendiri (zu den sachen selbst), obyek-obyek harus diberikan kesempatan  untuk berbicara melalui deskripsi fenomenologis guna mencari hakekat gejala-gejala (Wessenchau). Husserl berpendapat bahwa kesadaran bukan bagian dari kenyataan  melainkan asal kenyataan, dia menolak bipolarisasi  antara kesadaran dan alam, antara subyek dan obyek, kesadaran tidak menemukan obyek-obyek, tapi obyek-obyek diciptakan oleh kesadaran.
Berkaitan dengan hakekat obyek-obyek, Husserl berpandapat bahwa untuk menangkap hakekat obyek-obyek diperlukan tiga macam reduksi guna menyingkirkan semua hal yang mengganggu dalam mencapai wessenchau yaitu:  Reduksi pertama. Menyingkirkan segala sesuatu yang subyektif, sikap kita harus obyektif, terbuka untuk gejala-gejala yang harus diajak bicara. Reduksi kedua. Menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diperoleh dari sumber lain, dan semua teori dan hipotesis yang sudah ada Reduksi ketiga. Menyingkirkan seluruh tradisi pengetahuan. Segala sesuatu yang sudah dikatakan orang lain harus, untuk sementara, dilupakan, kalau reduksi-reduksi ini  berhasil, maka gejala-gejala akan memperlihaaaatkan dirinya sendiri/dapat menjadi fenomin:
Dalam pandangan positivisme dari sudut ontologi meyakini bahwa realitas merupakan suatu yang tunggal dan dapat dipecah-pecah  untuk dipelajari/dipahami secara bebas, obyek yang diteliti bisa dieliminasikan dari obyek-obyek lainnya, sedangkan dalam pandangan fenomenologi kenyataan itu merupakan suatu yang utuh, oleh karena itu obyek harus dilihat dalam suatu konteks natural tidak dalam bentuk yang terfragmentasi.
Dari sudut epistemologi, positivisme mensyaratkan adanya dualisme antara subyek peneliti dengan obyek yang ditelitinya, pemilahan ini dimaksudkan agar dapat diperoleh hasil yang obyektif, sementara itu dalam pandangan Fenomenologis subyek dan obyek tidak dapat dipisahkan dan aktif bersama dalam memahami berbagai gejala. Dari sudut aksiologi, positivisme mensyaratkan agar penelitian itu bebas nilai agar dicapai obyektivitas konsep-konsep dan hukum-hukum sehingga tingkat keberlakuannya bebas tempat dan waktu, sedangkan dalam pandangan fenomenologi penelitian itu terikat oleh nilai sehinggan hasil suatu penelitian harus dilihat sesuai konteks.


“METODE OBSERVASI DAN INTERVIEW (WAWANCARA)”

A.    Observasi
Observasi berasal dari bahasa latin yang berarti “melihat” dan ”memperhatikan”. Istilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut. Observasi merupakan metode pengumpulan data esensial dalam penelitian baik secara umum pada konteks maupun dengan fokus-fokus khusus.
Tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas berlangsung, orang yang terlibat dalam aktivitas dan makna kejadian yang diamati tersebut. Deskripsi harus akurat, aktual sekaligus teliti tanpa harus dipenuhi berbagai catatan panjang lebar yang tidak relevan. Penelliti yang baik akan melaporkan hasil observasinya secara deskriptif tidak interperatif. Pengamat tidak mencatat kesimpulan atau interpretasi, melainkan data konkrit berkenaan dengan fenomena yang diamati.
Macam-macam observasi menurut Patton :
  1. Observasi partisipan dan non Partisipan
Observasi partisipan yaitu pengamat berpartisipasi aktif dalam setting yang diamati, sedangkan non partisipan adalah pengamat tidak terlibat dalam aktivitas yang diamatinya atau sebagai pengamat pasif.
  1. Observasi Terbuka dan Tertutup
Observasi terbuka yaitu melakukan observasi sistematik dengan memberitahu dan meminta izin terlebih dahulu pada subyek yang diamati. Sedangkan observasi tertutup dilakukan tanpa meminta izin dan memberitahu terlebih dahulu. Observasi tertutup atau terselubung akan memungkinkan peneliti menangkap kejadian yang sesungguhnya karena pada umumnya individu yang tidak menyadari bahwa ia diamati akan bertingkah laku biasa.
  1. Observasi Terbatas dan Observasi Jangka Panjang
Observasi terbatas hanya berlangsung pada saat-saat tertentu saja, sedangkan observasi jangka panjang berlangsung sangat lama yang dimaksudkan agar peneliti dapat memperoleh pemahaman holistik mengenai budaya kelompok yang ditelitinya.
Banister (1994) menambahkan beberapa variasi pendekatan yang perlu dipertimbangkan, antara lain :
1.      Variasi dalam struktur observasi
2.      Variasi dalam fokus observasi, yaitu berkonsentasi pada aspek-aspek tertentu atau berbagai aspek secara luas yang dianggap relevan
3.      Variasi dalam metode dan sarana/instrumen yang digunakan untuk melakukan pencatatan observasi
4.      Pemberian umpan balik
Kelemahan observasi terletak pada beberapa hal:
  1. Pengamat terbatas dalam mengamati karena kedudukannya dalam kelompok hubungannya dengan anggota dan yang semacamnya
  2. Pengamat yang berperan serta sering sukar memisahkan diri walaupun hanya sesaat untuk membuat catatan hasil pengamatannya
  3. Hasil pengamatan berupa sejumlah besar data sering sukar dan sangat memakan waktu untuk mencatat hasil

