Senin, 04 April 2011


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Seringkali dengan mudahnya orang mendefinisikan remaja sebagai periode masa transisi antara masa kanak-kanak ke masa dewasa, atau usia belasan tahun, atau jika seseorang menunjukkan tingkah laku tertentu seperti susah tidur, mudah terangsang perasaannya dan sebagainya. Namun medefinisikan remaja tidaklah semudah itu.
Masa remaja pada masa 11 tahun ciri-ciri sekunder telah nampak, tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas diri (ego identity, menurut Erik Erikson), tercapainya fase genital dari perkembangan psikoseksual (menurut Freud) dan tercapainya puncak perkembangan kognitif (Piaget) maupun moral (Kohlberg) kriteria psikologik. Pada makalah ini akan menjelaskan teori-teori tentang perkembangan remaja yang meliputi perkembangan kognitif, psikoanalisis, tingkah laku dan belajar social, serta ekologis dari beberapa tokoh-tokoh psikologi. 
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana remaja dalam perkembangan jiwa manusia?
2.      Bagaimana pendapat para tokoh tentang masa remaja?
3.      Apa saja teori-teori perkembangan dalam masa remaja?
C.    Tujuan
1.      Dapat mengetahui mengenai remaja dalam perkembangan jiwa manusia;
2.      Dapat mengetahui pendapat para tokoh tentang remaja;
3.      Dapat mengetahui teori-teori perkembangan dalam masa remaja.
D.    Manfaat
Mahasiswa lebih dapat memahami dan mengerti secara mendalam mengenai teori-teori dari para tokoh-tokoh psikologi maupun dari tokoh-tokoh filosof mengenai remaja. Agar mahasiswa lebih dapat menerapkan teori-teori tersebut dalam dirinya sendiri maupu orang lain.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Remaja dalam Perkembangan Jiwa Manusia
Aristoteles adalah seorang filsuf yang membedakan matter (wujud lahiriah) dan form (isi kejiwaan). Setiap matter, menurut Aristoteles, selalu mengandung form  di dalamnya, tidak perduli apakah itu biji jagung atau manusia. Hanya Tuhan saja merupakan form tanpa matter.
Pandangan Aristoteles ini sampai sekarang masih berpengaruh pada dunia modern kita, antara lain dengan tetap dipakainya batas usia 21 tahun dalam kitab-kitab hokum di berbagai Negara, sebagai batas usia dewasa.
Akan tetapi pendapat Aristoteles ini tidak didukung oleh filsuf Perancis J.J Rousseau yang hidup hamper 20 abad kemudian (1712-1778). Rousseau menganut paham Romantic Naturalism, menyatakan bahwa yang terpenting dalam perkembagan jiwa manusia adalah perkembangan perasaannya. Empat tahapan menurut Rousseau adalah sebagai berikut :
1.      Umur 0-4 atau 5 tahun : Masa kanak-kanak (infancy). Tahap ini di dominasi oleh perasaan senang (pleasure) dan tidak senang (pain) dan menggambarkan tahap evolusi di mana masih sama dengan binatang.
2.      Umur 5-12 tahun : Masa bandel (savage stage). Tahap ini mencerminkan era manusia liar, manusia pengembara dalam evolusi manusia. Perasaan-perasaan yang dominan dalam periode ini adalah ingin main-main, lari-lari, loncat-loncat, dan sebagainya yang pada pokoknya untuk melatih ketajaman indera dan keterampilan anggota-anggota tubuh.
3.      Umur 12-15 tahun : Bangkitnya akal (ratio), nalar (reason) dan kesadaran diri (self consciousness). Dalam masa ini terdapat energy dan ketakutan fisik yang luar biasa serta tumbuh keinginan tahu dan keinginan coba-coba. Dalam periode ini, anak dianjurkan belajar tentang alam dan kesenian, tetapi yang penting adalah proses belajarnya, bukan hasilnya. Anak akan belajar dengan sendirinya, karena periode ini mencerminkan ilmu pengetahuan dalam evolusi manusia.
4.      Umur 15-20 tahun : Dinamika masa kesempurnaan remaja (adolescence proper) da merupakan puncak perkembangan emosi. Dalam tahap ini terjadi perubahan dari kecenderungan memperhatikan harga diri. Gejala lain yang timbul juga dalam tahap ini adalah bangkitnya dorongan seks. (Muss. 1968. 27-30)
Teori Rousseau yang merekapitulasi (meringkas) perkembangan evolusi umat manusia pada perkembangan individu manusia mempunyai pengikut di awal abad ke- 20, yaitu G.S. Hall (1844-1924) seorang sarjana Psikologi Amerika Serikat yang oleh beberapa buku teks disebut sebagai Bapak Psikologi Remaja.
