Selasa, 31 Agustus 2010

PENYAKIT KEJIWAAN

Psikologi abnormal, ilmu psikopat adalah bagian dari Psikologi yang mana itu dibatasi dalam proses pembelajaran mental dan perilaku abnormal manusia ( sutardjo, 2005:2 ). Bentuk dari psikologi abnormal dibagi dalam empat cabang; yaitu; ketidakseimbangan mental disertai gangguan badaniah, kesakitan jiwa/penyakit kejiwaan/kegilaan, kesehatan jiwa yang kurang sempurna, kepribadian yang anti sosial/kepribadian yang suka menyendiri. Penyakit kejiwaan itu sendiri dapat dibagi dalam dua divisi utama, fungsi dan ketidak efektifan penyakit kejiwaan. Karakteristik penyakit kejiwaan secara umum adalah sebagai fungsi penyakit kejiwaan, pikiran dan kekacauan mental/kesehatn jiwa ( smart and stone, 1966: 49-50 ). Itu berarti maksudnya secara harfiah sebuah keretakan pikiran, pemecahan fungsi dasar dari individu, untuk contohnya seperti kejiwaan dan pikiran,

Penyakit kejiwaan secara umumnya dianggap sebagai sebgaian terbesar kekacauan hebat psikolgi. Itu adalah keadaan sakit yang sangat serius bahwa lebih dari 2 juta penduduk jiwa Amerika terkena efeknya, yang mana 1 persen dari populasi Amerika, dalam waktu/umur hampir 20 abad ( www.wikianswer ). Bagaimanapun, banyak orang yang kurang memahami publik/secara umum tentang penyakit kejiwaan ini/pada umumnya banyak orang yang kurang memahami penyakit kejiwaan ini.

Penyakit kejiwaan terjadi karena kenyataan sesungguhnya tidak bertemu/terwujud dengan harapan dan tekanan waktu itu dihidupnya dari penderita penyakit kejiwaan. Kondisi ini membuat halusinasi dan khayalan yang tinggi/jauh yang menyebabkan penderita tidak dapat membedakan antara pengalaman yang sabgai kenyataan dan yang bukan kenyataan ( kartono, 1989: 173-174 ). Itu berarti penderita penyakit kejiwaan telah ditempatkan dibeberapa aspek penting dari dunia nyata oleh kreasi/ciptaan kepunyaan dirinya yang menyebabkan pikirannya gila/mengacaukan pikirannya/menyebabkan gila pikirannya. Oleh karena itu, kemampuan penderita untuk berpikir secara jelas, untuk membedakan kenyataan dari khayalan, untuk mengatur emosinya, dan untuk membuat keputusan yang sering kali didistribusikan karena dia sering berkomunikasi dengan orang yang tidak kelihatan yang berkomunikasi dengan dia ( 1966 : 49-50 ). Pendek kata, kehidupan/hidup si penderita dalam imajinasi dunia sosial.
BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Segala sesuatu yang diciptakan Allah bukanlah dengan percuma saja, tetapi dengan maksud-maksud tertentu yang dinginkan Allah. Demikianlah di antar seluruh makhluk ciptaan Allah, terdapat makhluk pilihanNya yaitu makhluk manusia. Dan diantara makhluk pilihan itu, maka para Nabi dan Rasul memperoleh tempat tertinggi sebagai manusia pilihan Allah.
Siapakah manusia itu dan bagaimanakah kedudulannya dalam realitas atau jagad raya ini. Demikianlah pertanyaanyang meliputi seluruh pikiran para filsuf, termasuk filsuf Max Scheler. Pertanyaan itu adalah pertanyaan abadi karena pada dasarnya terkandung dalam hati setiap insane sepanjang masa. Bagaimakah sebenarnya tempat manusia itu di dalam jagad raya ini, dalam keseluruhan yang ada ini, dalam keseluruhan dunia ini terhadap Tuhannya.
Selanjutnya manusia itu karena unsur kejasmaniannya ia bersifat potensial, ia merupakan bakat. Manusia itu supaya menjadi manusia betul-betul haruslah memanusiakan dirinya. Dan itu harus dijalankan dengan dan dalam mengalami kesatuannya dengan alam jasmani. Dalam kenyataannya kita melihat dan mengalami sendiri bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa hubungannya dengan alam jasmani. Dalam rangka pikiran ini, kita dapat juga berkata, bahwa manusia itu pribadi, akan tetapi harus mempribadikan diri dan bahwa ia hanya dapat mempribadikan diri, dengan menjalankan kesatuannya dengan alam jasmani, untuk mempribadikan diri kita itu disebut ‘membudaya’. Selanjutnya dunia jasmani dalam membudaya itu kita angkat dan kita jadikan satu dengan diri kita sendiri itu kita sebutkan ‘kebudayaan’. Hanya dalam dan dengan membudayakan alam jasmani, manusia bisa membudayakan dirinya sendiri. Dan di dalam kesibukan manusia yang kita sebut membudayakan itu termuatlah unsure-unsur seperti: teknik, ekonomi, peradapan, bahasa, sosial, kesenian, sejarah dan filsafat.




B. Rumusan Masalah

• Bagaimanakah pengertian dan ruang lingkup filsafat manusia?
• Apa manfaat mempelajari filsafat manusia?
• Bagaimanakah hakikat pribadi manusia itu?
• Bagaimanakah Eksistensi manusia itu?




C. Tujuan Pembuatan Makalah

• Untuk memenuhi tugas mata kuliah filsafat sebagai nilai UTS
• Agar dapat memahami pengertian dan ruang lingkup filsafat
• Dan agar dapat memahami hakikat pribadi manusia
• Serta agar dapat memahami eksistensi manusia itu seperti apa





BAB II
PEMBAHASAN



A. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT MANUSIA

Filsafat manusia atau antropologi filsafati adalah bagian integral dari system filsafat, yang secar spsesifik menyoroti hakikat atau esensi manusia. Sebagai bagian dari system filsafat, secara metodis ia mempunyai kedudukan yang kurang lebih setara dengan cabang-cabang filsafat lainnya, seperti etika, kosmologi, epistimologi, filsafat sosial, dan estetika. Tetapi secara ontologism (berdasarkan pada objek kajiannya), ia mempunyai kedudukan yang relative lebih penting, karena semua cabang filsafat tersebut pada prinsipnya bermuara pada persoalan asasi mengenai esensi manusia, yang tidak lain merupakan persoalan yang secara spesifik menjadi objek kajian filsafat manusia.
Dibandingkan dengan ilmu-ilmu tentang manusia (human studies), filsafat manusia mempunyai kedudukan yang kurang lebih “sejajar” juga, terutama kalau dilihat dari objek materialnya. Objek material filsafat manusia dan ilmu-ilmu tentang manusia (misalnya antropologi dan psikologi) adalah gejala manusia. Baik filsafat manusia maupun ilmu-ilmu tentang manusia, pada dasarnya bertujuan untuk menyelidiki, menginterpretasi, dan memahami gejala-gejala atau ekspresi-ekspresi manusia. Ini berarti bahwa gejala atau ekspresi manusia, baik merupakan objek kajian untuk filsafat manusia maupun untuk ilmu-ilmu tentang manusia.
Akan tetapi, ditinjau dari objek formal atau metodenya, kedua jenis “ilmu” tersebut memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Secara umumdapat dikatakan, bahwa setiap cabang ilmu-ilmu tentang manusia mendasarkan penyelidikannya pada gejala empiris, yang bersifat “objektif’ dan bisa diukur dan gejala itu kemudian diselidiki dengan menggunakan metode yang bersifat observasional dan/atau eksperimental. Sebaliknya, filsafat manusia tidak membatasi diri pada gejala empris. Bentuk atau jenis gejala apapun pada manusia, sejauh bisa dipikirkan, dan memungkinkan untuk dipikirkan secara rasional, bisa menjadi bahan kajian filsfat manusia. Aspek-aspek, dimensi-dimensi, atau nilai-nilai yang bersifat metafisis, spiritual, dan universal dari manusia, yang tidak bisa diobservasi dan diukur melalui metode-metode keilmuan, bisa mnejdai bahan kajian terpenting bagi filsafat manusia. Aspek-aspek, dimensi-dimensi, atau nilai-nilai tersebut merupakan sesuatu yang hendak dipikirkan, dipahami, dan diungkap maknanya oleh filsafat manusia.


B. MANFAAT MEMPELAJARI FILSAFAT MANUSIA

Filsafat manusia menyoroti gejala dan kejadian manusia secara sintesis dan reflektif. Dan memiliki cirri-ciri ekstensif, intensif dan kritis. Kalau betul demikian, maka dengan mempelajari filsafat manusia berarti kita dibawa ke dalam suatu panorama pengetahuan yang sangat luas, dalam, dan kritis, yang menggambarkan esensi manusia. Panorama pengetahuan seperti itu paling tidak, mempunyai manfaat ganda, yakni manfaat praktis dan teoretis.
Secara paktis filsafat manusia bukan saja berguna untuk mengetahui apa dan siapa manusia secara menyeluruh, melainkan juga untuk mengetahui siapakah sesungguhnya diri kita di dalam pemahaman tentang manusia yang menyeluruh itu. Pemahaman yang pada gilirannya akan memudahkan kita dalam mengambil keputusan-keputusan praktis atau dalam menjalankan berbagai aktivitas hidup sehari-hari, dalam mengambil makna dan arti dari setiap peristiwa yang setiap saat kita jalani, dalam menentukan arah dan tujuan hidup kita, yang selalu saja tidak gampang untuk kita tentukan secara pasti, dan seterusnya. Sedangkan, secara teoretis filsafat manusia mampu memberikan kepada kita pemahaman yang esensial tentang manusia, hingga pada gilirannya kita bisa meninjau secar kritis asumsi-asumsi yang tersembunyi di balik teori-teori yang terdapat di dalam ilmu-ilmu filsafat.
Manfaat lainnya mempelajari filsafat manusia adalah mencari dn menemukan jawaban tentang siapakah sesungguhnya manusia itu. Akan tetapi, seperti telah disinggung di muka, filsafat manusia tidak menawarkan jawaban yang tuntas (final) dan seraragam tentang manusia. Kita justru dihadapkan pada kenyataan bahwa banyak filsuf memiliki pendapat yang berbeda tentang apa atau siapa sebetulnya manusia. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara berbeda dan menjwab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara berbeda pula. Oleh sebab itulah, setelah kita mempelajari filsafat manusia, maka paling tidak kita akan dapatkan sebuah pelajaran berharga tentang kompleksitas manusia, yang tidak pernah habis-habisnya dipertanyakan apa makna dan hakikatnya.