B.     Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan aitu. Wawancara kualitatif dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna subyektif yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang diteliti dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut (Banister dkk, 1994).
Patton (1994) membedakan tiga pendekatan dasar dalam memperoleh data kualitatif melalui wawancara:
  1. Wawancara Informal
Yaitu wawancara dilakukan tidak hanya oleh satu orang, tetapi oleh dua orang atau lebih terhadap seseorang yang diwawancarai
  1. wawancara dengan pedoman umum
Pewawancara membuat kerangka dan garis besar pokok-pokok yang dirumuskan terlebih dahulu an tidak perlu ditanyakan secara berurutan
  1. Wawancara dengan Pedoman Standar (Baku) yang Terbuka
Dalam bentuk wawancara ini, pedoman wawancara ditulis secara rinci, lengkap dengan set pertanyaan dan penjabarannya dalam kalimat.
Guba dan Lincoln membedakan wawancara menjadi empat bagian :
  1. Wawancara oleh Tim atau Panel
Yaitu wawancara dilakukan tidak hanya oleh satu orang, tetapi oleh dua orang atau lebih terhadap seseorang yang diwawancarai
  1. Wawancara Tertutup dan Wawancara Terbuka
Pada wawancara tertutup biasanya interviewee tidak mengetahui bahwa mereka diwawancarai dan tidak mengetahui tujuan wawancara, sedangkan wawancara terbuka mereka mengetahui maksud dan tujuan wawancara.
  1. Wawancara Riwayat Secara Lisan
Wawancara ini dilakukan terhadap orang-orang yang pernah membuat sejarah atau membuat karya ilmiah besar dengan maksud mengungkap riwayat hidupnya
  1. Wawancara Terstruktur dan Tidak Terstruktur
Wawancara terstruktur dilakukan dengan pewawancara menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan yang akan diajukan. Sedangkan wawancara tak terstruktur cirinya kurang diinterupsi dan arbitrer.
Isi wawancara perlu dipersiapkan dengan baik sesuai dengan tujuan penelitian yaitu mengungkap aspek tingkah laku, nilai atau perasan. Smith mengungkapkan beberpa aspek yang perlu diperhatikan dalam menyusun pertanyaan, yaitu:
§  Pertanyaa harus bersifap netral
§  Peneliti perlu menghindari penggunaan istilah yang terlalu tinggi atau resmi
§  Peneliti perlu menggunakan pertanyaan terbuka, bukan pertanyaan tertutup
Menurut Guba dan Loncoln (1981: 180-183), ada tiga cara penata urutan pertanyaan, yaitu:
a.       bentuk cerobong
b.      kebalikan bentuk cerobong
c.       rencana kuintamensional
Hal-hal praktis yang perlu diperhatikan dalam wawancara:
1.      Sebelum Wawancara
§  Memilih tempat yang tenang dan bebas dari gangguan
§  Peneliti meminta responden berbicara cukup keras sehingga suara dapat direkam
§  Sistem perekam perlu diperiksa terlebh dahulu dan diletakkan dekat dengan responden
2.      Selama Wawancara
§  Peneliti harus berbicara secara jelas dan tidak terlalu cepat
§  Alat perekam sebaiknya dimatikan selama pembicaraan yang tidak relevan berlangsung
§  Peneliti harus mengikuti semua petunjuk yang ditulis untuk mengoperasikan alat perekam dan melakukan pengecekan bila alat perekam perlu diganti
3.      Setelah Wawancara
§  Peneliti perlu mendengarkan rekaman, mencatat dan menghapus diskusi yang tidak relevan
§  Memberi kode yang lengkap pada kaet
§  Menyimpan kaset dan alat perekam dalam kondisi baik.



