Tampilkan postingan dengan label Psikologi Fa'al. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Fa'al. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Mei 2020

Self Control

 

1.      Definisi Terapi Self Control

Konsep diri merupakan gambaran seseorang mengenai diri sendiri yang merupakan gabungan antara keyakinan fisik, psikologis, sosial, emosional aspiratif, dan prestasi yang telah mereka capai. Sedangkan menurut Calhoun dan acocella yang dikutib oleh M. Nur Ghufron & Rini Risnawita, bahwa self control itu berarti kontrol diri sebagai pengaturan proses fisik, psikologis, dan perilaku seseorang, dengan kata lain proses yang membentuk kepribadian dirinya. Suatu kemampuan untuk menyusun, mengatur dan membimbing serta mengarahkan bentuk perilaku yang membawa individu kearah konsekuensi positif. Synder dan Gangestad (1986) juga berpendapat sebagaimana yang dikutib oleh M. Nur Ghufron & Rini Risnawita bahwa konsep mengenai kontrol diri secara langsung sangat relevan untuk melihat hubungan antara pribadi dengan masyarakat sekitar dalam hal mengatur kesan masyarakat yang sesuai dengan isyarat situasional dalam hal bersikap.[1]

Self control adalah kemampuan individu untuk menahan keinginan yang bertentangan dengan tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma sosial. Pengendalian diri merupakan seperangkat tingkah laku yang memfokuskan pada keberhasilan mengubah diri pribadi, perasaan yang mampu pada diri sendiri, atau bebas dari pengaruh orang lain.[2]

Seseorang dengan kontrol diri tinggi akan sangat memperhatikan cara yang tepat untuk berperilaku dalam situasi yang berfariasi. Ketika berinterasi dengan orang lain seseorang akan berusaha menampilkan perilakunya yang dianggap paling tepat untuk dirinya, kontrol diri diperlukan untuk membantu individu dalam mengatasi kemampuannya yang terbatas dan mengatasi berbagai hal merugikan yang bisa saja terjadi berasal dari luar. Kontrol diri sendiri berkaitan dengan bagaimana individu mengendalikan emosi, pengendalian emosi sendiri mengarahkan energi emosi ke saluran ekspresi yang dapat diterima secara sosial dan bermanfaat.[3]

 

2.      Faktor yang Mempengaruhi Self Control

Kontrol diri sendiri diakibatkan oleh beberapa faktor, secara garis besar faktor yang mempengaruhi kontrol diri karena faktor internal (dari diri individu) dan faktor eksternal (lingkungan individu).

a.       Faktor internal

Faktor internal yang ikut andil pada self control yaitu usia, dimana seseorang apabila semakin bertambah usianya, maka semakin baik kemampuan mengontrol dirinya.

b.      Faktor eksternal

Faktor eksternal ini diperoleh dari berbagai lingkungan keluarga. Lingkungan dari orang tua juga dapat menentuakan bagaimana kemampuan self control diri seseorang. Pelajaran disiplin yang diberikan orang tua sejak kecil cenderung diikuti oleh tingginya kemampuan mengontrol dirinya. Orang tua menerapkan sikap disipplin kepada anaknya secara intens sejak masih kecil, dan orang tua tetap konsisten terhadap konsekuensi yang dilakukan anaknya apabila melakukan perilaku menyimpang dari yang sudah ditetapkan. Maka sikap konsisten ini akan tertanam pada diri seorang anak. Dikemudian menjadi self control baginya.[4]

 

3.      Jenis dan Aspek Self Control

Self control sendiri mempunyai beberapa jenis diantaranya kontrol perilaku, kontrol kognitf dan kontrol keputusan

a.       Kontrol perilaku (Behavior control) Kontrol perilaku ini merupakan tersedianya kesiapan respon yang dapat secara langsung mempengaruhi atau memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Kontrol perilaku ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu: mengatur pelaksanaan dan mengatur kemampuan memodifikasi stimulus, kemampuan yang mengatur pelaksanaan merupakan kemampuan diri individu untuk menentukan siapa yang mengendalikan situasi atau keadaan.

b.      Kontrol kognitif (congtif control) Kontrol kognitif merupakan kemampuan individu dalam hal mengolah informasi yang tidak diinginkan dengan cara menginterpretasi, menilai, atau menghubungkan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif sebagai adaptasi mengurangi tekanan.

c.       Mengontrol keputusan (Decesional control) Mengontrol keputusan merupakan sebagian kemampuan seseorang untuk memilih hasil atau suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujui, kontrol diri dalam menentukan pilihan akan berfungsi dengan adanya suatu kesempatan, atau kemungkinan pada diri individu untuk memilih berbagai kemungkinan tindakan.