C. HAKIKAT PRIBADI MANUSIA

Manusia adalah makhluk Tuhan yang otonom, berdiri pribadi yang tersusun atas kesatuan harmonic jiwa raga dan eksis sebagai individu yang memasyarakat.

1. Sebagai makhluk yang Otonom.
Manusia lahir dalam keadaan serba misterius. Artinya, sangat sulit untuk diketahui mengapa. Bagaimana, dan untuk apa kelahirannya itu. Yang pasti diketahuinya adalah manusia dilahirkan oleh sebutlah Tuhan melalui manusia lain (orang tua), sadar akan hidup dan kehidupannya, dan sadar pula akan tujuan hidupnya (kembali pada Tuhan).
Antara ketergantungan (dependansi) dan otonomi (indepedensi) adalah dua unsure potensi kontadiktif yang ada di dalam kesatuan dinamis, keberadaannya yang demikian ini justru memberikan makna jelas kepada dirii pribadi manusia sebagai makhluk Sang Pencipta. Analogikanlah dengan sebuah rumah batu yang kuat, kekuatannya itu adalah warisan kodrat dari batu sebagai benda yang memang kuat.

2. Sebagai Makhluk yang Berjiwa Raga
Unsur jiwa dan raga manusia itu bukan hal yang berdiri sendiri. Keduanya berada di dalam satu struktur yang menyatu menjadi “diri-pribadi”. Sehingga diri pribadi manusia adalah “jiwa yang meraga” dan “raga yang menjiwa”. Artinya, jiwa menyatu dengan raganya, dan raga menjadi satu dengan jiwanya. Kejiwaan seseorang seharusnya terlihat dari tingkah laku badannya dan badan seseorang itu seharusnya mencerminkan jiwanya.
“Jiwa yang meraga”. Jiwa yang menjadi satu dengan raga, yaitu jiwa yang mewujud dalam bentuk raga. Jiwa adalah suatu yang maujud, tidak berbentuk dan tidak berbobot. Ia dapat dipahami dari kecenderungan-kecenderungan badan. Lihatlah, jika jiwa seseorang dalam keadaan menderita, maka badannya lemah, mukanya muram dan gelap. Tetapi, jika bahagia, maka badannya ringan, enerjik dan muka berseri-seri. Adapun dalam jiwa, ada unsur-unsur yang sering kita kenal sebagai “Tripotensi Kejiwaan” yaitu cipta, rasa dan karsa.
“Raga yang menjiwa”. Raga yang menjadi satu dengan jiwa adalah suatu kecenderungan fenomena badan yang menjadi bersifat kejiwaan. Raga adalah sesuatu yang maujud, berbentuk dan berbobot (berukuran).
Diri pribadi manusia yang berbentuk atas jiwa yang meraga dan raga yang menjiwa ini sebenarnya dapat terjadi karena suatu sebab, yaitu dominasi jiwa atas badannya. Jiwa manusia itu tidak sama dengan jiwa hewan. Jiwa manusia adalah berkesadaran. Sadar aka nasal-mula dan tujuannya. Kesadarn jiwa ini selanjtnya membentuk perbedaan badan manusia, dengan segal gerak-geriknya, dengan badan-badan hewan.
Menurut posisinya, jiwa manusia itu bertabiat di dalam badan. Artinya jiwa mempunyai kekuasaan atas badan. Jiwa yang sehat, pasti akan membuat badan menjadi sehat, tetapi badan yang sehat belum tentu bisa membuat bisa membuat jiwa munjadi sehat.

3. Sebagai Makhluk Individu yang Memasyarakat.
Seperti hubungan antara “jiwa dan raga”, kedudukannya sebagai individu dan anggota masyarakat juga berada didalam suatu struktur kesatuan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa manusia adalah makhluk individu yang memasyarakat dan sekaligus makhluk social yang mengindividu.Mentalitas seseorang dapat menjadi sumber yang berpengaruh kuat terhadap perkembangan mentalitas masyarakatnya dan masyarakat sendiri dapat memberikan kontrol terhadap dinamika mentalitas seseorang.

• Individu yang memasyarakat
Dalam kenyataannya yang kongkretnya, kelahiran manusia adalah satu persatu, orang seorang, karena itu, ia lahir secara individual sebagai suatu diri pribadi yang berbeda dan terpisah dengan yang lain diantara sesamanya, termasuk ibu (orang tua) yang melahirkannya.
Akan tetapi, manusia lahir dengan segala keadaan yang serba lemah keberadaan dan hidupnya hanya bisa bergantung pada pihak lain, ibunya, bapaknya, saudara-saudaranya, tetangganya dan jika sudah mulai dewasa semakin terlihat dengan orang lain seluas-luasnya. Ini adalah realitas tidak bisa dihindari sama sekali. Memang harus begitu, karena memang sudah merupakan, hukum alam.
Tetapi sebagai individu yang berdiri pribadi, ia memiliki otonomi dan kebebasan (jiwa yang bebas). Ia mempunyai hak untuk berbuat atau tidak berbuat.

• Masyarakat yang mengindividu.
Kalimat ini mengandung arti bahwa masyarakat menciptakan individu-individunya dalam berbagai hal, seperti sifat mentalitas, karakteristik dan sikap pribadi. Lihatlah pada tingkat yang paling inti orang tua pada umumnya ingin anak-anaknya berkembang sesuai dengan imajinasinya.
Orang tua cendrung mendidik anak-anaknya dengan mendikte-kan apa saja, karena ia merasa memiliki mereka. Orang tua membentuk sifat-sifat dan sikap moral anak-anaknya dengan kurang memperhatikan potensi kodrat mereka masing-masing.
Oleh sebab itu, ideal jika masyarakat adalah taraf perkembangan individu dalam menyelenggarakan hidup dan mengembangkan kehidupannya jadi yang real adalah individu, bukan masyarakat; yang berkuasa adalah individu, bukan masyarakat; yang berdiri sebagai subjek adalah individu, bukan masyarakat; dan masyarakat adalah suatu kesadaran tertentu, demi keteraturan kehidupan bersama sedemikian rupa sehingga setiap individu mendapatkan kesempatan untuk memerankan dirinya sebagai manusia yang otonom dan bebas. Masyarakat itu sebenarnya hanya ada didalam angan-angan setiap orang (kesadaran), dan yang ada didalam kenyataan konkret adalah individu-individu dengan segala macam tingkah lakunya. Maka jenis, bentuk, dan sifat tingkah laku seseorang itu menunjukkan “suatu sosialitas”.


D. Eksistensi Manusia

Manusia dalam eksistensinya yang konkrit atau caranya berada, maka nampaklah bahwa dia bukan lah “monade “ atau barang yang terpisah, tanpa hubungan dengan apapun juga. Seperti yang pernah diajarkan oleh Filsuf G.W. Leibnitz. Kita tidak mengerti siapakah manusia itu, kecuali sebagai serba terhubung dengan segala sesuatu. Kita tidak bisa berbicara tentang manusia, kecuali dengan mengakui kesatuannya dengan segala sesuatu. Masing-masing dari kita tidak bisa memiliki keterangan dan pengertian yang lebih jelas tentang diri kita sendiri, tetapi dengan menunjuk hubungannya dengan alam semesta.
Dalam hubungan penguraian ini, yang terdahulu dikemukakan adalah hubungan manusia dengan alam jasmani. Hal ini tidaklah berarti bahwa hubungan itu terlebih dahulu dari pada hubungan kita dengan sesama manusia. Demikianlah manusia itu mengerti, mengalami dan merasakan alam jasmani. Dengan demikian ia memasuki alam jasmani. Dan hanya dengan demikian itu ia menjadi sadar akan dirinya sendiri.
Jadi dengan hanya “ke luar” dari dirinya sendiri ia memasuki dirinya sendiri. Mahusia itu adalah sesuatu yang dengan mengasing dirinya sendiri, dari dirinya sendiri, menemukan dirinya sendiri, dalam dirinya sendiri.
Dengan meminjam filsafat modern dewasa ini dari tokoh Eksistensialisme Gabriel Marcel, maka caranya manusia berada itu kita sebut: ‘etre-au-monde’ (ada di dunia), ‘etre in-carne’ (ada yang mendaging), ‘geist-in-welt’ (ruh di dunia), atau dengan meminjam istilah Fredich Hegel orang bisa juga berkata bahwa manusia itu ‘berdialektik’.
Eksistensialisme ialah suatu aliran fil asat di abad XX ini berseru kepada aliran Materialisme, bahwa manusia itu bukanlah hanya obyek belaka dan seterusnya berseru kepada aliran Idealisme, bahwa manusia itu bukanlah hanya kesadaran belaka.
Manusia itu adalah eksistensi . Apakah artinya itu?
Untuk mengerti hal ini, pandanglah manusia didunia ini . ia mengakui dirinya dan menyebut dirinya “aku”. Hal ini Nampak dalam semua perbuatan manusia sebab tiap perbuatan manusia disebut perbuatanku. Selanjutnya manusia itu menentukan situasinya, memilih perbuatannya, mengadakan aksi-reaksi. Ia berjuang dan melawan, ia menyelenggarakan hidupnya. Dengan kata lain ia adalah ia sendiri, ia mengalami diri sendiri sebagai pribadi. Disamping itu manusia tidak hanya sibuk dengan diri sendiri, tetapi ia juga sibuk dengan dunia luar, ia mengerjakan dunia luar dan dengan berbuat itu ia mempergunakan barang-barang, ia seolah mencurahkan dirinya kedunia luar. Justru dengan demikian ia bisa berkata: aku sedang ini atau itu (misalnya mencangkul sawah). Dengan keluar dari dirinya sendiri itu, manusia sampai kedirinya sendiri, menemukan dirinya sendiri berarti mengakui, mengalami adanya,berdirinya. Itulah yang oleh kaum ‘Eksistensialis’ disebut ‘eksistensi’. Eks berarti keluar, sistensia berarti berdiri. Jadi eksistensi berarti : berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari diri sendiri. Pikiran seperti ini dalam kalangan bangsa Jerman diterangkan dengan istilah : Dasein. Filsuf Heidegger berkata: “Das Wesen des Daseins Lieght in seiner Esistenz’, yang artinya : De sein tersusun dari Dad an sein.
Dan berarti disana. Sein berarti berada. Berada bagi manusia selalu berarti: da atau disana, disuatu tempat. Tak mungkin ada manusia tampa bertempat. Bertempat berarti terlihat dan bersatu dalam alam jasmani. Manusia itu sadar akan tempatnya, sadar akan dirinya, yang berbeda dengan bertempat dari batu atau pepohonan. Jadi dengan meng-eks atau keluar dan hanya dengan demikian manusia sampai kepada kesadaran diri sendiri, berdiri sebagai AKU atau pribadi. Nampaklah persamaan antara Desein dan Eksistensi, Eksistensi lebih menunjuk pangkalannya, sedangkan Dasein lebih memperhatikan kehadirannya.
Dalam hubungan kesaran manusia tentang eksistensinya, terdapat3 (tiga) buah jenis eksistensi manusia yaitu :
a. Eksistensi Kultural adalah kesadaran manusia bahwa untuk tetap lestari dalam hidup dan kehidupan ini manusia haruslah berusaha menguasai dan menaklukkan alam ini. Kesadaran inilah yang merupakan landasan pokok terciptanya kebudayaan manusia.
b. Eksistensi sosial adalah kesadaran manusia, bahwa dalam hidup dan kehidupannya didunia ini manusia serba terhubung dengan manusia lain. Manusia saling tergantung dengan sesamanya manusia . kesadaran inilah yang merupakan dasar hakiki timbulnya masyarakat.
c. Eksistensi religius adalah kesadaran manusia tentang keterhubungannya sebagai makhluk dengan khaliknya atau penciptanya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa . kesadaran inilah sebagai sumber adanya agama.





BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Filsafat manusia atau antropologi filsafati adalah bagian integral dari system filsafat, yang secar spsesifik menyoroti hakikat atau esensi manusia. Sebagai bagian dari system filsafat, secara metodis ia mempunyai kedudukan yang kurang lebih setara dengan cabang-cabang filsafat lainnya, seperti etika, kosmologi, epistimologi, filsafat sosial, dan estetika. Tetapi secara ontologism (berdasarkan pada objek kajiannya), ia mempunyai kedudukan yang relative lebih penting, karena semua cabang filsafat tersebut pada prinsipnya bermuara pada persoalan asasi mengenai esensi manusia, yang tidak lain merupakan persoalan yang secara spesifik menjadi objek kajian filsafat manusia.
Filsafat manusia menyoroti gejala dan kejadian manusia secara sintesis dan reflektif. Dan memiliki cirri-ciri ekstensif, intensif dan kritis. Kalau betul demikian, maka dengan mempelajari filsafat manusia berarti kita dibawa ke dalam suatu panorama pengetahuan yang sangat luas, dalam, dan kritis, yang menggambarkan esensi manusia. Panorama pengetahuan seperti itu paling tidak, mempunyai manfaat ganda, yakni manfaat praktis dan teoretis.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang otonom, berdiri pribadi yang tersusun atas kesatuan harmonic jiwa raga dan eksis sebagai individu yang memasyarakat.
Manusia dalam eksistensinya yang konkrit atau caranya berada, maka nampaklah bahwa dia bukan lah “monade “ atau barang yang terpisah, tanpa hubungan dengan apapun juga. Seperti yang pernah diajarkan oleh Filsuf G.W. Leibnitz. Kita tidak mengerti siapakah manusia itu, kecuali sebagai serba terhubung dengan segala sesuatu. Kita tidak bisa berbicara tentang manusia, kecuali dengan mengakui kesatuannya dengan segala sesuatu. Masing-masing dari kita tidak bisa memiliki keterangan dan pengertian yang lebih jelas tentang diri kita sendiri, tetapi dengan menunjuk hubungannya dengan alam semesta.




DAFTAR PUSTAKA

Abiding, Zainal.______.Filsafat Manusia.______

Burhanudin, Salam. 1988. Filsafat Manusia Antropologi Metafisika. Jakarta : Bina Aksara

Leahy, Louis. 1993. Manusia, Sebuah Misteri. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama

Ricoeour, Paul. 1982. Hermeneutics and Human sciences. London : Cambridge University Press

Sudarsomo. 1993. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta : PT. Rineka Cipta

Suparlan, Suharto. , 2005. Dasar Filsafat Manusia. Jogjakarta : Ar.Ruzz Media

Selasa, 15 Juni 2010

Early Adolescent Growth

Children who are aged 12 or 13 years up to 19 years are in the growth experienced during adolescence. Including the period of adolescence are critical because at this age children experience many changes in the psychic and physical. Mental changes cause confusion among teens so this period is called by the west as a period of Sturm und drang. Why because they experienced turbulent emotions and mental pressure so easy to deviate from rules and social norms prevailing in society.
There are also psychologists who think of adolescence as a transition from childhood into adulthood and lasts for about 10 years, is times when the child no longer wants to be treated again as children, but visits from his physical growth can not be said adults. When children experience the time of adolescence is not the same in each country. The time that varies according to local norms applicable maturity, for example in rural areas are agricultural, children aged 12 years have followed the work should be done in such adults to process fields of rice and their parents. In a situation like this means that adult children who have not been sued by the parents to be responsible. Thus adolescence will end up faster in rural areas. While in urban areas adolescence lasts longer, because the circumstances of life in the city of more complex and pluralistic society because of the influence of background cultural norms and customs, moral values, ethics, and social. Circumstances which lead to a maze of moral values and social uncertainties make the youth grow hesitated, hesitated, and perplexed, so they wondered in his heart, which actually should be chosen and in its guidelines.
Westerners call teens with the term "puberty", while Americans might call "adolensi". Both are transition from childhood into adulthood. Whereas in our country there are using the term "grown-up", "puberty", and the most widely called "teen". Adolensi calls can be defined as youth who have experienced the situation calm. In general, parents and educators tend to refer teens than teens puberty or adolescence adolesen. When viewed from the aspect of biological development, which calls teens than teens puberty or adolescence adolesen. When viewed from the aspect of biological development, the adolescent is referred to those aged 12 to 21 years. Age 12 years is the beginning of puberty for a girl, called the teen if a menstruating (my period) the first. While 13 years is the beginning of puberty for a boy when he experienced during the first dream, he realized that without the release of sperm. If parents do not realize this, the child could be embarrassed and afraid. Usually the girls biological development of its one year faster than biological progress as a young man began his first teenage girl who will end at around the age of 19 years, while new boy to end his adolescence at about age 21 years.



Figure Growth Period Baby to Adult


When viewed theoretically, consist of adolescents adolescence puberty and adolescence adolesen. Teenage puberty itself is still divided again into early puberty, puberty, and late puberty, while adolescents adolesen itself consisted of initial adolesen, adolesensi, and late is adolesen. Then there is the transition from childhood school before he entered puberty, called the pueral. Actually, between the one with the other invisible boundaries. The transition from the period to the next period occur only gradually by not taste, just one-time only a sudden change.




Puberty Period

Puberty

His essence of his puberty mature form of sex glands. In this girl's first menstrual period marked by the times, while in boys it is marked by mature secondary sexual characteristics, such as changing his voice and hair growth around the genitals. Except that the boys are also characterized by rapid body growth, while at the girl's menstruation actually signifies the end of rapid growth.
Hurlock said that "Puberty is the period in the develop mental Pls span of the child changes from Asexual to sexual beings", is very interesting sentence above, "teenager is a time in human development, when children changed from asexual beings become sexual beings." What does it mean ?
Cook puberty is marked by the reproductive organs so that the physical-biological teen ready reproduce. To the sexual organs of cuisine is also changing patterns of child socialization. When in the late childhood period, individuals were more interested in friends of the same sex, then in puberty heterosexual attraction starts to become more powerful.
Sexual maturity varies between boys and girls, as well as in each sex. For girls, it was moved from the age of nine to eighteen years, while for boys from age eleven to eighteen years. The following table shows the percentage of sexual maturity in boys and girls at every age.


The period of puberty is a period of overlap (overlapping period) that is in the final moments of childhood and early adolescence. Though not last long (roughly the age of 12 - 14 years for females, and 13 - 15 years for men), the period of puberty is a period that is quite difficult for the individual. Incoming call alert: The emergence of secondary sexual signs on certain body parts is not unusual for a surprise. First menstruation in women (nenarche) or a wet dream in men (wet dream / nocturnal ejaculation), otherwise prepared or described individual would be embarrassed and feel inferior. Adjustment difficulties in these ages often they experienced.
From the table above show that in general, girls have matured for two years now significantly earlier than boys and that boys remain in a smaller percentage except in late adolescence.
Sexual maturity is important for adolescents. Their reaction to sexual maturity varies: some are embarrassed, some pretend as if nothing happened changes nothing, nothing to be afraid, and there is a feeling of pride.
The main characteristic of puberty is the period in addition to the growth of secondary sexual signs, body growth is fast enough (high / large entity). Besides the behavior characterized by negativism, which in addition are often withdrawn (often fighting with siblings and peers), bored with the various activities that are usually popular, casual living (untidy, awkward), antagonistic, opposing the will of the people who he respected, hostile with opposite sex friends (but his attitude will be the opposite at the end of puberty) her mood easily changes from melancholic to angry, irritable and depressed inner, lack confidence and fear of failure becomes greater, and they are more polite than usual because they fear other people commented negatively on the changes that have happened to him.

Acceptance and rejection of various changes in the body will greatly affect its readiness to enter the adult world of adolescence. Puberty is also known as the rise of personality when his interest is more directed toward their own personal development. That is the center of personal thoughts. There are several characteristics that stand out during this period, which is not equally strong in all teenagers. Among these traits are:

A. Long-abandoned Opinions
They want to set a new establishment. At times looking for the truth that things do not turn into desultory.

B. Disturbed the balance of his soul
They like to challenge tradition, thought they were capable of determining their opinions about all the problems of life. They used their own stance as a guide to life. Because of that attitude and actions are not completely calm.


C. Like to hide the contents of his heart
Teenage puberty like a puzzle, because it is difficult dived his soul. Good deeds and actions can not be used as guidelines to determine her mental complexion. Soon he was acting rough, then he looks gentle, sometimes he likes to daydream, and then he looked vigorous and happy again.

D. The period of awakening the feeling of community
In this period had begun a friendship because it united with the encouragement of peers growing stronger, but his attitude still opposes the authority of adults. They pay more attention to teasing friends rather than adults ridicule. They founded the club, they set their own rules, they chose their chairman, but the old associations are usually not durable.

E. Differences in attitudes young girl with an attitude
Differences between boys and girls is huge, especially in the sex differences. A young man has sexual desires that arise by themselves, and experienced much stronger than that felt by a girl. For a normal girl, sexual things that can be likened to the daughter who was sleeping in the woods. If a young man kissed her, he would wake up from bed. Sleeping girl feeling like a beautiful daughter that means the girl's feelings are not real. before he experienced in romance, although he did not put the heart to see that handsome young man. In contrast arises in him a particular desire when he sees an attractive girl of his heart.