Transkripsi Hasil Observasi dan Interview
(Pembuatan data verbatim)

Transkripsi hasil observasi dan wawancara dibuat setelah peneliti mendapatkan data-data yang dibutuhkan dalam penelitian. Data-data yang telah terkumpul kemudian diorganisasikan dan hal-hal yang penting untuk disimpan dan diorganisasikan adalah:
1.      Data mentah (catatan lapangan, kaset hasil lapangan)
2.      Data yang sudah diproses sebagian (transkripsi wawancar, catatan refleksi peneliti)
3.      Data yang sudah ditandai/dibubuhi kode-kode spesifik
4.      Penjabaran kode-kode dan kategori-kategori secara luas melalui skema
5.      Memo dan draft insight untuk analisis data (refleksi konseptual peneliti mengenai arti konseptual data)
6.      Catatan pencarian dan penemuanyang disusun untuk memudahkan pencarian berbagai kategori data
7.      Display data melalui skema jaringan informasi dalam bentuk padat/esensial
8.      Episode analisis (dokumentasi dari langkah-langkah dan proses penelitian)
9.      Dokumentasi umum yang kronologis mengenai pengumpulan data dan langkah analisis
10.  Daftar indeks dari semua material
11.  Teks laporan (draft yang terus-menerus ditambah dan diperbaiki.

Smith (1995) menyarankan agar transkrip wawancara ataupun catatan lapangan dibuat sejelas dan sesimpel mungkin sehingga mudah untuk dipahami. Langkah-langkah penyusunan transkrip hasil observasi dan wawancara meliputi pengumpulan data, mencari kata kunci, kemudian menentukan tema yang dikategorikan menjadi beberapa sub tema dan dihubungkan dengan menggunakan pola. Setelah itu semua selesai barulah dilakukan pengembangan teori. Agar ini semua dapat terpenuhi, maka peneliti harus:
1.      Membaca transkip berulang-ulanguntuk mendapatkan pemahaman tentang kasus-kasus atau masalah, kemudian menggunakan salah satu bagian kosong untuk menuliskan pemadatan fakta-fakta, tema- tema yang muncul maupun kata-kata kunci yang dapat esensi data dari teks yang dibaca.
2.      Peneliti menggunakan satu sisi yang lain untuk menuliskan apapun yang muncul saat peneliti membaca transkip tersebut. Peneliti dapat menuliskan kesimpulan sementara, suatu hal yang tiba-tiba muncul di pikirannya, interpretasi sementara, atau apapun. Pada tahap ini belum dilakukan penyimpulan konseptual apapun karena jika dilakukan penyimpulan yang terlalu cepat dapat menghalangi peneliti memperoleh pemahaman utuh mengenai realitasyang ditelitinya.
3.      Di lembaran terpisah, peneliti dapat mendaftar tema-tema yang muncul tersebut, dan mencoba memikirkan hubungan antar tema.
4.      Setelah peneliti melakukan proses di atas pada tiap-tiap transkrip atau catatan lapangannya, ia dapat menyusun ‘master’ yang berisi daftar tema-tema dan kategori-kategori, yang telah disusun sehingga menampilkan pola hubungan antar kategori (‘cross cases’,bukan lagi kasus tunggal).

Dalam penyusunan ranskrip observasi dan wawancara sebelumnya telah dilakukan analisis tematik dalam mengolah informasi yang menghasilkan daftar tema, model tema atau indicator yang kompleks, kualifikasi yang biasanya terkait dengan tema atau hal-hal lain yang masih memiliki hubungan dengan analisis. Untuk dapat menganalisis penelitian kualitatif dengan baik sesuai dengan transkrip diperlukan kemampuan dan kompetensi tertentu (Boyatzis, 1998, hal. 8), yaitu:
a.       Kemampuan mengenai pola (pattern recognition)
b.      Komampuan melakukan perencanaan dan penyusunan system terhadap data (planning and systems thinking)
c.       Pengetahuan mengenai hal-hal relevan dengan yang diteliti merupakan hal krusial, yang seringkali disebut sebagai pengetahuan tacit (tacit knowledge).  Strauss dan Corbin (1990) menyebut ini sebagai kepekaan teoritis yang berkaitan dengan kemampuan peneliti mengenai apa yang penting, member makna, dan mengkonseptualisasi situasi.
d.      Memiliki kompleksitas kognitif dalam benak peneliti yang mencakup kemampuan mempersepsi sebab-sebab ganda (multiple causality), menemukan variable-variabel yang berbeda sejalan dengan waktu dan variasi lain, juga kemampuan untuk mengkonseptualisasi hubungan.
e.       Hal-hal yang diperlukan  antara lain adalah empati dan objektivitas social, juga kemampuan mengintegrasikan.