 

Dari uraian dan penjelasan diatas, maka untuk mengukur kontrol diri seorang individu biasanya digunakan aspek-aspek seperti berikut:

a.       Kemempuan mengontrol stimulus

b.      Kemampuan mengontrol prilaku

c.       Kemampuan menafsirkan peristiwa atau kejadian

d.      Kemampuan mengantisipasi suatu peristiwa atau kejadian

e.       Kemampuan mengambil keputusan.[5]

 

4.      Fungsi Pembentukan Self Control

Pembentukan self control dapat dipengaruhi oleh faktor genetic dan miliu. Anak yang dari keturunan impulsif akan mempunyai kecenderungan berperilaku impulsif. Perkembangan self control antara lain perilaku orang tua yang diamati oleh anak. Gaya mengasuh termasuk aspek bu daya. Usia juga termasuk bisa mempengaruhi kondisi kontrol diri pada anak. Anak-anak sendiri cenderung lebih impulsif dibandingkan dengan anak yang lebih dewasa, artinya dengan bertambahnya usia anak maka bertambah pula kemampuan mengendalikan diri semakin baik. pembentukan self control sendiri sudah dimulai sejak usia anak-anak, ketika anak masih dalam buaian orang tua. Dalam hal ini orang tua menjadi pembentuk pertama self control pada anak. Cara orang tua mendisiplin, cara orang tua merespon kegagalan anak, cara berkomunikasi, cara orang tua mengekspresikan kemarahannya (penuh tekanan emosi atau mampu menahan amarahnya) merupakan awal anak belajar tentang kontrol diri.

Messina dan Messin mengemukakan fungsi dari self control sebagai berikut:

a.       Membatasi untuk bertingkah laku negatif

b.      Membatasi perhatian individu pada orang lain

c.       Membatasi keinginan untuk mengendalikan orang lain dilingkungannya

d.      Membantu memenuhi kebutuhan hidup secara seimbang

Sedangkan surya (2009) yang mengutip dari buku Lilik Sriyanti, bahwa memberi pendapat fungsi self control adalah mengatur kekuatan dorongan yang menjadikan tingkat kesanggupan, keyakinan, keinginan, keberanian dan juga emosi yang ada dalam diri sorang individu. Self control sangat diperlukan agar seseorang tidak terlibat dalam pelanggaran norma keluarga, sewkolah dan masyarakat.[6]



[1] M. Nur Ghufron & Rini Risnawita S, Teori-Teori Psikologi, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), hlm 22

[2] Lilik Sriyanti, “Pembentukan Self Control dalam Perspektif Nilai Multikultural”, Vol. 4, No. 1, (Juni 2012), hal 69

[3] M. Nur Ghufron & Rini Risnawita S, Teori-Teori Psikologi, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), hlm 23

[4] Ibid., hlm. 32

[5] Ibid., hlm 29

[6] Lilik Sriyanti, “Pembentukan Self Control dalam Perspektif Nilai Multikultural”, Vol. 4, No. 1, (Juni 2012), hal 69


Kamis, 14 Mei 2020

a)      Pengertian Regulasi Emosi

Menurut Gross, regulasi emosi adalah salah satu cara yang dilakukan dalam mengelolah emosi yang rasakan oleh individu, tentang kapan individu tersebut merasakannya, bagaimana mereka mengalami dan bagaimana individu mengekspresikan emosi tersebut. Regulasi emosi yang tepat meliputi kemampuan individu untuk dapat mengatur perasaan, reaksi fisiologis, kognisi yang berhubungan dengan emosi sebagai sebuah manipulasi yang dilakukan pada diri sendiri atau terhadap situasi yang dapat memicu respon yang terdiri atas aspek fisiologis, pengalaman subjektif, atau perilaku. Artinya regulasi emosi bisa dilakukan dengan memengaruhi situasi  pada saat respon emosi belum muncul atau ketika respon emosi telah muncul. Regulasi emosi yang efektif meliputi kemampuan fleksibel seorang individu dalam mengelola emosi sesuai dengan tuntutan lingkungan.  [1]

Regulasi emosi juga dapat di artikan sebagai suatu keterampilan yang dapat dilakukan oleh individu untuk menyeimbangkan emosi yang sedang dirasakan, dan bagaimana emosi yang dirasakannya tersebut di ekspresikan dengan baik . Upaya di perlukan untuk mengelolah emosi dapat bersifat otomatis, ataupun terkontrol, sadar dan tidak sadar.[2]

Dari sudut perkembangan Thompson menyatakan bahwa regulasi emosi terdiri atas proses ekstrinsik dan instrinsik yang menentukan pengawasan, evaluasi dan modifikasi reaksi emosi untuk mencapai tujuan seseorang. Proses intrinsik adalah cara seseorang mengelolah emosi yang muncul dari dalam dirinya sendiri. Proses ekstrinsik adalah cara seseorang dalam memengaruhi emosi yang datang dari luar. Perbedaan individu dalam kemampuan mengontrol emosi yang dimulai dari tahap infancy dan early childhood sangat memengang peran penting dalam penyesuaian.

Menurut Martin, ciri-ciri individu yang mempunyai pengelolahan emosi antara lain sebagai berikut:

1)   Bertanggung jawab secara pribadi terhadap perasaan dan kebahagiaannya.

2)   Mampu mengalihkan emosi negatif menjadi proses belajar dan kesempatan untuk berkembang.

3)   Lebih peka kepada perasaan orang lain.

4)   Melakukan intropeksi dan relaksasi.

5)   Selalu merasakan emosi positif dari pada emosi negatif.