Attitude of the youth:
1. Active in providing, protecting, and helping.
2. Want to rebel and criticized
3. Want to find freedom to think, act, and also obtained the rights to speak
4. Imitative acts of people who adored
5. Her interest focused on abstract things
6. More worship one's own cleverness than men


Attitude girl
1. Like to be protected and assisted
2. The drive was softened by a feeling bound to the rules and traditions
3. Want to be loved and to please others
4. Do not want to imitate, rather passive
5. Her interest aimed at the real things
6. Jump adore men





GLOSSARY

Adolescent : anak remaja

Experience : pengalaman

Turbulent : bergolak

Pressure : tekanan

Deviate : menyimpang

Prevailing : berlaku

Childhood : masa kanak-kanak

Adulthood : masa dewasa, kedewasaan

Applicable : dapat dipakai

Rural : pedesaan

Sued : dituntut

Circumstances : keadaan

Maze : simpang siur

Perplexed : bingung, membingungkan

Guidelines : garis pedoman, dipedomaninya

Calm : ketenangan

Occur : terjadi

Gradually : secara berangsur-angsur

Sudden : mendadak

Glands : kelenjar

Adore : memuja
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Memahami masyarakat mausia merupakan upaya yang selalu menarik untuk dilakukan. Berbagai perspektif sudah ditawarkan, namun tak satupun mampu memberikan jawaban tuntas. Masing-masing perspektif selalu memberikan pemahaman yang parsial.
Di tengah-tengah kesenjangan perpektif seperti itulah etnografi hadir. Etnografi berusaha memberikan pemahaman tanpa distorsi, karena ia berangkat dari pemahaman budaya masyarakat yang ingin dipahami, bukan dari asumsi arbitrer para peniliti.
Di Indonesia, etnografi kurang dikenal oleh kalangan ilmuwan pada umumnya. Hanya mereka yang bergerak di ranah antropologi yang akrab dengan genre metode penelitian ini. Padahal, etnografi, sebagaimana ditegaskan penulis buku ini, bisa digunakan oleh semua bidang ilmu yang ada, apa pun genrenya.
Dengan tujuan memperkenalkan etnografi ke dunia di luar antropologi ( dengan tidak mengabaikan mereka yang berkecimpung dalam dunia antropologi ), maka kami merasa penting untuk membuat makalah ini. Tidak lain agar perkembangan ilmu di Indonesia tetap relevan dengan kepentingan manusi, bukan demi kepentingan ilmu itu sendiri.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apakah etnografi itu?
2. Etnografi dan kebudayaan.
3. Membuat kesimpulan budaya.
4. Untuk apa etnografi itu?
5. Bahasa dan penelitian lapangan.
6. Metode dan tekhnik pengumpulan data



BAB II
PEMBAHASAN


A. Apakah Etnografi Itu?
Etnografi berasal dari kata ethno yang berarti bangsa atau suku bangsa, dan graphy yang berarti tulisan. Jadi, etnografi berasal tulisan atau deskripsi mengenai kehidupan soial budaya suatu suku bangsa. Spradley menyatakan bahwa etnografi adalah menjelaskan suatu kebudayaan. Adapun Spindler, menyatakan bahwa etnografi adalah kegiatan antropologi di lapangan. Lebih lanjut ia menyatakan apabila seorang antropolog tidak memiliki pengalaman lapangan, ibarat seorang ahli bedah tidak memiliki pengalaman membedah.
Etnografi, diinjau secara harfiah, berarti tulisan atau laporan tentang suatu suku bangsa, yang ditulis oleh seorang antropolog atas hasil penelitian lapangan ( field work ) selama sekian bulan, ataau sekian tahun. Penelitian antropologis untuk menghasilkan laporan tersebut begitu khas, sehingga kemudian istilah etnografi juga digunakan untuk mengacu pada metode penelitian untuk menghasilkan laporan tersebut.(1)
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa etnografi bukan sekedar mengumpulkan data tentang orang atau kebudayaan, melainkan menggalinya lebih dalam lagi.
Etnografi, baik sebagai laporan penelitian maupun sebagai metode penelititan, dapat dianggap sebagai dasar dan asal-usul ilmu antropologi. Kutipan-kutipan kalimat dari beberapa tokoh besar antropologi seperti di bawah ini akan meyakinkan kita tentang kebenaran pernyataan di atas.
Margaret mead berkata,” Anthropology as a science is entirely dependent upon field work records made by individuals within living societies ” ( Antropologi sebagai sebuah ilmu pengetahuan secara keseluruhan tergantung pada laporan-laporan kajian lapangan yang dilakukan oleh indiviu-individu dalam masyarakat-masyarakat yang nyata hidup )
James Spradley mengatakan bahwa “ Ethnograpic fieldwork is the hallmark of cultural anthropology “ ( Kajian lapangan etnografi adalah tonggak antropologi cultural ). Jadi singkatnya, belajar tentang etnografi berarti belajar tentang jantung dari ilmu antropologi, khususnya antropologi sosial.
Ciri-ciri khas dari metode penelitian lapangan etnografi ini adalah sifatnya yang holistic-integratif, thick description, dan analisis kualitatif dalam rangka mendapatkan native’points of view ( bersifat holistic atau menyeluruh ). Artinya, kajian etnografi tidak hanya mengarahkan perhatiannya pada salah satu variable tertentu saja. Bentuk holistic didasarkan pada pandangan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan system yang terdiri dari satu kesatuan yang utuh. Teknik pengumpulan data yang utama adalah observasi-partisipasi dan wawancara terbuka dan mendalam, yang dilakukan dalam jangka waktu yang relative lama, bukan kunjungan singkat dengan daftar pertanyaan yang terstruktur seperti pada penelitian survey.
Jadi, etnografi adalah upaya untuk mendeskripsikan kebudayaan. Kebudayaan baik secara implicit maupun secara eksplisit terungkap melalui bahasa. Bahasa merupakan alat utama untuk menyebarkan kebudayaan dari satu generasi ke generasi berikutnya yang ditulis dalam bentuk linguistic. Sehingga, dalam studi etnografi, ethnolinguistik berfungsi untuk menggali kebudayaan.

B. Etnografi dan Kebudayaan
Penelitian lapangan merupakan cirri dari antropologi budaya. Baik disebuah desa di Papua Nugini maupun di jalan-jalan New York, ahli antropologi berada di tempat di mana penduduk tinggal dan “ melakukan penelitian lapang “ (2). Ini berarti dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan, menikmati berbagai masakan asing baginya, mempelajari bahasa baru, menyaksikan berbagai upacara, membuat catatan lapangan, mencuci pakaian, menulis surat kerumah, melacak garis keturunan , mengamati pertunjukkan, mewawancarai informan, dan berbagai hal lainya. Berbagai macam aktifitas ini seringkali mengaburkan tugas utama, yaitu melakukan penelitian etnografi. Makalah ini akan berusaha untuk menjelaskan tugas utama penelitian lapangan antropologi. Pada bagian ini kami akan berusaha menelusuri makna etnografi secara mendetail. Dan bagian berikutnya akan membahas bagaimana melakukan wawancara etnografi.
Etnografi merupakan pekerjaan mendeskripsikan suatu kebudayaan(3). Tujuan utama aktifitas ini adalah memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli. Sebagaimana dikemukakan oleh oleh Malinowski, tujuan etnografi adalah memahami sudut pandang penduduk asli, hubungannya dengan kehidupan, untuk mendapatkan pandangannya mengenai dunianya. Oleh karena itu, penelitian etnografi melibatkan aktifitas belajar mengenai dunia yang orang yang telah belajar melihat, mendengar, berpikir dan bertindak dengan cara-cara yang berbeda. Tidak hanya mempelajari masyarakat, lebih dari itu, etnografi berarti belajar dari masyarakat.
Inti dari etnografi adalah upaya memperhatikan makna tindakan dari kejadian yang menimpa orang yang ingin kita pahami. Beberapa makna ini terekspresikan na ini terekspresikan secara langsung dalam bahasa dan banyak diterima dan disampaikan hanya secara tidak langsung melaui kata dan perbuatan. Tetapi dalam setiap masyarakat, orang tetap menggunakan system makna yang kompleks ini untuk mengatur tingkah laku mereka, untuk memahami diri mereka sendiri dan untuk memahami orang lain., serta untuk memahami dunia di mana mereka hidup. System makna ini merupakan kebudayaan mereka, etnografi selalu mengimplikasikan teori kebudayaan.

C. Membuat Kesimpulan Budaya
Kebudayaan, sebagai pengetahuan yang dipelajari orang sebagai anggota dari suatu kelompok, tidak dapat diamati secara langsung. Orang-orang dimana mempelajari kebudayaan mereka dengan mengamati orang lain, mendengarkan mereka, dan kemudian membuat kesimpulan. Etnografer melakukan hal yang sama, yaitu dengan memahami hal yang dilihat dan didengarkan untuk menyimpulkan hal yang diketahui orang. Perbuatan ini meliputi pemikiran atas kenyataan/hal yang kita pahami atau atas hal yang kita asumsikan.anak-anak memperoleh kebudayaan mereka dari orang dewasa dan membuat kesimpulan mengenai berbagai aturan budaya untuk bertingkah laku, dengan kemahiran bahasa, proses belajar itu akan semakin cepat.
Dalam melakukan kerja lapangan, etnografer membuat kesimpulan kebudayaan dari 3 sumber:
• Dari hal yang dikatakan orang
• Dari cara orang bertindak
• Dari berbagai artefak yang digunakan orang
Penting untuk diungkapkan bahwa mempelajari budaya yang eksplisit dengan menggunakan cara orang berbicara tidak menghilangkan perlunya kita membuat kesimpulan. Mempelajari budaya eksplisit hanya mempermudah tugas yang harus dilakukan
Bagaimanapun, sebagian besar kebudayaan terdiri atas pengetahuan implicit. Kita mengetahui semua berbagai hal sehingga kita tidak dapat menceritakan atau mengungkapkan secara langsung. Etnografer kemudian harus membuat kesimpulan mengenai hal yang diketahui orang dengan cara mendengarkan yang mereka katakan, dengan mengamati tingkah laku mereka, dan dengan mempelajari berbagai artefak dan manfaatnya. Dengan merujuk pada penemuan pengetahuan budaya yang implicit itu.
Seringkali etnografi menggunakan hal yang dikatakan oleh orang dalam upaya untuk mendeskripsikan budayaan mereka. Kebudayaan yang baik implicit maupun eksplisit terungkap melalui perkataan, baik dalam komentar sederhana maupun dalam wawancara panjang. Karena bahasa merupakan alat utama untuk menyebarkan kebudayaan dari Satu generasi ke generasi berkutnya, kebanyakan kebudayaan dituliskan dalam bentuk linguistic.