Hall juga membagi perkembangan manusia dalam 4 tahapan yang mencerminkan tahap-tahap perkembangan umat manusia sebagai berikut :
1.      Masa kanak-kanak (infancy): 0-4 tahun, mencerminkan tahap hewan dari evolusi umat manusia.
2.      Masa ank-anak (childbood): 4-8 tahun, mencerminkan masa manusia liar, manusia yang masih menggantungkan hidupnya pada berburu atau mencari ikan.
3.      Masa muda (youth or preadolescence): 8-12 tahun, mencerminkan era manusia sudah lebih mengenal kebudayaan, tetapi masih setengah liar (semi-barbarian).
4.      Masa remaja (adolescence): 12-25 tahun, yaitu masa topan-badai (strum and drang), yang mencerminkan kebudayaan modern yang penuh gejolak akibat pertentangan nilai-nilai.
Seperti Rousseau juga, Hall berpendapat bahwa mendidik anak harus dengan cara memberinya kebebasan seluas-luasnya, karena perkembangan jiwa manusia tidak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya, melainkan sudah digariskan oleh alam sendiri. Hall bahkan mengatakan bahwa remaja boleh mencari jalannya sendiri dan boleh mengkritik orang dewasa (Jensen. 1985. 39-45) 
Dari masa Aristoteles sampai G.S. Hall tampak telah ada kesepakatan tentang adanya kurun waktu usia tertentu yang merupakan peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, tetapi bagaimana proses itu terjadi dalam kurun waktu usia termaksud belum ada penjelasannya. Maka dari itu, salah satu penulis yang mencoba menerangkan tahap-tahap perkembangan dalam kurun usia remaja adalah Petro Blos (1962). Blos yang penganut aliran psikoanalisis berpendapat bahwa perkembangan pada hakikatnya adalah usaha peyesuaian diri (coping), yaitu untuk secara aktif mengatasi stress dan mencari jalan keluar baru dari berbagai masalah. Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan, ada tiga tahap perkembangan remaja, yaitu sebagai berikut :
1.      Remaja awal (early adolescence)
Pada tahap ini remaja masih terheran-heran akan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. Remaja dapat mengembangkan pikiran-pikiran yang baru, cepat teratarik pada lawan jenis, dan mudah merasa terangsang secara erotis.
2.      Remaja madya (middle adolescence)
Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan teman-teman. Ia merasa senang bila memiliki banyak teman yang menyukainya. Ada kecenderungan “narcistic”, yaitu mencintai dirinya sendiri, serta menyukai teman-temannya yang memiliki sifat sama seperti diriya.
3.      Remaja akhir (late adolescence)
Pada tahap ini dapat disebut masa konsolidasi menuju periode masa dewasa dengan mencapai 5 hal, yaitu:
a.       Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek
b.      Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan dalam pengalaman-pengalaman baru
c.       Terbentuknya identitas seksual yang tidak akan berubah lagi
d.      Egoisentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain
e.       Tumbuh “dinding” yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan masyarakat umum (the public).  (Sarlito. 2003. 24-25)
B.    Penadapat Para Tokoh tentang Masa Remaja
·           Pendapat-pendapat yang didasarkan pada pandangan filosofis
Para ahli klasik berpendapat bahwa perkembangan individu melalui taraf-taraf dan fase-fase tertentu yang mempunyai spesifikasi masing-masing. Klasifikasi masa remaja adalah perkembangan kematang fisik (early adolescence), kemudian diikuti masa kematangan emosi (second adolescence) dan diakhiri dengan perkembangan intelek. Klasifikasi ini sangat mempengaruhi ahli-ahli pada masa modern, antara lain:
1.      Vives         : proses belajar itu melalui taraf-taraf perkembangan pendirian, perkembangan igatan dan khayalan dan diakhiri oleh perkembangan pikiran. Oleh karena itu masa remaja adalah masa perkembangan pikiran  secara cepat.
2.      Comenius  : belajar itu melalui proses perkembangan pendirian, ingatan dan khayal, pikiran dan pertimbangan, diakhiri oleh perkembangan kemauan. Masa remaja ini adalah masa perkembangan pikiran dan pertimbangan dan kemauan yang pesat.