6)   Tidak mudah putus asa ketika menghadapi masalah.[3]

b)      Fase Perkembangan Pengelolahan Emosi

Holodynski menyatakan bahwa pengelolahan emosi dilandasi dengan berbagai macam aspek tentang bagaimana individu melakukan keterampilan dalam mengelolah emosi yang bersifat negatif. Mengelolahnya atau mengantisipasi motivasi dan harapan dimasa mendatang. Berdasarkan model internalisasi dari Holodynski ini perkembangan emosi dan pengelolaannya dibagi menjadi lima fase.[4]

1)      Fase Pertama Usia 0-2 Tahun

Dalam fase ini individu menghadapi tugas yang mana untuk membentuk kemampuan dalam membedakan berbagai macam emosi yang dimediasi oleh tanda-tanda ekspresi dalam hubungannya dengan pengasuh. Oleh karena itu, pada fase ini individu masih sangat tergantung pada pengelolahan interpersonal melalui pengasuh. Individu masih belum dapat mengontrol emosi mereka. Oleh karena itu pada fase ini kepekaan pengasuh terkait ekspresi emosi individu sangat penting dalam proses perkembangan emosi individu. Regulasi emosi individu pada fase ini masih sangat bergantung pada regulasi interpersonal dengan pengasuh karena individu masih belum bisa mengontrol emosinya berdasarkan keinginannya.

Secara spesifik menurut Calkins dalam Gross menyatakan bahwa usaha dalam pengelolaan emosi dimulai saat individu memasuki usia 3 bulan. Salah satu contohnya bayi akan memalingkan muka atau menengok ketika bereaksi terhadap stimulus yang tidak menyenangkan atau menyenangkan.[5]

Kemudian usia 3-6 bulan bayi mampu mengenal stimulus yang tidak menyenangkan dengan distraksi sederahan, contohnya mengalihkan perhatian pada mainan ketika menghindari hal-hal yang menakutkan. Pada akhir tahun pertama, bayi mulai aktif mengontrol munculnya perasaan (affective arousal). Pada akhir tahun kedua, bayi mampu melakukan strategi pengelolaan emosi, diantara berupa calming (physical self soothing, misalnya menghisap jari atau dot menggunkan selimut yang lembut), distraction (umumnya berupa memalingkan pandangan dan manipulasi objek dengan mainan), dan first symbolic strategies/ cognitive reinterpretation (awal dari fungsi simbolik, tetapi masih jarang pada usia ini).[6]

2)      Fase Kedua Usia 3-6 Tahun

Dalam fase ini anak dihadapkan pada tugas untuk mengurangi dukungan dari pengasuh mereka dan menjadi mampu melakukan pengelolaan intrapersonal maupun interpersonal. Dukungan pengasuh yang baik dalam fase perkembangan emosi sebelumnya memungkinkan anak untuk mampu mengatur tindakannya secara mandiri melalui emosi bangga (pride), malu (shame), perasaan bersalah (guilt), dan emosi yang berkaitan dengan meningkatnya self-aware (kesadaran diri) anak terhadap norma dan aturan budaya. Anak mulai belajar untuk berkompromi dan memiliki toleransi atas keinginannya dipuaskan oleh orang lain, namun juga mulai belajar untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Mereka mulai belajar untuk mematuhi norma budaya dan aturan interaksi sosial saat melakukan suatu hal.[7]

Pada usia 3-6 tahun anak dapat bermain sendiri dan sudah bisa di tinggalkan dalam waktu yang sebentar. Meningkatnya kemampuan bicara pada anak juga dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengelolah emosi yang sedang dirasakan. Dalam masa ini anak dapat mengekspresikan emosi secara verbal ketika menghindari atau menghadapi suatu hal yang dapat menyebkan timbulnya emosi. Karena itu pengasuh bisa meningkatkan strategi simbolik dalam melakukan pengelolaan emosi interpersonal. Dalam hal ini komunikasi verbal menjadi penting dalam pengelolaan emosi.[8]

Pada akhir usia 6 tahun anak bisa melakukan pengalihan dengan mandiri contohnya bermain sendiri ketika pengasuh tidak ada. Begitu juga saat pengasuhnya ada mengajaknya bermain dengan memperlihatkan mainannya. Pada usia strategi calming  menjadi menurun. Secara umum, pada fase ini peran eksternal atau interpersonal regulation mengalami sedikit penurunan. Pada usia ini belajar spesifik dari orang tua. [9]

Menurut Thompson anak mempelajari pengelolaan emosi dari orang tua melalui empat cara, yaitu intruksi langsung (distect intruction), mengajukan reinterprestasi penyebab (proposals for reinterpreting the cause), mencontoh model (model learning), berdiskusi seputar masalah emosi (discourse over emotion).[10]

3)      Fase Ketiga di Atas 6 Tahun

Dalam pada fase ini kemandirian anak mulai meningkat komunikasi verbal dan ekspresi anak mulai disesuaikan dengan lingkungannya. Ekspresinya juga telah dapat dipahami oleh orang disekitarnya. Anak mulai mengembangkan perasaan yang menggambarkan ekspresi somatosensory. Bukan hanya ekspresi fisik  Santrock menyatakan bahwa pada masa ini anak semakin bisa mengembangkan pemahaman emosi dan pengelolaan emosi. Selain itu ia menyatakan terhadap perubahan emosi pada masa ini seperti: [11]

(a)     Meningkatnya pemahaman tentang emosi, misalnya anak-anak usia sekolah dasar mengembangkan suatu kemampuan  untuk memahami emosi kompleks tertentu seperti bangga dan malu. Emosi dan pengelolaan emosi menjadi lebih mandiri serta terintegrasi dengan tanggung jawab personal.

(b)      Meningktanya pemahaman tentang emosi kompleks dari pada emosi dasar yang dapat dialami atau diterapkan dalam situasi tertentu

(c)     Meningkatnya kecendrungan untuk mengingat peristiwa yang menimbulkan reaksi emosi.