D. Untuk Apa Etnografi Itu?
Etnografi adalah suatu kebudayaan yang mempelajari kebudayaan lain. Etnografi merupkan suatu bangunan pengetahuan yang meliputi teknik penelitian, teori etnografi, dan berbagai macam deskripsi kebudayaan. Etnografi berulang kali bermakna untuk membangun suatu pengertian yang sistematik mengenai semua kebudayaan manusia dari perspektif orang yang telah mempelajari kebudayaan itu. Etnografi didasarkan pada asumsi berikut : pengetahuan dari semua kebudayaan sangat tinggi nilainya. Asumsi ini membutuhkan pengujian yang cermat. Untuk tujuan apa etnografer mengumpulkan informasi? Untuk alasan apakah kita berusaha menemukan apa yang harus diketahui orang untuk melintasi salju di kutub dengan kereta luncur yang ditarik dengan anjing, hidup di desa Malenesia yang jauh, atau bekerja diberbagai pencakar langit di New York? Siapa saja harus melakukan etnografi?

• Memahami Rumpun Manusia
Kita mulai dengan tujuan antropologi sosial, yaitu untuk mendeskripsikan dan menerangkan keteraturan serta berbagai variasi tingkah laku sosial. Mungkn gambaran paling menonjol dari manusia adalah divertasinya. Mengapa suatu rumpun ini menunjukkan suatu variasi semacam itu, menciptakan pola perkawinan yang berbeda, meengkonsumsi makanan yang berbeda, mempercayai tuhan yang berbeda?dsb.. jika kita harus memahami diversitas ini maka kita harus mulai dengan mendeskripsikannya secara hati-hati. Kebanyakan diversitas dalam rum harus memahami divertasi ini maka kita harus mulai dengan mendeskripsikannya secara hati-hati. Kebanyakan diversitas dalam rumpun manusia muncul, karena diversitas suatu generasi ke generasi berikutnya. Deskripsi kebudayaan, sebagai tugas utama dari etnografi, merupakan langkah pertama dalam memahami rumpun manusia.
Oleh karena itu, dalam pengertian yang paling umum, etnografi memberikan sumbangan secara langsung dalam deskripsi dan penjelasan keteraturan serta evaluasi dalam tingkah laku sosial manusia. Banyak ilmu sosial memiliki tujuan yang lebih terbatas. Dalam studi tingkah laku manapun, etnografi mempunyai peranan penting. Kita dapat mengidentifikasikan beberapa sumbangannya yang khas.
Menginformasikan teori-teori ikatan budaya. Masing-masing kebudayaan memiliki cara untuk melihat dunia. Kebudayaan memmberikan kategori, tanda, dan juga mendefinisikan dunia dimana orang itu hidup. Kebudayaan mengandung berbagai asumsi mengenai sifat dasar realitas dan juga informasi yang spesifik mengenai realitas itu. Kebudayaan mencakup nilai-nilai yang menspesifikasikan hal yang baik, benar, dan bisa dipercaya.. apabila orang mempelajari kebudayaan, maka sanpai batas-batas tertentu dai terpenjara tanpa mengetahuinya. Para ahli antropologi mengatakan ha ini sebagai “ikatan budaya” ( culture bond ), yaitu hidup dalam realitas tertentu yang dipandang sebagai “ realitas “ yang benar.
Etnografi sendiri tidak lepas dari ikatan budaya. Namun, etnografi memberikan deskripsi yang mengungkapkan berbagai model penjelasan yang diciptakan oleh manusia. Etnografi dapat berperan sebagai penunjuk yang menunjukkan sifat dasar ikatan budaya teori-teori ilmu sosial.
Memahami masyarakat yang kompleks(3). Sampai sekarang ini, etnografi umumnya diturunkan ke berbagai kebudayaan kecil, non barat. Nilai untuk mempelajari masyarakat seperti ini sudah dapat diterima. Bagaimanapun, kita tidak banyak tahu tentang mereka, kita tidak dapat melakukan melakukan survey atau eksperimen, sehing etnografi tampaknya tepat. Tapi nilai etnografi dalam memahami kebudayaan kita sendiri sering kali diabaikan.

E. Bahasa dan Penelitian Lapangan
Bahasa memegang peran penting dalam pengalaman manusia. Dalam membuat etnografi, bahasa menyusuan catatan lapangan kita dan masuk kedalam setiap alisis dan wawasan . bahasa menyerap pertemuan kita dengan informan. Apapun yang pendekatan yang digunakan etnografer ( pengamatan terlibat,wawancara etnografis, mengumpulkan kisah-kisah kehidupan, campuran dari berbagai strategi) bahasa masuk kedalam setiap fase proses penelitian. Etnografer paling tidak dihadapkan pada dua bahasa ( bahasa mereka sendiri dan bahasa yang digunakan informan ). Jika kita membagi pekerjaan etnografi menjadi dua tugas utama, yaitu penemuan dan deskripsi, maka kita dapat melihat dengan jelas peran penting yang dimainkan oleh bahasa.

1. Bahasa dan Penemuan
Bahasa lebih dari sekedar alat mengkomuniaksikan realitas, nahasa merupakan alat menyusun realitas. Bahasa yang berbeda menciptakan dan mengekspresikan realitas yang berbeda. Bahasa yang berbeda memberikan pola-pola alternative untuk berpikir dan memahami. Dalam upaya untuk menemukan realitas budaya suatu kelompok penduduk tertentu, etnografer menghadapi satu pertanyaan penting; Bahasa apa yang akan saya gunakan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mencatat makna-makna yang saya temukan? Jawaban atas pertanyaan ini mempunyai implikasi yang sangat dalam bagi seluruh perkerjaan etnografis.
Karena etnografi pada mulanya dilakukan terhadap masyarakat non-Barat, maka mempelajari bahasa penduduk asli menduduki priritas tertinggi. Mempelajari bahasa menjadi dasar dari penelitian lapangan. Mempelajari bahasa merupakan langkah paling awal dan penting utuk mencapai tujuan utama etnografi mendeskripsikan suatu kebudayaan dengan batasan-batasan sendiri.


2. Bahasa dan Deskripsi Etnografi
Hasil akhir dari pembuatan etnografi adalah suatu deskripsi verbal mengenai situasi budaya yang dipelajari. Bahkan film-fil etnografi tidak mendeskripsikan tanpa berbagai statemen verbal yang memberitahu penonton hal-hal yang dapat dilihat orang yang difilmkan dan bagaimana mereka dapat menginterpretasikan suasana yang disajikan.
Oleh karena itu, deskripsi etnografi, tak dapat disangkal lagi melibatkan bahasa. Etnografer biasanya menulis dalam bahasa asli yang digunakannya atau dalam bahasa khalayak khususnya seperti mahasiswa, ahli, atau masyarakat umum. Tapi, bagaimana mungkin mendeskripsikan suatu budayadalam istila-istilahnya sendiri sementara menggunakan bahasa asing? Jawabannya terletak pada kenyataan bahwa setiap deskripsi etnografi merupakan suatu terjemahan. Demikianlah deskripsi etnografi harus menggunakan istilah-istilah asli ( native ) dan makna-maknanya juga menggunakan istilah yang digunakan oleh etnografer.

F. Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa metode adalah cara kerja yang bersistem (teratur) untuk mempermudah suatu kegiatan, atau untuk mencapai suatu hasil yang sudah ditentukan. Metode yang cocok untuk studi etnografi antara lain :

1. Metode observasi/ pengamatan
Metode observasi disebut juga metode pengamatan lapangan. Metode ini dilakukan melalui pengamatan inderawi., yaitu dengan melakukan pencatatan terhadap gejala-gejala pada objek penelitian secara langsung dilapangan.
Pada metode ini pengumpulan data dilakukan dengan mencatat semua kejadian atau fenomena yang diamatai ke dalam catatan lapangan ( field notes ).

a. Jenis-jenis metode pengamatan
Ada tiga macam jenis pengamatan, yaitu :

1. Pengamatan biasa
Pengamatan yang dilakukan tanpa terlibat atau kontak langsung dengan informan yang menjadi sasaran penelitiannya.
2. Pengamatan terkendali
Konsepnya hampir sama dengan pengamatan biasa. Akan tetapi perbedaanya pada metode ini peneliti terlebih dahulu memilih secara khusus calon informan sehingga mudah untuk diamati.
3. Pengamatan terlibat
Atau bisa disebut pengamatan partisipasi, yaitu metode di mana selain mengamati, peneliti juga ikut terlibat dalam kegiatan yang berlangsung serta mengadakan hubungan emosional dan soial dengan para informannya. Metode yang dalam bahasa Jerman disebut “verstehen” ini merupakan metode paling umum digunakan dalam penelitian etnografi.
4. Pengamatan penuh
Yaitu penelitian mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang sedang diteliti. Peneliti sudah diterima dan masuk ke dalam struktur masyarakat yang diamatinya. Dalam kondisi seperti ini, peneliti dapat dengan mudah bergaul.

b. Keuntungan dan Kelemahan Metode Pengamatan
Adapun keuntungan dan kelemahan metode observasi adalah :
1. Keuntungannya antara lain :
• Data yang diperoleh adalah data langsung dari informan (data primer).
• Data yang diperlukan diperoleh dalam waktu yang relative singkat.

2. Kelemahannya antar lain :
• Terbatasnya kemampuan pengamatan menyebabkan banyak informasi yang terlewat.
• Terbatasnya dana dan waktu dikarenakan factor jarak yang jauh dari tempat peneliti.

c. Prinsip-prinsip pengamatan
Beberapan prinsip yang harus diperhatikan oleh para peneliti sebelum mengadakan pengamatan, antara lain :
• Pengamatan harus dilakukan secara cermat, jujur, objectife, serta terfokus.
• Mempertimbangkan luas-tidaknya objek yang diteliti. Yang perlu diingat adalah semakin banyak objek yang diamati, maka pengamatan semakin sulit dilakukan.
• Menentukan cara dan prosedur pengamatan terlebih dahulu.
• Merencanakan apa saja yang akan dicatat serta bagaimana cara membuat catatan pengamatan.