3.      Rousseau   : menghubungkan perkembangan individu dengan perkembangan peradaban manusia, pertumbuhan dan perkembangan individu dan keadaan hidup mempunyai suatu proses penyempurnaan dan pematangan diri secara sendiri-sendiri. Pendapat Rousseau dapat mempengaruhi bidang pendidikan, bahwa pendidikan haruslah didasarkan pada alam di mana anak didik itu hidup.  
·      Pendapat-pendapat yang didasarkan pada pandangan empiris
1.      Pendapat Stanley Hall
Pandangannya ini didsarkan pada pandangan filosofis, observasi, dan eksperimen yang dihubungkn dengan pribadi manusia, berikut ini pendapatnya tentang masa remaja :
a.       Teori tentang perkembangan pribadi
Menjelaskan bahwa “the real ego” suatu yang perkembangannya disamakan dengan insting yang dipengaruhi oleh pengalaman dan belajar
b.      Teori tentang masa remaja
o   Masa remaja adalah masa neo-atavistis atau masa kelahiran kembali, karena masa ini timbul fungsi-fungsi baru yang belum pernah muncul sebelumnya. Diantaranya dorongan-dorongan  kelamin yang mewujudkan hubungan cinta ini merupakan fungsi baru yang sangat menonjol.
o   Masa remaja adalah masa “stress and strain” (masa kegoncangan dan kebimbangan). Akibatnya para pemuda-pemudi melakukan penolakan-penolakan pada kebiasaan dirumah, sekolah dan megasingkan diri dari kehidupan umum , membentuk kelompok-kelompok. Mereka bersifat sentimental, mudah tergoncang dan bingung.  
2.      Pandangan Freud
Freud menolak pendapat Stanley Hall, bahwa dorongan-dorongan kelamin itu sudah timbul sejak masa kanak-kanak. Fase perkembangan kelamin menurut Freud :
a.       Masa “organ pleasure” atau pemuasan anggota badan terjadi pada masa bayi umur 5 tahun.
b.      Masa “Latency period” terjadi pada umur 6-8 tahun.
c.       Masa pubertas
(Panut, dan Ida. 1999. 19-22)
C.    Teori-teori Perkembangan dalam Masa Remaja
Pembahasan tentang perkembangan remaja berkaitan dengan teori utama dari para tokoh-tokoh psikologi, yaitu psikoanalisa, kognitif, belajar social dan tigkah laku, serta ekologi. Ketika suatu teori nampaknya mampu menjelaskan perkembangan remaja dengan tepat. Perkembangan remaja bersifat kompleks dan mempunyai banyak sisi. Walaupun tidak ada satu teori pun yang menjelaskan semua aspek perkembangan remaja, setiap teori telah memberikan sumbangan pada pemahaman tentang perkembanga remaja ini. Secara keseluruhan, bermacam-macam teori membantu untuk melihat keseluruhan mengenai remaja, yaitu sebagai berikut:
1.      Teori Psikoanalisa
Ahli teori psikoanalitik menegaskan bahwa pengalaman pada masa dini dengan orang tua akan sangat membentuk perkembangan. Ciri-ciri tersebut dipelajari dalam teori psikoanalisa yang utama, yaitu dari Sigmund Freud. Freud mengatakan bahwa kepribadian memiliki tiga struktur, yaitu id, ego, dan superego. Id adalah struktur dari Freud tentang kepribadian yang terdiri dari dari naluri, yang merupakan sumber energy psikis seseorang. Ego adalah struktur kepribadian yang berfungsi meghadapi tuntutan realitas yang dikemukakan Freud. Superego adalah struktur kepribadian dari Freud yang merupakan cabang moral dari kepribadian.
Dari teori besar Freud yaitu id, ego, dan superego, Freud percaya bahwa dipenuhi oleh ketegangan dan konflik. Untuk mengurangi ketegangan ini, remaja menyimpan informasi dalam pikiran tidak sadar mereka. Ia juga mengatakan bahwa tingkah laku yang sekecil apapun mempunyai makna khusus bila kekuatan tidak sadar di balik tingkah laku tersebut ditampilkan.
Cara ego mengatasi konflik antara tuntutannya untuk realitas, keinginan id dan kekangan dari superego yaitu dengan menggunakan mekanisme pertahanan diri (defense mechanisme), artinya istilah psikoanalisa ini untuk metode yang tidak disadari ego merusak realitas dan karena itu melindungi dirinya dari rasa cemas. Menurut Freud tahap permulaan dari perkembangan kepribadian, adalah sebgai berikut :
·         Tahap oral (oral stage) adalah perkembangan yang terjadi pada usia 18 bulan pertama, dimana kesenangan bayi berpusat di sekitar mulut.