(d)     Meningktanya kemampuan menekan atau menyembunyikan rekasi emosi negatif. Anak-anak sekolah dasar sering dengan sengaja menyembunyikan emosi mereka.

(e)      Menggunakan strategi untuk mengalihkan perasaanya. Dalam usia sekolah dasar, anak menjadi lebih relektif dan mengembangkan strategi yang lebih baik untuk menanggulangi masalah dengan pola emosi. Mereka dapat lebih efektif mengatur emosinya dengan strategi kognitf, misalnya dengan mengalihkan pikiran atau perhatian (cognitive change),

(f)      Terdapat suatu kapasitas empati yang tulus.[12]

4)      Fase Keempat Usia Remaja (Adolescence)

Dalam tugas pada fase ini remaja  bukan hanya mengatur aksi dan emosi, tetapi mengembangkan kemampuan kontrol diri. Menurut Santrock kemampuan mengontrol emosi merupakan aspek yang penting dalam perkembangan aspek emosi masa remaja. Kemampuan pengelolaan emosi berkaitan dengan berbagai keberhasilan atau kegagalan banyak aspek, misalnya akademik.

Reaksi remaja dalam menghadapi situasi yang stressfull dapat memengaruhi tinggi rendahnya pengelolaan emosinya yang dapat membedakan kerentanan remaja dalam mengahadapi stres. Saat situasi stress menimbulkan amarah pada remaja, adalah suatu pilihan yang dapat dipilih remaja untuk menanggulanginya yaitu:[13]

(a)   Supepression, dipilih karena rasa takut diasosiasikan pada figur yang mempunyai otoritas untuk menahan emosi yang dirasakan.

(b)   Open aggression, bentuknya adalah pengeskpresian dari eosi, sperti kritik, sarkasme, bertengkar, berdebat, agresif, sampai berbuat criminal. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kepuasan diri tanpa memikirkan orang lain.

(c)    Passive aggression, dimana individu melakukan sabotase karena individu merasa marah tetapi terlalu berbahaya jika diketahui oleh orang lain. Hal ini terjadi karena individu tersebut memiliki kontrol.

(d)   Assertiveness,  dengan cara ini dapat membantu mengembangkan hubungan antar individu mengenai hal yang tidak menyenangkan dan diselesaikan bersama. Hal ini merupakan tanda dari kedewasaan dan stabilitas.[14]

(e)   Dropping anger, remaja menyadari batasan diri dan menerima kekurangan sehingga dapat mengontrol situasi.[15]

5)      Fase Kelima Usia Dewasa (Adulthood)

Menurut Charles dan Chartensen bahwasanya regulasi emosi tidak menurun dengan seiring meningkatnya usia individu. Pada fase ini individu lebih mampu menunjukkan kemampuan dalam meregulasi emosi negatif dari pada yang sebelumnya.

Didalam fase ini individu akan ditunjukkan atau dihadapkan pada permasalahan yang baru dihidupnya yang mana sebagai individu yang sudah tergolong individu yang dewasa. Tanggung jawab dan peran individu ini tentunya akan semakin besar dengan bertambahnya usia. Individu sudah tidak lagi bergantung kepada orang lain dalam hal apapun. Semua urusan dan masalah yang dihadapi didalam kehidupannya sebisa mungkin akan diselsaikan sendiri tanpa orang  lain termasuk saudara dan orang tuanya sendiri. Kehidupan psikososial individu dalam fase ini sangat kompleks. Individu akan memasuki kehidupan yang baru misalnya kehidupan pernikahan yang akan membentu keluarga baru, merawat anak-anaknya dan tetap harus perhatian kepada orang tuanya yang usianya tidak lagi muda.

Suatu permasalahan yang terjadi di hidupnya pada hakikatnya merupakan suatu batu loncatan agar individu bisa menjadi lebih dewasa dari sebelumnya. Wajar jika melakukan suatu usaha untuk mengungkapkan berbagai macam emosi yang individu itu rasakan di dalam dirinya. Namun lebih baik jika individu merespon emosi yang ada pada dirinya dengan perilaku yang adaptif agar tidak merugikan diri individu itu sendiri dan orang-orang disekitarnya.[16]

 

c)      Faktor-Faktor Yang Dapat Mempengaruhi Regulasi Emosi

Terdapat berbagai macam faktor yang dapat mempengaruhi regulasi individu antara lain:

1)      Usia Individu

Kematangan emosi individu dipengaruhi oleh kemtangan fisiologis, faktor bertambahnya usia pada individu yang mempengaruhi kematangan organ dan tingkat pertumbuhan individu. Beer dan Lombardo mengatakan bahwa pengelolaan emosi pada individu berkaitan dengan proses kerja organ otak yaitu lobus frontal, cingulate anterior, lobus temporal, dan kemungkinan amygdala. Calkins mengatakan bahwa organ otak lobus frontal dalam membentuk perilaku mendekat dan menghindar terhadap stimulus yang dapat menyebabkan timbunya emosi. Semakin bertambahnya usia individu menyebabkan ekspresi emosi, pengelolahan emosi yang awalnya bersifat interpersonal (yang lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal) menjadi bersifat intrapersonal (bersifat internal, instrumental maupun kognitif) individu tersebut semakin terkontrol.[17]