2. Metode wawancara
Wawancara etnografi merupakan jenis peristiwa percakapan (speech event) yang khusus(5). Metode wawancara merupakan metode untuk memperoleh data dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada informan.

a. Jenis-jenis Wawancara

1. Wawancara berencana, yaitu wawancara yang dilaksanakan melalui teknik-teknik tertentu, antara lain menyusun sejumlah pertanyaan sedemikian rupa dalam bentuk angket questioner.
2. Wawancara tidak berencana, yaitu wawancara yang tidak direncanakan secara sistematis dan tidak menggunakan pedoman wawancara. Wawancara ini dilaksanakan untuk memperoleh tanggapan tentang pandangan hidup, system keyakinan, atau keagamaan.
Metode wawancara tidak berencana masih terbagi lagi menjadi 2 macam yaitu :
a. Wawancara terfokus (focused interview), yaitu terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak berstruktur, tetapi terpusat pada satu pokok.
b. Wawancara bebas (free interview), yaitu pertanyaan yang tidak terpusat, melainkan dapat berpindah-pindah pokok pertanyaan.
Adapun jika dilihat dari bentuk pertanyaannya, kedua wawancara di atas dapat dibagi lagi menjadi 2 kategori yaitu :
1. Wawancara tertutup, yaitu terdiri dari berbagai pertanyaan yang jawabannya terbatas. Terkdang pilihan jawaban hanya berbentuk “ya” dan “tidak”.
2. Wawancara terbuka, yaitu pertanyaan yang jawabannya berupa keterangan atau cerita yang luas.

b. Keuntungan dan Kelemahan Metode wawancara :

1. Keuntungannya antara lain :
• Data yang diperoleh sesuai dengan harapan dan tujuan peneliti.
• Dapat memperoleh data yang sifatnya pribadi.
• Akan terjadi hubungan yang baik (rapport) antara pewawancara dengan yang diwawancarai.

2. Kelemahannya antar lain :
• Memerlukan waktu yang cukup lama.
• Memerlukan biaya yang cukup besar.
• Sulit mencari waktu yang tepat untuk mengadakan wawancara.


c. Teknik Bertanya dalam Wawancara
Seorang peneliti dalam melakukan wawancara, baik yang sifatnya tertutup maupun terbuka, harus memperhatikan beberapa ketentuan berikut :
• Menghindari kata-kata yang mempunyai dua arti kata atau lebih.
• Menghindari pertanyaan-pertanyaan panjang.
• Membuat pertanyaan sekonkrit mungkin dengan penunjuk waktu dan lokasi yang konkret pula.
• Mengajukan peratnyaan yang mengenai pengalaman konkret informan.
• Membatasi alternative jawaban. Hal ini dilakukan agar informan tidak bingung dan dapat menjawab peratanyaan dengan baik.
• Dalam wawancara tentang hal-hal yang membuat informan canggung dan malu, peneliti hendaknya menghaluskan beberapa istilah.

d. Tahapan Wawancara
Dalam melakukan wawancara, peneliti harus memahami terlebih dahulu beberapa tahapan yang harus dilaui. Hal ini bertujuan untuk agar ketika peneliti terjun kelapangan untuk mengadakan wawancara, peneliti tidak canggung sehingga proses wawancara dapat berjalan lancer. Beberapa tahapan yang harus dilalui antara lain :
1. Tahap persiapan
Pada tahap ini, pewawancara menyeleksi terlebih dahulu informan, kemudian mengadakan pendekatan terhadap individu yang telah diseleksi, serta membina komunkasi yang baik dengan tujuan agar informan bersedia menjwab dengan jujur, objektif, kooperatif, dan memberikan informasi sebanyak-banyaknya.
2. Tahap pelaksanaan
Ketika akan memulai wawancara, peneliti hendaknya menjelaskan identitas pribadi, maksud dan tujuan wawancara, serta sifat wawancara (rahasia atau tidak).
3. Tahap Pencatatan
Pencatatan data wawancara dapat dilakukan melalui 5 cara, yaitu :
• Pencatatan langsung pada saat wawancara.
• Pencatatan dengan ingatan.
• Pencatatan dengan alat perekam.
• Pencatatan dengan field rating.
• Pencatatan dengan field coding.





INDEKS

1. James P.Spradley, metode etnografi (Jakarta : PT. Tiara Wacana Yogya, 1997), hlm. Xv

2. Freilich (1970), Kimbal dan Watson (1972), dan Splinder (1970)

3. Istilah etnografi digunakan untuk menunjukkan aktivitas mempelajari kebudayaan dan dengan produk akhir sebuah etnografi.

4. Manis dan Meltzer (1967), Blumer (1969), pengantar perspektif teoritis.

5. James P.Spradley, metode etnografi (Jakarta : PT. Tiara Wacana Yogya, 1997), hlm. xv





BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Etnografi, diinjau secara harfiah, berarti tulisan atau laporan tentang suatu suku bangsa, yang ditulis oleh seorang antropolog atas hasil penelitian lapangan ( field work ) selama sekian bulan, ataau sekian tahun. Penelitian antropologis untuk menghasilkan laporan tersebut begitu khas, sehingga kemudian istilah etnografi juga digunakan untuk mengacu pada metode penelitian untuk menghasilkan laporan tersebut.
Etnografi merupakan pekerjaan mendeskripsikan suatu kebudayaan. Tujuan utama aktifitas ini adalah memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli. Sebagaimana dikemukakan oleh oleh Malinowski, tujuan etnografi adalah memahami sudut pandang penduduk asli, hubungannya dengan kehidupan, untuk mendapatkan pandangannya mengenai dunianya. Oleh karena itu, penelitian etnografi melibatkan aktifitas belajar mengenai dunia yang orang yang telah belajar melihat, mendengar, berpikir dan bertindak dengan cara-cara yang berbeda. Tidak hanya mempelajari masyarakat, lebih dari itu, etnografi berarti belajar dari masyarakat.
Etnografi adalah suatu kebudayaan yang mempelajari kebudayaan lain. Etnografi merupkan suatu bangunan pengetahuan yang meliputi teknik penelitian, teori etnografi, dan berbagai macam deskripsi kebudayaan.
Selain menggunakan metode observasi partisipasi dan wawancara, studi etnografi juga dapat dilakukan melalui fieldwork sendiri dalam waktu yang cukup lama. Dalam studi etnografi, istilah bagi orang yang diwawancarai oleh antropolog adalah informan kerena fungsinya sebagai pemberi informasi mendalam (depth interview) dalam pertanyaan terbuka.
Bahasa memegang peran penting dalam pengalaman manusia. Dalam membuat etnografi, bahasa menyusuan catatan lapangan kita dan masuk kedalam setiap alisis dan wawasan . bahasa menyerap pertemuan kita dengan informan. Apapun yang pendekatan yang digunakan etnografer ( pengamatan terlibat,wawancara etnografis, mengumpulkan kisah-kisah kehidupan, campuran dari berbagai strategi) bahasa masuk kedalam setiap fase proses penelitian. Etnografer paling tidak dihadapkan pada dua bahasa ( bahasa mereka sendiri dan bahasa yang digunakan informan ). Jika kita membagi pekerjaan etnografi menjadi dua tugas utama, yaitu penemuan dan deskripsi, maka kita dapat melihat dengan jelas peran penting yang dimainkan oleh bahasa.




DAFTAR PUSTAKA


Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Spradley, James.P. 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta : Tiara Wacana Yogyakarta

Senin, 14 Juni 2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Semesta Alam yang tak pernah berhenti member segala nikmat-Nya. Sholawat serta salam tak lupa, tetap tercurah kepada junjungan kita, Nabi besar SAW yang telah membawa kita ke jalan yang lurus, jalan yang terang benderang yaitu Addinul Islam. Ucapan syukur termat dalam kami sampaikan kepada Allah SWT, yang telah member segala kemurahan-Nya untuk kami, sehingga dapat mentelesaikan tugas makalah Civic Education ini tanpa suatu halangan yang berarti.
Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Ibu Siti Azizah, S.Ag. , yang telah membimbing kami sehingga kami dapat melaksanakan tugas yang beliau berikan kepada kamisebagai tugas praktik, materi yang akan dibahas nantinya. Dengan adanya tugas ini membuat kami jadi lebibuat kami jadi lebih mnguasai materi, lebih paham, dan menjiwai sebagai rakyat bangsa Indonesia, yang Insya Allah dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Amin…..
Kami ucapkan juga terima kasih kepada seluruh teman-teman yang ikut berpartisipasi dalam membantu menyelesaikan tugas makalah Civic Education ini. Kami mohon maaf apabila masih ada banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, dikarenakan semua di dunia tak ada yang sempurna, kecuali Allah semata. seurangan dalam penyusunan makalah ini, dikarenakan semua di dunia tak ada yang sempurna, kecuali Allah semata. Semoga bermanfaat bagi semua.

Surabaya, 11 April 2010

Penyusun





BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan masalah
C. Tujuan

BAB II. PEMBAHASAN
A. Definisi Civil society
B. Ciri – Ciri atau Karakteristik dari Masyarakat Madani
C. Masyarakat Madani Di Indonesia
D. Masyarakat Madani dalam Islam

BABB III. PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Negara Indonesia yang telah merdeka ratusan tahun yang lalu, memberikan banyak PR bagi rakyat Indonesia. Masius, beih banyak yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia untuk meneruskan perjuangan para pahlawan yang telah gugur. Cita-cita bangsa, cita-cita para pahlawan yang telah gugur, membuat generasi penerus, khususnya generasi muda saat ini untuk belajar lebih serius, bekerja lebih keras untuk membuat bangsa ini, Bangsa Indonesia menjadi lebih maju, maju, dan maju dan tentunya untuk mengejar ketinggalan dengan bangsa lain.
Pembenahan dalam segala bidang itu tak cukup hanya dengan semangat, tetapi penjiwaan di dalam hati mempraktikan, pedoman bangsa Indonesia yaitu Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Banyak yang harus dipelajari oleh generasi muda saat ini, terutama mahasiswa di bangku kuliah, tentang Pendidikan Kewarganegaraan, tentang falsafah negara, begitu juga tentang masyarakat Indonesia itu sendiri. Silabi yang sudah disediakan untuk mahasiswa semester dua, adalah mempelajari banyak pokok bahasan tentang Civil Society. Mempelajari tentang masyarakat sipil, yang perlu dipelajari oleh mahasiswa, selain mereka harus mempelajari pokok bahasan konstitusi, demokrasi, identitas nasional, otonomi daerah, dan masih banyak lagi.
Tentunya ini semua dipelajari untuk agar generasi muda dapat mengetahui pengetahuan tentang Kewarganegaraan agar dapat lebih menjiwai sebagai warga negara Indonesia dan dapat mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari guna meneruskan cita-cita para pahlawan yang telah gugur untuk memaukan bangsa Indonesia menjadi maju, dan tidak tertindas oleh bangsa-bangsa yang lain.
Makalah Civic Education kali ini akan membahas tentang pokok bahasan Civil Society. Banyak yang akan dijelaskan di sini. Semoga bermanfaat bagi semua.



B. Rumusan Masalah

1. Definisi dari “Civil Society”, serta sejarah singkat dari civil society.
2. Karakteristik dari Civil Society atau masyarakat Madani.
3. Msyarakat Madani di Indonesia.
4. Masyarakat Madani atau Civil Society dalam Islam.



C. Tujuan

1. Untuk dapat mengetahui apa itu Civil Society.
2. Untuk dapat mengetahui papa saja cirri-ciri atau karakteristik dari Civil Society.
3. Untuk dapat mengetahui keberadaan Civil Society atau Masyarakat Madani di Indonesia.
4. Untuk dapat mengetahui Masyarakat Madani dalam Islam itu seperti apa.





BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Civil Society

Masyarakat madani ( civil society ) pada mulanya merupakan sebuah konsep filsafat berkenan dengan system kenegaraan. Secara historis, konsep ini bermula dari pemikiran Aristoteles yang kemudian di kembangkan oleh Marcus Tullius, seorang filosof Romawi Kuno ( 106 – 43 ). Ia memunculkan istilah societies civilizes, sebuah komunitas yang mendominasi komunitas lain dalam konsep negara kota. Konsep kenegaraan ini dimaksudkan untuk mengggambarkan kerajaan kota dan bentuk korporasi lainnya sebagai kesatuan yang teroganisir. Dalam tradisi Eropa, hingga abad XVIII, pengertian Civil Society dianggap memiliki pengertian sama dengan pengertian negara ( the state ), yaitu suatu kelompok yang menguasai kelompok lain. Dengan demikian, konsep civil society berasal dari dunia barat, tepatnya berasal dari pergolakan politik dan sejarah masyarakat Eropa Barat yang mengalami transformasi dari kehidupan feudal menuju kehidupan masyarakat industry kapitalis.(1)
Terjemahan civil society menjadi masyarakat madani, pertama kali dikemukakan oleh Dato Seri Anwar Ibrahim untuk mensifati masyarakat yang sudah memiliki peradaban maju, istilah madani sendiri mempunyai hubungan yang erat dengan istilah tamadun atau peradaban. Dengan demikian, civil society atau masyarakat madani bisa diartikan sebagai kota peradaban atau masyarakat kota, suatu masyarakat yang beradap, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian, penegakan nilai-nilai demokrasi, dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia.(2)


SEJARAH DAN PERKEMBANGAN MASYARAKAT MADANI

Untuk memahami masyarakat madani terlebih dulu harus dibangun paradigm bahwa konsep masyarakat madani ini bukan merupakan suatu konsep yang final dan sudah jadi, melainkan ia merupakan sebuah wacana harus dipahami sebagai sebuah proses. Oleh karena itu, untuk memahaminya haruslah dianilisis secara historic.
Jika dicari akar sejarahnya dari awal, maka perkembangan wacan masyarakat madani dapat diruntut melalui dari Cicero sampai pada Antonio G’amsci dan de’ Tocquiville. Bahkan menurut Mafred Ridel, Cohen dan Aroto serta M.Dawam Rahardjo(3), wacana masyarakat madani ini sudah mengemuka pada masa Aristoteles, seperti yang sudah disebutkan di awal pembahasan.

1. Pada masa Aristoteles ( 384 – 322 ), “ masyarakat madani dipahami sebagai system kenegaraan dengan menggunakan istilah koninonia politike, yakni sebuah komunitas politik tempat warga dapat terlibat langsung dalam berbagai peraturan ekonomi politik dan pengambilan keputusan”.

2. Konsepsi Aristoteles ini diikuti oleh Marcus Tullis Cicero ( 106 – 43 ) dengan istilah societies civilizes, yaitu sebuah komunitas yang mendominasi komunitas lain. Terma yang dikedepankan oleh Cicero ini lebih menekankan pada konsep negara kota ( city – state ), yakni untuk menggambarkan kerajaan, kota dan bentuk korporasi lainnya, sebagai kesatuan yang terorganisir.

3. Selanjutnya konsepsi masyarakat madani yang eksentuasinya pada system kenegaraan ini dikembangkan pula oleh Thomas Hobbes ( 1588 – 1679 ) dan Jhon Locke ( 1632 – 1704 ) selain Aristoteles dan Marcus Tullius Cicero. Menurut Hobbes, masyarakat madani harus memiliki kekuasaan mutlak, agar mampu sepenuhnya mengontrol dan mengawasi secara ketat pola-pola interaksi ( previl politik ) setiap warga negara. Sementara menurut John Locke, kehadiran masyarakat madani dimaksudkan untuk melindungi kebebasan dan hak milik setiap warga negara. Konsekuensinya adalah, masyarakat madani tidak boleh absolute dan harus membatasi perannya dalam wilayah yang tidak bisa dikelola masyarakat dan memberikan ruang yang manusiawi bagi warga negara untuk memperoleh haknya secara adil dan proporsional.

4. Pada tahun 1767, wacana masyarakat madani dikembangkan oleh Adam Fergusson. Ia menekankan masyarakat madani pada sebuah visi etis dalam kehidupan bermasyarakat. Pemahamannya ini digunakan untuk mengantisipasi perubahan sosial yang diakibatkan oleh revolusi industry dan munculnya kapatilisme, serta mencoloknya perbedaan antara public dan individu.

5. Pada tahun 1792, berbeda dengan aksentuasi wacana masyarakat madani sebelum-belumnya. Thomas Pane ( 1737 – 1803 ) berpendapat masyarakat madani adalah ruang di mana warga dapat mengembangkan kepribadian dan member peluang bagi pemuasan kepentingannya secara bebas dan tanpa paksaan.(4)

6. Perkembangan civil society selanjutnya dikembangkan oleh G.W.F Hegel ( 1770 – 183 M ), Karl Marx ( 1818 – 1883 ) dan Antonio Gramsci ( 1891 – 1837 M ). Wacana masyarakat madani yang dikembangkan oleh ketiga tokoh ini menekankan pada masyarakat madani sebagai elemen ideology kelas dominan. Pemahaman ini lebih merupakan sebuah reaksi dari model pemahan yang dilakukan oleh Pane ( yang menganggap masyarakat madani sebagai bagian terpisah dari negara ). Menurut Hegel masyarakat madani merupakan kelompok subordinatif dari negara. Pemahaman ini, menurut Ryas Rasyid, erat kaitannya dengan fenomena masyarakat berjuasi Eropa yang pertumbuhannya ditandai dengan perjuangan melepaskan diri dari dominasi negara.

7. Periode berikutnya, wacana masyarakat madani dikembangkan oleh Alexis de’ Toquiville ( 1805 – 1859 M ). Masyarakat madani sebagai entitas penyeimbang kekuatan negara. Bagi de’ Toquiville, kekuatan politik dan masyarakat madanilah yang menjadikan demokrasi di Amerika mempunyai daya tahan. Dengan terwujudnya pluralisme kemudian dan kapitalis politik di dalam masyarakat madani, maka warga negara akan mampu mengimbangi dan mengontrol kekuatan negara.(5)

Gagasan tentang masyarakat madani kemudian menjadi semacam landasab ideologis untuk membebaskan diri dari cengkraman negara yang secara sistematis melemahkan daya kreasi dan kemandirian masyarakat.(6)


B. Ciri – Ciri atau Karakteristik dari Masyarakat Madani

Adapun ciri-ciri dari civil society atau masyarakat madani adalah antara lain :
1. FREE PUBLIC SPHERE
2. DEMOKRATIS
3. TOLERAN
4. PLURALISME
5. KEADILAN SOSIAL ( SOCIAL JUSTICE )

Yang dimaksud dengan free public sphere adalah adanya ruang public yang bebas sebagai sarana dalam mengemukakan pendapat. Pada ruang public yang bebaslah individu dalam posisinya setara mampu melakukan transaksi-transaksi wacana dan praksis politik tanpa mengalami distorsi ( memutar balikkan fakta ) dan kekhawatiran.
Kemudian yang dimaksud dengan demokratis adalah merupakan suatu etintas ( langkah ) yang menjadi penegak wacana masyarakat madani, di mana dalam menjalani kehidupan, warga negara memiliki kebebasan penuh untuk menjalankan aktivitas kesehariannya, termasuk dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Selanjutnya yang dimaksud toleran adalah merupakan sikap yang dikembangkan dalam masyarakat madani untuk menunjukkan sikap saling menghargai dan mnghormati ( aktivitas ) yang dilakukan oleh orang lain.(7)
Adapun yang dimaksud dengan pluralism adalah sebagai prasyarat bagi tegaknya masyarakat madani. Maka pluralism harus dipahami secara mengakar dengan menciptakan sebuah tatanan kehidupan yang menghargai dan menerima kemajemukan dalam konteks kehidupan sehari – hari.(8)
Dan yang terakhir adalah keadilan sosial ( social justice ). Keadilan dimaksudkan untuk menyebutkan keseimbangan dan pembagian yang proporsional terhadap hak dan kewajiban setiap warga negara yang mencakup seluruh aspek kehidupan.