·         Tahap anal (anal stage) adalah tahap perkembangan yang terjadi antara usia 1,5 dan 3 tahun, di mana kesenangan terbesar anak meliputi anus atau fungsi pembuangan yang berhubungan dengan anus.
·         Tahap falik (phallic stage) adalah tahap perkembangan yang terjadi antara usia 3 sampai 6 tahun, kata phallus artinya penis atau alat kelamin laki-laki. Artinya kesenangan berpusat pada alat kelamin karena anak menemukan bahwa memanipulasi diri sendiri memberikan kesenangan.
·         Tahap latensi (latency stage) adalah tahap perkembangan yang terjadi antara usia 6 tahun dan pubertas, anak menekan semua minat seksual da mengembangkan keterampilan inteletual dan social.
·         Tahap genital (genital stage) adalah tahap perkembangan yang terjadi pada masa pubertas. Pada masa ini adalah masa kebangkitan kembali dorongan seksual, sumber kesenangan seksual yang adalah dari orang lain yang bukan keluarganya.   
Erikson mengatakan bahwa manusia berkembang dalam tahap psikososial, yang berbeda dari tahap psikoseksual perkembangan sepanjang siklus kehidupan manusia, sedangkan Freud beragumen bahwa kepribadian dasar manusia terbentuk selama 5 tahun pertama kehidupan.
Menurut Erikson semakin berhasil individu mengatasi konflik, maka semakin sehat perkembangan individu tersebut. Seperti pernyataannya, sebagai berikut :
·         Percaya versus tidak percaya (trush versus mistrush) adalah tahap psikososial Erikson yang dialami dalam tahun pertaa kehidupan. Rasa percaya tumbuh dari adanya perasaan akan kenyamanan fisik dan rendahnya rasa ketakutan serta kecemasan tentang masa depan.
·         Otonomi versus malu dan ragu-ragu (autonomy versus shame and doubt) adalah tahap perkembangan yang terjadi pada akhir masa bayi dan “toddler” (usia 1-3 tahun).
·         Inisiatif versus rasa bersalah (initiative versus guilt) adalah tahap perkembangan yang terjadi selama masa persekolahan.
·         Industri versus perasaan rendah diri (industry versus inferiority) adalah tahap perkembangan yang tejadi kira-kira pada usia sekolah dasar.
·         Identitas versus kekacauan identitas (identity versus identity confusion) adalah tahap perkembangan yang dialami individu selama masa remaja. Pada masa ini individu diharapkan pada pertanyaan siapa mereka, mereka itu sebenarnya apa, dan kemana mereka menuju dalam kehiupannya.
·         Intimasi versus isolasi (intimacy versus isolation) adalah tahap perkembangan yang dialami individu selama masa dewasa awal. Pada masa ini individu menghadapi tugas perkembangan untuk membentuk hubungan intim dengan orang lain.
·         Generativitas versus stagnasi (generativity versus stagnation) adalah tahap perkembangan yang dialami individu pada masa dewasa tengah.
·         Integritas versus rasa putus asah (intregity versus despair) adalah tahap perkembangan yang dialami individu pada masa dewasa akhir.
2.      Teori Kognitif
Apabila teori psikoanalisa menekankan pada pentingnya pikiran remaja yang tidak disadari, maka teori-teori kognitif mementingkan pikiran-pikiran sadar mereka. Dua teori kognitif yang penting adalah teori perkembangan kognitif dan Piaget dan teori pemrosesan informasi.
Menurut teori Piaget, remaja secara aktif mengkontruksikan dunia kognitif mereka sendiri, informasi tidak hanya dicurahkan ke dalam pikiran mereka di lingkungan. Piaget juga menyatakan bahwa remaja menyesuaikan pikiran mereka dengan memasukkan gagasan-gagasan baru, karena tambahan informasi akan mengembangkan pemahaman. Empat tahapan dari Piaget adalah sebagai berikut :
·         Tahap sensorimotorik (sensoriotor stage), yang berlangsung dari lahir sampai kira-kira 2 tahun. Pada tahap ini, anak mengkonstruksikan mengenai dunia dengan mengkoordinasikan pengalaman sensoris (seperti melihat dan mendengar) dengan tindakan fisik dan motorik.
·         Tahap praoperasional (preoperational stage) adalah yang berlangsung kira-kira usia 2-7 tahun. Pada tahap ini, anak memulai mempersentasikan dunia dengan kata-kata, citra, dan gambar-gambar.