2)      Gender

Kondisi  fisiologis dan hormonal yang berbeda pada laki-laki dan perempuan menyebabkan berbedanya karakteristik emosi antara laki-laki dan perempuan. Perempuan harus mengontrol perilaku asertif dan agresifnya. Hal ini menyebabkan adanya kecemasan-kecemasan yang ada pada dirinya. Karena itu secara tidak langsung adanya perbedaan emosi antara laki-laki dan perempuan. Middendrop mengatakan bahwa pengelolaan emosi seorang perempuan lebih kuat pengaruhnya atas perasaanya sendiri baik tentang kesehatan dirinya ataupun dalam pengelolahan emosi yang dilakukan atas dasar kondisi kesahatannya yang mungkin bisa di anggap dapat mengancamnya. Laki-laki dan perempuan mempunyai pengelolahan emosi yang berbeda. Middendrop menyatakan bahwa perempuan lebih sering melakukan rumination (membuat seorang wanita akan terus-menerus memikirkan hal-hal yang negatif), positive refocusing (memikirkan hal-hal yang menyenangkan daripada memikirkan hal yang sebenarnya) dan catastrophizing (merasa bahwa apa yang dialami  adalah suatu pengalaman yang buruk baginya).[18]

Perbedaan jenis kelamin ketikan mengekspresikan emosi dikaitkan dengan perbedaan tujuan perempuan dan laki-laki ketika mengontrol emosi yang dirasakannya. Laki-laki mengekspresikan rasa bangga dan marah untuk menjaga hubungan interpersonal serta membuat mereka tampak lemah dan tidak berdaya, sedangkan laki-laki mengeskpresikan rasa marah dan bangga untuk mempertahankan dan menunjukkan dominasi, karena itu perempuan lebih dapat melakukan pengelolahan terhadap emosi marah dan bangga, sedangkan laki-laki pada emosi takut, sedih dan cemas. Sedangkan perempuan akan mengekspresikan emosinya untuk membuat mereka tampak tidak berdaya, lemah dan untuk menjaga hubungan interpersonalnya.[19]

3)      Motivasi

Motivasi berperan dalam terbentuknya pengelolahan emosi, menurut Fischer individu akan cenderung menginginkan situasi nyaman dan menghindari situasi yang negatif. Fischer membagi tiga perbadaan motivasi pada interpersonal yaitu:

(a)   Prosocial motive: dalam hal ini individu menunjukkan motivasinya agar tidak melukai orang lain dan melindunginya.

(b)   Impression management: dalam hal ini individu melakukan pengelolahan emosi dengan cara menghindari hal yang membuat penilaian yang tidak menyenangkan atau tidak menguntungkan dikarenakan adanya potensi terjadinya ketidak tepatan emosi mereka.

(c)   Influence: dalam hal ini dimana individu ingin mempengaruhi orang lain dengan menujuukan ekspresikan emosinya. Misalnya ingin membuat orang lain nyaman, ingin melakukan sesuatu kepada dirinya, tidak ingin melukai orang lain dan sebagainya. [20]

4)      Aspek Sosial

Thompson dan Mayer mengatakan bahwa pengelolahan emosi individu dapat dipengaruhi oleh teman sebaya dan keluarganya. Hal penting dalam perkembangan individu dalam melakukan pengelolahan emosi pada kondisi ketika berada di luar rumah dan keluarga dalam kondisi ketika individu berada didalam rumah. Dalam faktor keluarga kualitas anak dan keluarga menjadi dasar utama yang dapat mempengaruhi individu dalam mengelolah emosi.[21]

   Anak yang memiliki hubungan baik dengan orang tuanya cenderung lebih sadar diri secara emosional. Anak akan dapat mengembangkan dirinya untuk mengelolah emosi yang tepat dalam lingkungannya.

sebaliknya anak yang mempunyai ibu kurang sensitif, tidak konsisten dalam merespon perasaan anaknya dan kurang membuat nyaman saat berbicara tentang kesulitan emosi yang dipahami sang anak. Hal ini akan membuat anak  cenderung terbatas dalam memahami emosi dan sulit dalam melakukan pengelolahan emositerutama dalam keadaan penuh stres. Hal ini terjadi karena kurangnya dukungan dalam hubungan orang tua dan anak. Anak ini dapat memperlihatkan disregulasi emosi dengan memperlihatkan peningkatan emosi negatif yang tidak teratur.

5)      Norma dan Budaya

Pengelolahan emosi bukan hanya berkaitan dengan intrapersonal tetapi pengelolahan emosi sesuai dengan tempat dan cara individu tersebut menjalani kehidupan. Pengelolahan emosi terjadi melalui situasi sosial yang terstrukur, dinamika interaksi sosial dan usaha orang terdekat untuk memodifikasi situasi individu yang bersangkutan. Makna yang diambil dalam berbagai situasi, dan kesempatan yang tersedia dalam mengelola emosi.[22]

 Aspek budaya berhubungan dengan pengelolahan emosi serta motivasi untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain, contoh praktis individu tidak mau terlihat sebagai abnormal, individu tertawa di suatu tempat yang tidak tepat, stereotip gender yang menyebutkan bahwa laki-laki lebi rasional dan perempuan lebih emosional. Kondisi tersebut menuntut individu untuk memelihara harmoni sosial dengan menekan emosi negatif di depan orang lain. Fischer juga menyimpulkan bahwa yang membentuk dasar motivasi adalah norma.[23]

d)      Strategi Regulasi Emosi

1)      Pemilihan Situasi

Salah satu cara dimana individu menghindari/mendekati situasi atau orang yang bisa menimbulkan emosi yang berlebihan. Misalnya ketika individu memilih untuk menghindari teman atau rekan kerjanya yang menurutnya menyebalkan. Dalam menjalankan strategi pemilihan situasi (Situation Selection) individu perlu memahami situasi yang akan dihadapinya beserta konsekuesni emosi yang mungkin menyertainya.

2)      Modifikasi Situasi

Salah satu cara dimana individu mengubah lingkungan sehingga dapat mengurangi hal yang menimbulkan emosi, contohnya ketika orang tua yang langsung memberikan bantuan pada anaknya yang kesulitan agar sang anak tidak marah atau frustasi.  Sehingga dalam hal ini modifikasi situasi  merupakan usaha yang langsung dilakukan agar memodifikasi situasi agar efek emosi yang dirasakan anak dapat teralihkan.[24]

3)      Mengalihkan Perhatian

Salah satu cara dimana individu mengalihkan perhatian dari situasi yang membuat tidak menyenangkan untuk menghindari hal yang menimbulkan emosi yang berlebihan. Starttegi regulasi emosi ini dapat dilakukan dalam berbagai bentuk misalnya dengan menunjukkan pengalihan fisik (dengan menutup mata dan telinga) maupun internal (membatasi konsentrasi dan mengatur fokus). Terdapat dua strategi dalam pengalihan fisik ini yaitu:

(a)   Distraction, memfokuskan perhatian pada aspek lain dari situasi yang dihadapi atau mengalihkan perhatiannya dari situasi yang sedang di hadapi.   Salah satu contohnya ketika seorang bayi memalingkan pandangannya dari stimulus yang dapat memicu timbulnya  emosi.

(b)   Concentration, memfokuskan perhatian pada aspek emosi dari situasi yang dihadapi.

4)      Mengubah Cara Berpikir

Salah satu cara strategi dimana individu mengevaluasi kembali keadaan dengan mengubah cara berfikir yang negatif menjadi positif sehingga dapat mengurangi pengaruh dari emosi yang dirasakan. Strategi ini dapat dilakukan dengan mengubah cara berfikir terhadap situasi yang dihadapi atau dengan mengubah persepsi kita terhadap “tuntutan” dari situasi yang sedang dihadapi, contohnya individu  yang mempunyai pikiran bahwa kegagalan yang dihadapi merupakan suatu tantangan bukan suatu ancaman.

5)      Membuat Perubahan Dalam Merespon Emosi

Suatu usaha yang dilakukan oleh individu dalam membuat perubahan terhadap respon emosi yang berfokus untuk mengatur pengalaman emosi yang dimiliki. Di tahap ini individu akan menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya kepada orang lain.[25]



[1] Amitya Kumara dan Ayu Sulistyaningsari, dkk,  Mengenali dan Menangani Emosi Pada Siswa (Yoyakarta: PT Kanisius, 2018), hal. 15

[2] Ibid.

[3] Ibid., 16

[4] Ibid., 16

[5] Ibid., 17

[6] Ibid., 17

[7] Ibid., 17

[8] Ibid., 18

[9] Ibid., 18

[10] Ibid., 19

[11] Ibid., 19

[12] Ibid., 20

[13] Ibid., 20

[14] Ibid., 20

[15] Ibid., 21

[16] Ibid., 21

[17] Ibid., 22

[18] Ibid., 22

[19] Ibid., 23

[20] Ibid., 24

[21] Ibid., 24

[22] Ibid., 24

[23] Ibid., 24-25

[24] Ibid., 25

[25] Ibid., 26


Senin, 27 Januari 2014

Kejaiban Otak

            Miliaran sel saraf disebut neuron, saling terhubung membentuk suatu jaringan komunikasi di dalam tubuh tang disebut dengan sistem saraf. Neuron adalah unit dasar dari sistem saraf. Nouron berbentuk tipis memanjang dan berfungsi menghantar denyutan listrik yang disebut impuls saraf. Badan sel neuron tidak jauh berbeda dari sel-sel lainnya. Neuron mempunyai banyak cabang pada ujung-ujung nya yang disebut dendrit, yang bertugas menerima impuls dari neuron di sekitarnya. Ia juga memiliki akson atau serabut saraf yang panjang, yang berfungsi menghantar impuls saraf menuju ke nouron lainnya atau ke sebuah otot. Neuron-neuron yang bersampingan di pisahkan oleh celah sempit yang disebut sinapsis.
Ketika tiba di ujung akson, suatu impuls menyalurkan zat kimia pembangkit impuls. Neuron sensori dan motor membawa impuls saraf ke otak dan dari otak serta sumsum tulang belakang (korda spinalis). Neuron-neuron yang bersifat asosiatif, yang jumlahnya sekitar 90% dari keseluruhan neuron yang membangun sistem saraf, hanya dijumpai dan terletak pada otak serta korda spinalis.
            Pada dasarnya sumsum tulang belakang adalah perpanjangan dari otak. Panjangnya mencapai 45 sentimeter, terentang dari otak hingga ke punggung bagian bawah. Saraf sepanjang sumsum tulang belakang, menyalurkan informasi antara otak dan tubuh. Sumsum tulang belakang juga berperan dalam gerak refleks. Ketika seseorang menyentuh benda tajam, impuls saraf muncul dari ujung jari, menuju ke sumsum tulang belakang yang langsung memerintahkan agar otot-otot lengan atas segera menarik jari dari benda tajam tersebut.
            Otak manusia terdiri dari paling tidak 100 miliar neuron. Tiap-tiap neuron berkomunikasi dengan ribuan neuron lain, sehingga terbentuklah suatu jaringan komunikasi dan kontrol yang sangat kompleks. Otak menerima informasi tentang kondisi di dalam dan diluar tubuh, mengolah dan menyimpan informasi tersebut dan memberikan perintah berdasarkan apa yang telah di pelajarinya. Hipotalamus dan batang otak mengendalikan proses otomatis di dalam tubuh seperti pernapasan. Serebelum (otak kecil) mengatur gerakan tubuh yang halus. Belahan otak kiri dan kanan mengendalikan pikiran, imajinasi, ingatan, kata-kata, emosi, penglihatan, pendengaran, serta pengindra bau, rasa dan sentuhan.
            Sistem saraf terdiri dari dua bagian utama yaitu otak dan sumsum tulang belakang, yang membentuk sistem saraf pusat atau CNS (central Nervous System) dan tepi saraf-saraf yang membentuk sistem saraf PNS (Peripheral Nervous System). Di dalam PNS saraf indra menyalurkan impuls saraf dari organ indra ke otak. Saraf motorik menyalurkan perintah dari otak. Ada dua macam sistem saraf motorik. Pertama, sistem saraf somatik yang dikendalikan secara sadar dan merangsang otot-otot rangka agar berkontraksi. Kedua, tergolong dalam sistem saraf ANS (Automatic Nervous System) yang mengatur proses-proses di dalam tubuh seperti pernafasan dan pencernaan. ANS terbagi menjadi dua yaitu simpatetik dan parasimpatetik. Cara kerja dan dampak yang dihasilkan oleh keduanya saling berlawanan, sehingga tubuh tetap terjaga dalam keadaan stabil
Struktur dan anatomi hidung         
            Kita dapat mencium bau dengan baik menggunakan indra hidung. Coba rasakan ketika Anda terserang penyakit pilek. Saat terserang penyakit pilek, hidung kita agak sulit mencium bau-bau yang ada.
            Rongga hidung mempunyai tiga lapisan yang dipisahkan oleh tulang. Rongga atas berisi ujung-ujung cabang saraf cranial, yaitu saraf olfaktori (saraf pembau).Hidung terlindung dari lapisan tulang rawan dan bagian rongga dalam mengandung sel-sel epitel yang berfungsi untuk menerima rangsang kimia. Bagian tersebut dilengkapi lendir dan rambut-rambut pembau.
            Hidung merupakan salah satu dari panca indra yang berfungsi sebagai indra pembau. Indra pembau berupa kemoreseptor yang terdapat di permukaan dalam hidung, yaitu pada lapisan lendir bagian atas. Reseptor pencium tidak bergerombol seperti tunas pengecap.Epitelium pembau mengandung 20 juta sel-sel olfaktori yang khusus dengan akson-akson yang tegak sebagai serabut-serabut saraf pembau. Di akhir setiap sel pembau pada permukaan epitelium mengandung beberapa rambut-rambut pembau yang bereaksi terhadap bahan kimia bau-bauan di udara
            Bulu hidung di dalam kaviti hidung menapis debu dan mikroorganisma dari udara yang masuk dan lapisan mukus yang memerangkapnya. Bekalan darah yang banyak ke membran mukus membantu mengawal udara yang masuk menjadi hampir sama dengan suhu badan di samping melembabkannya. Selain itu hidung juga berfungsi sebagai organ untuk membau kerana reseptor bau terletak di mukosa bahagian atas hidung. Hidung juga membantu menghasilkan dengungan (fonasi).



Proses Penciuman
            Di dalam rongga hidung terdapat selaput lendir yang mengandung sel- sel pembau. Pada sel-sel pembau terdapat ujung-ujung saraf pembau atau saraf kranial (nervus alfaktorius), yang selanjutnya akan bergabung membentuk serabut-serabut saraf pembau untuk menjalin dengan serabut-serabut otak (bulbus olfaktorius). Zat-zat kimia tertentu berupa gas atau uap masuk bersama udara inspirasi mencapai reseptor pembau.

            Zat ini dapat larut dalam lendir hidung, sehingga terjadi pengikatan zat dengan protein membran pada dendrit. Kemudian timbul impuls yang menjalar ke akson-akson. Beribu-ribu akson bergabung menjadi suatu bundel yang disebut saraf I otak (olfaktori). Saraf otak ke I ini menembus lamina cribosa tulang ethmoid masuk ke rongga hidung kemudian bersinaps dengan neuron-neuron tractus olfactorius dan impuls dijalarkan ke daerah pembau primer pada korteks otak untuk diinterpretasikan.


Hubungan Indera Pembau dan Indera Pengecap
            Apabila ada gangguan pada indera pembau, maka kita tidak dapat mengecap dengan baik. Ketika seseorang menderita sakit pilek, maka makanan terasa hambar rasanya dan kita tidak dapat mencermati bau dengan baik. Inilah bukti bahwa antara organ pembau dengan pencium saling bekerja dengan baik. Aroma makanan yang berada di rongga dalam hidung tidak dapat tercium karena serabut saraf di situ tertutup oleh lendir pilek. Kita merasakan bau buah apel berbeda dengan jeruk dan pepaya karena adanya organ pembau.

Gangguan pada Hidung
Anosmia
Penyakit ini menyebabkan penderitanya kehilangan rasa bau. Penyakit ini disebabkan karena :
  1. Penyumbatan rongga hidung, misalnya tumor, polyp
  2. Reseptor-reseptor pembauan rusak karena infeksi virus atau atrophi
  3. Gangguan pada syaraf ke I, bulbus, tractus olfactoris ataupun cortex otak karena benturan kepala ataupun tumor.

Struktur dan Anatomi Lidah
            Lidah terdiri atas dua kelompok otot yaitu otot intrinsik yang berfungsi untuk melakukan semua gerakan lidah dan otot ekstrinsik. Otot ekstrinsik ini mengaitkan lidah pada bagian-bagian sekitarnya serta melakukan gerakan-gerakan kasar yang sangat menekannya pada langit-langit dan gigi, kemudian mendorongnya masuk ke faring.

            Permukaan atas lidah manusia seperti beludru karena dilapisi oleh beberpa lapisan. Pada manusia reseptor bagi stimulus rasa berada pada kuncup pengecap (Taste bud) yang tersebar di lidah. Permukaan lidah manusia seperti beludru, karena ditutupi oleh beberapa lapiisan. Pada penampang lidah kuncup pengecap mengalami penjuluran yang biasa disebut dengan papila. Papila bermacam-macam sesuai bentuk dan lokasi banyaknya papila tersebut ditemukan.

a. Papila filiformis
Papila filiformis banyak dan menyebar pada seluruh permukaan lidah yang berfungsi untuk menerima rasa sentuh dari rasa pengecapan.

b. Papila sirkumvalata
Papila sirkumvalata memiliki bentuk V dan terdapat 8–12 jenis yang terletak di bagian dasar lidah. Papila ini berukuran paling besar daripada yang lain.


c. Papila fungiformis
Papila fungiformis menyebar pada permukaan ujung dan sisi lidah dan berbentuk jamur.

d. papila foliata
Papila foliata ini umumnya banyak terletak pada bagian sisi lidah.


Proses Pengecapan
            Seperti halnya indera yang lain, pengecapan merupakan hasil stimulasi ujung saraf tertentu. Dalam hal mampu membedakan kelezatan makanan tersebut karena ada stimulasi kimiawi. Pada manusia, ujung saraf pengecap berlokasi di kuncup-kuncup pengecap pada lidah. Kuncup-kuncup pengecap mempunyai bentuk seperti labu, terletak pada lidah di bagian depan hingga ke belakang.
            Di dalam satu papila terdapat banyak kuncup pengecap (taste bud) yaitu suatu bangunan berbentuk bundar yang terdiri dari 2 jenis sel, yaitu sel-sel penyokong dan sel-sel pengecap sebagai reseptor. Setiap sel pengecap memiliki tonjolan-tonjolan seperti rambut yang menonjol keluar taste bud melalui taste pore (lubang). Dengan demikian zat-zat kimia yang terlarut dalam cairan ludah akan mengadakan kontak dan merangsang sel-sel kemudian timbul lah impuls yang akan menjalar ke syaraf no VII dan syaraf IX otak untuk diteruskan ke thalamus dan berakhir di daerah pengecap primer di lobus parietalis untuk kemudian diinterpretasikan. Makanan yang dikunyah bersama air liur memasuki kuncup pengecap melalui pori-pori bagian atas. Di dalam makanan akan merangsang ujung saraf yang mempunyai rambut (Gustatory hair). Dari ujung tersebut pesan akan dibawa ke otak, kemudian diinterpretasikan dan sebagai hasilnya kita dapat mengecap makanan yang masuk ke dalam mulut kita.
            Banyak sekali jenis makanan dan minuman yang ada di sekitar kita. Rasa makanan dan minuman itu bermacam-macam, ada yang manis, asin, asam, bahkan ada pula yang pahit. Kita dapat merasakan rasa manis, asin, asam, dan pahit menggunakan lidah. Rasa yang dikenal lidah terdiri atas 4 rasa. Berikut merupakan tinjauan sensasi rasa dilihat dari zat-zat kimia penimbul sensasi rasa.

·         Pahit, ditimbulkan oleh alkaloid tumbuhan. Alkaloid ialah zat-zat organik yang aktif dalam kegiatan fisiologis yang terdapat dalam tumbuhan. Contohnya ialah kina, cafein, nikotin, morfin dan lain-lain. Banyak dari zat-zat ini bersifat racun.
·         Asin, ditimbulkan oleh kation Na+, K+ dan Ca+
·         Manis, ditimbulkan oleh gugus OH- dalam molekul organik. Gugus ini terdapat pada gula, keton dan asam amino tertentu.
·         Asam, ditimbulkan oleh ion H+

            Lidah merupakan bagian tubuh penting untuk indra pengecap yang terdapat kemoreseptor untuk merasakan respon rasa asin, asam, pahit dan rasa manis. Tiap rasa pada zat yang masuk ke dalam rongga mulut akan direspon oleh lidah di tempat yang berbeda-beda. Letak masing-masing rasa berbeda-beda yaitu :
·         Rasa Asin = Lidah Bagian Depan
·         Rasa Manis = Lidah Bagian Tepi
·         Rasa Asam / Asem = Lidah Bagian Samping
·         Rasa Pahit / Pait = Lidah Bagian Belakang