C. Masyarakat Madani Di Indonesia

Berbicara mengenai kemungkinan berkembangya masyarakat di Indonesia selain berkembang dan berasal dari kawasan Eropa Barat, ternyata perkembangan masyarakat madani di Indonesia diawali dengan kasus – kasus pelanggaran HAM dan pengekangan kebebasan berpendapat, berserikat dan kebebasan untuk mengemukakan pendapat di muka umum (9). Kemudian dilanjutkan dengan munculnya berbagai lembaga – lembaga non pemerintah yang mempunyai bagian dari social control. Sejak zaman order lama dengan rezim Demokrasi Terpimpinnya Soekarno, sudah terjadi manipulasi peran serta masyarakat untuk kepentingan politis dan terhegemoni sebagai alat legitimasi politik. Hal ini pada akhirnya mengakibatkan kegiatan dan usaha yang dilakukan oleh anggota masyarakat dicurigai sebagai contra revolusi. Fenomena tersebut merupakan salah satu indikasi bahwa di Indonesia pada masa Soekarno pun mengalami kecenderungan untuk membatasi gerak dan kebebasan public dalam mengeluarkan pendapat.
Sampai pada masa ORBA pun pengekangan demokrasi dan penindasan HAM tersebut kian terbuka seakan menjadi tontonan gratis yang bisa dinikmati oleh siapapun bahkan untuk segala usia. Hal ini dapat dilihat dari berbagai contoh kasus yang pada masa ORBA berkembangan. Misalnya kasus pembrendelan lembaga pers, seperti AJI, DETIK, dan TEMPO. Fenomena ini merupakan sebuah fragmentasi kehidupan yang mengekang kebebasan warga negara dalam menyalurkan aspirasinya di muka umum, apalagi ini dilakukan pada lembaga pers yang nota bene memiliki fungsi sebagai bagian dari social control dalam menganalisa dan mensosialisasikan berbagai kebijakan yang betul – betul merugikan masyarakat.
Selain itu, banyak terjadi pengambil alihan hak tanah rakyat oleh penguasa dengan alasan pembangunan, juga merupakan bagian dari penyelewengan dan penindasan HAM, karena hak atas tanah yang secara sah memang dimiliki oleh rakyat, dipakasa dan diambil alih oleh penguasa hanya karena alas an pembangunan yang sebenarnya bersifat semu. Di sisi lain pada era ORBA banyak terjadi tindakan – tidakan anarkhisme yang dilakukan oleh masyarakat sendiri. Hal ini slah satu indikasi bahwa di Indonesia pada saat itu tidak dan belum mnyadari pentingnya toleransi dan semngat pluralism.(10)
Munculnya wacana civil society di Indonesia sendiri banyak disuarakan oleh kalangan tradisionalis ( termasuk NU ), bukan oleh kalangan modernis. Hal ini bisa dipahami karena pada masa tersebut, kalangan tradisionalis adalah komunitas yang tidak sepenuhnya terakomodasi dalam negara. Di kalangan tradisionalis dikembangkan wacana civil society yang dipahami sebagai masyarakat non – negara dan selalu tampil berhadapan denga negara. Kalangan muda tradisionalis begitu keranjingan dengan wacana civil society, dengan mendirikan berbagai basis organisasi keislaman.(11)
Melihat itu semua, maka diperlukan pengembangan masyarakat dengan menerapakan strategi pemberdayaan sekaligus agar proses pembinaan dan pemberdayaan itu mencapai hasilnya secara optimal. Dalam hal ini, menurut Dawam ada tiga strategi yang slah satunya dapat digunakan sebagai strategi dalam memberdayakan masyarakat madani di Indonesia :

1. Strategi yang lebih mementingkan integerasi nasional dan politik.
2. Strategi yang lebih mngutamakan reformasi system politik demokrasi.
3. Strategi yang memilih membangun masyarakat madani sebagai basis yang kuat kea rah demokratisasi

Untuk mewujudkan ketiga model strategitersebut menurut AS.Hikam, perlu dipikirkan prioritas – prioritas pemberdayaan dengan cara memahami target – target grup yang paling strategis penciptaan pendekatan – pendekatan yang tepat di dalam proses tersebut. Untuk keperluan itu, maka keterlibatan kaum cendikiawan, LSM, ormas sosial dan keagamaan serta mahasiswa adalah mutlak adanya, karena mereka yang memiliki kemampuan dan sekaligus actor pemberdayaan tersebut.(12)


D. MASYARAKAT MADANI DALAM ISLAM

Civil society yang lahir di barat di islamakan menjadi masyarakat madani, yaitu suatu kondisi masyarakat kota Madinah bentukan Nabi Muhammad SAW, di mana kehidupan masyarakat Madinah saat itu sangat menjunjung tinggi prinsip – prinsip civil society yang lahir dari barat.(13)
Dalam pandangan Gus Dur, islam sebagai agama universal tidak mengatur bentuk negara yang terkait dengan konteks ruang dan waktu sehinggga Nabi Muhammad SAW sendiri tidak menanamkan sebagai kepala negara islam dan Nabi tidak melontarkan ide suksesi yang tentunya sebagai prasyarat bagi kelangsungan negara. Walauppun nabi telah melakukan revolusi dalam masyarakat arab, tetapi ia sangat menghormati tradisi dan memperbaharuinya secara bertahap sesuai dengan psikologi manusia karena tujuannya bukanlah menciptakan orde baru, tapi untuk mendidik manusia dalam mencapai keselamatan terwujudnya kebebasan, keadilan, dan kesejahteraan.(14)
Selain itu Nabi Muhammad juga terbuka terhadap peradapan lain, di samping sifat univerasalisme. Dalam islam sendiri terdapat lima jaminan dasar dalam pengembangan peradaban, yaitu :

1. Keselamatan fisik warga masyarakat dari tindakan badani di luar tindakan hukum.
2. Keselamatan keyakinan agama masing – masing, tanpa adanya paksaan untuk berpindah agama.
3. Keselamatan keluarga dan keturunan.
4. Keselamatan harta benda dan milik pribadi di luar prosedur hukum.
5. Keselamatan profesi

Nabi Muhammad SAW telah menampilkan peradaban islam yang cosmopolitan dengan konsep umay yang menghilangkan etnis, pluralitas budaya, dan heterogenitas politik. Peardaban islam yang tercapai bila tercapai keseimbangan antara kecenderungan normative kaum muslimin dan kebebasan berpikir semua warga masyarakat.
Dunia islam melakukan penyetaraan utnuk menunjuk, bahwa di satu sisi, islam mempunyai kemampuan untuk diinterpretasikan yang sesuai dengan perkembangan zaman, dan di sisi lain, masyarakat ideal produk islam yang bisa dipersaingkan dengan konsep civil society.(15)
Istilah “ Masyarakat Madani “ ini banayk digunakan oleh kalangan cendikiawan Muslim di Indonesia. Sebagian cendikiawan non – muslim juga sering memakai istilah itu. Cendikiawan muslim pengguna istilah “ Masyarakat Madani “ umumnya berlatar “ islam modernis “, sedangkan kaum cendikiawan muslim dengan islam berlatar “ islam cultural “ umumnya memilih istilah “ masyarakat sipil “ atau “ civil society “.(16)



INDEKS

1. Adeng Muchtar Ghazali, M.Ag, Civic Education pendidikan keawarganegaraan perspektif islam ( Bandung : Benang Merah Press, 2004 ) hal.107

2. Adeng Muchtar Ghazali, M.Ag, Civic Education pendidikan keawarganegaraan perspektif islam ( Bandung : Benang Merah Press, 2004 ) hal 108

3. Dede Rosyada dkk, Demokrasi Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani ( Jakarta Timur : Prenada Media, 2000 ) hal.242

4. Dede Rosyada dkk, Demokrasi Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani ( Jakarta Timur : Prenada Media, 2000 ) hal.243

5. Dede Rosyada dkk, Demokrasi Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani ( Jakarta Timur : Prenada Media, 2000 ) hal.245

6. Dede Rosyada dkk, Demokrasi Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani ( Jakarta Timur : Prenada Media, 2000 ) hal.246

7. Dede Rosyada dkk, Demokrasi Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani ( Jakarta Timur : Prenada Media, 2000 ) hal.248

8. Dede Rosyada dkk, Demokrasi Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani ( Jakarta Timur : Prenada Media, 2000 ) hal.249

9. Dede Rosyada dkk, Demokrasi Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani ( Jakarta Timur : Prenada Media, 2000 ) hal.256

10. Dede Rosyada dkk, Demokrasi Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani ( Jakarta Timur : Prenada Media, 2000 ) hal.257





BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

1. Civil society mempunyai banyak nama lain, nama civil society ini sendiri berasal dari dunia barat tepatnya berasal dari pergolakan politik dan sejarah masyarakat eropa barat. Yang mengalami tranformasi dari kehidupan feodal menuju masyarakat barat yang modern.

Sedangkan, istilah civil society menjadi masyarakat madani, pertama kali dikemukakan oleh Dato Seri Anwar Ibrahim untuk mensifati masyarakat yang sudah memiliki peradapan maju.

Dengan demikian civil society atau masyarakat madani bisa diartikan sebagai kota peradapan atau masyarakat kota, suatu masyarakat yang beradab, yang menjunjung tinggi nilai – nilai kemanusiaan, penegakan nilai – nilai demokrasi dan penghormatan terhadap hak – hak asasi manusia.

Adapun sejarah singkat dari civil societyini ini adalah berawal dari perkembangan wacana masyarakat madani yang diungkapkan oleh :

• Aristoteles ( 384 – 322 SM )
• Marsus Tullius Cicero ( 106 – 43 SM )
• Thomas Holbes ( 1588 – 1679 M )
• John Locke ( 1632 – 1704 M )
• Adam Fergusson ( 1767 )
• Thomas Paine ( 1737 – 1803 )
• G.W.F Hegel ( 1770 – 1831 M )
• Karl Marx ( 1818 – 1883 M )
• Alexis de’ Touqueville ( 1805 – 1859 M )

2. Jadi cirri – ciri civil society adalah :
• Free public sphere / adanya ruang public yang bebas untuk mengemukakan pendapat, terutama berkaitan dengan kepentingan public.
• Demokratis ( penegakan demokratis ).
• Toleran ( sikap saling menghargai dan menghormati aktivitas yang dilakukan oleh orang lain ).
• Pluralisme ( prasyarat bagi tegaknya masyarakat madani ).
• Keadilan sosial ( social justice ).

3. Masyarakat madani di Indonesia itu adalah pada mulanya di awali dengan kasus – kasus pelanggaran HAM. Pengekangan kebebasan berpendapat, berserikat dan kebebasan untuk mengemukakan pendapat di muka umum. Dapat dikatakan masyarakat madani sukar tumbuh dan berkembang di Indonesia pada masa Orba. Muncul wacana civil society di Indonesia banyak disuarakan oleh kalangan tradisionalis seperti dari kalangan NU.

4. Civil society, yang lahir di barat di Islamkan menjadi masyarakat madani, yaitu suatu kondisi masyarakat kota madinah bentukan nabi Muhammad SAW, di mana kehidupan masyarakat madinah saat itu menjunjung tinggi prinsip – prinsip dalam civil society yang lahir dari barat.





DAFTAR PUSTAKA


Culla, Adi Suryadi. 2006. Rekrontruksi Civil Society Wacana dan Aksi Ornop di Indonesia. Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia.

Ghazali, Adeng Muchtar. 2004. Pendidikan Kewarganegaraan Perspektif Islam. Bandung : Benang Merah Press.

Rosyada, Dede. 2000. Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Jakarta Timur : Prenada Media.

Trianto dan Titik Triwulan Tutik. 2007. Falsafah Negara dan Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta : Prestasi Pustaka.