·         Tahap operasional konkrit (concrete operational stage) adalah yang berlangsung dari kira-kira 7-11 tahun. Pada tahap ini, anak dapat melakukan operasi dan penalaran logis, menggatikan pemikiran logis, menggantikan pemikiran intuitif, sepanjang penalaran dapat diaplikasikan pada contoh atau konkrit
·         Tahap operasional formal (formal operational stage) adalah yang terjadi antara usia 11 dan 15 tahun. Pada tahap ini, individu bergerak melebihi dunia pengalaman yang actual dan konkrit, dan mengubah cara berpikir tentag perkembangan berpikir anak dan remaja.
3.      Teori Tingkah Laku da Belajar Sosial
Ahli teori ini juga akan menyatakan bahwa alasan untuk rasa ketertarikan remaja terhadap satu sama lain tidak disadari, remaja tidak menyadari bagaimana warisan biologis mereka dan pengalaman hidup pada masa kecil telah berperan dalam mempengaruhi kepribadian mereka di masa remaja.
Ahli teori belajar social mengatakan bahwa bukalah robot yang tidak punya pikiran, yang berespon secara mekanis pada orang lain dalam lingkungan kita. Psikolog Amerika Bandura dan Walter Mischel adalah arsitek utama dari versi teori belajar social kontemporer yang disebut teori belajar kognitif. Bandura percaya bahwa kita belajar dengan mengamati apa yang dilakukan orang lain. Melalui belajar observasi (modeling atau imitasi), kita secara kognitif mempeesentasikan tingkah laku orang lain dan kemudian mungkin mengambil tingkah laku tersebut. Model belajar dan perkembangan yang paling mutakhir mencakup tingkah laku, manusia dan kognisi, dan lingkungan. Pendekatan belajar social menekankan pada pentingnya penelitian empiric dalam mempelajari perkembangan. Penelitian ini memfokuskan pada proses-proses yang menjelaskan perekembangan faktor social dan kognitif yang mempengaruhi menjadi manusia seperti sekarang ini.
4.      Teori Kognitif
Teori ekologis (ecological theory) adalah pandangan perkembangan social-kultural dari Bronfenbrenner, yang terdiri dari lima system lingkungan yang berkisar dari masukan kecil dari interaksi langsung dengan agen social sampai pada masukan ari budaya. Kelima system dalam ekologis Bronfenbrenner adalah sitem mikro, system meso, siste ekso, system makro, dan system krono.
Mikrosistem dalam teori ekologis Bronfenbrenner adalah lingkungan dimana individu tinggal. Konteks ini mencakup keluarga individu, teman sebaya, sekolah, dan lingkungan tempat tinggal.
Mesosistem dalam teori Bronfenbrenner mencakup hubungan antara system mikro atau hubungan atau konteks. Contohnya adalah hubungan antara pengalaman keluarga da pengalaman sekolah, pengalaman sekolah dengan pengalaman kerja, dan pengalaman keluarga dengan pengalaman teman sebaya.
Ekosistem dalam teori ekologis Bronfenbrenner bilamana pengalaman dalam lingkungan sosiala lain di mana individu tidak mempunyai peran aktif mempengaruhi apa yang dialami individu dalam konteks langsung.
Makrosistem dalam teori ekologis  Bronfenbrenner yang melibatkan budaya dimana individu hidup. Budaya menunjukkan pola tingkah laku, kepercayaan, dan semua produk lain dari sekelompok manusia yang diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya.
Kronosistem dalam teori ekologis Bronfenbrenner mencakup pola-pola kejadian lingkungan dan transisi sepanjang perjalanan hidup dan kondisi social sejarah.



























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

B.     Saran
Dalam menyusun makalah ini, kami menyadari masih ada kekurangannya. Jadi kami menyarankan agar pembaca makalah ini membaca referensi dari buku-buku lain untuk melengkapi atau menambah pengetahuannya dalam bidang psikologi perkembangan untuk mengukur kepribadiannya. Ada kurang lebihnya kami mohon maaf, terima kasih.
























DAFTAR PUSTAKA


Jensen, L.C. 1985. Adolescence: Theories, Research, Application. St. paul, San Fransisco: West Publishing Co

Muss, R. 1968. Theories of Adolescence. New York: Random House

Panuju, Panut, Haji. 1999. Psikologi Remaja. Yogyakarta: Tiara Wacana

Santrok, John. W. 2003. Adolescence Perkembangan Remaja. Jarkarta: Erlangga

Sarwono, Sarlito. 2003. Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada




Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar