Tampilkan postingan dengan label Psikologi Abnormal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Abnormal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Agustus 2020

1.      Autism Spektrum Disorder

Gangguan Spektrum Autisme (Autism Spectrum Disorder, ASD) adalah kumpulan kondisi yang diklasifikasikan sebagai gangguan neurodevelopmental pada DSM-5 (APA, 2013). Untuk memenuhi diagnosis gangguan spektrum autisme, individu harus menunjukkan dua tipe gejala, yaitu :

 

·         Defisit pada ranah komunikasi dan interaksi sosial.

·         Perilaku, minat, atau aktivitas yang terbatas dan repetitif

 

Presentasi klinis dapat bervariasi bagi tiap individu, yaitu dari ringan sampai parah dan dipersulit oleh terjadinya komorbiditas, termasuk kejang, gangguan pencernaan, gangguan pendengaran, dan gangguan kejiwaan. Gangguan ini lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan.

Gangguan Spektrum Autisme (ASD) merupakan istilah yang pertama kali digunakan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders versi 5 (DSM-5) yang dirilis Mei 2013. Diagnosis ini meliputi beberapa diagnosis DSM-IV TR, yaitu gangguan autistik, gangguan asperger, gangguan disintegratif masa kanak-kanak, dan PDD-NOS. Pada kriteria diagnostik gangguan spektrum autisme pada DSM-5, komunikasi sosial dan interaksi sosial tidak lagi terpisah seperti pada DSM-IV TR, tetapi tergabung dalam satu kategori.

 

2.      Penyebab

a.       Genetika

Hasil studi keluarga dan kembar menunjukkan bahwa faktor genetik berperan dalam etiologi autisme dan gangguan perkembangan pervasif lainnya. Penelitian telah secara konsisten menemukan bahwa  prevalensi autisme pada saudara kandung dari anak-anak autis adalah sekitar 15 sampai 30 kali lebih besar dari tingkat pada populasi umum. Tampaknya tidak ada gen tunggal yang dapat menjelaskan autisme. Sebaliknya, tampaknya ada beberapa gen yang terlibat, yang masing- masing merupakan faktor risiko untuk komponen dari gangguan spektrum autisme.

Kembar monozigot menunjukkan tingkat kesesuaian yang lebih tinggi untuk ASD daripada kembar dizigot, tetapi studi individu bervariasi dalam derajat dilaporkan konkordansi, yang berkisar dari 36% - 92%. Risiko ASD untuk masing-masing anak juga lebih tinggi jika kakak memiliki ASD, terutama jika ada beberapa saudara yang lebih tua dengan gangguan tersebut.

 

b.      Pengobatan

Tujuan pengobatan adalah untuk meningkatkan kemandirian fungsional dan kualitas hidup melalui; (i) pembelajaran dan pengembangan, meningkatkan keterampilan sosial, dan meningkatkan komunikasi; (ii) penurunan kecacatan dan komorbiditas; (iii) bantuan untuk keluarga.

 

c.       Terapi Non Farmakologis

                             ·   Intervensi oleh praktikan, termasuk intervensi berbasis Applied Behavioral Analysis (ABA) bisa menurunkan beberapa gejala.

·   Intervensi oleh orang tua dapat mengurangi beberapa gejala ASD.

·   Intervensi berbasis permainan dan interaksi bisa memperbaiki rentang gejala

·   Terapi pijat mungkin meningkatkan komunikasi dan mengurangi keparahan gejala pada anak-anak dengan ASD (level 2 [mid-level] evidence).

·   Terapi musik dapat meningkatkan kemampuan komunikasi pada anak dengan ASD (level 2 [mid-level] evidence).

·   Terapi vokasional dapat meningkatkan keberhasilan kerja (level 2 [mid-level] evidence).

·   Kelas prasekolah khusus mengintegrasikan anak-anak dengan dan tanpa ASD dapat memperbaiki beberapa gejala (level 2 [mid-level] evidence).

·   Pengobatan hiperbarik (mungkin meningkatkan fungsi untuk anak autis (level 2 [mid-level] evidence), tetapi luaran lebih 4 minggu belum ditegakkan.

·   Terapi non-farmakologis tanpa bukti yang mendukung khasiat termasuk akupunktur, selimut tertimbang, biofeedback elektroensefalografik, dan pelatihan integrasi pendengaran.

 

 



DAFTAR PUSTAKA

Association, A.P. (2013). Diagnostic and statustical manual of mental disorders. America

Erford, B. T. (2017). 40 TEKNIK Yang Harus Diketahui Setiap Konselor edisi kedua. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Hurlock, E.B. 1999. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Alih bahasa: Istiwidayati & Soedjarwo. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.

Maramis,W.F & Maramis, A.A. (2009). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa (Edisi Kedua). Surabaya: Pusat Penerbitan dan Percetakan UNAIR, Airlangga University Press

Purwanta, E. (2015). Modifikasi Perilaku Alternatif Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Widyorini, E.,Harjanta, G & Sumijati, S.(2014). Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus. Semarang : Universitas


Kamis, 14 Mei 2020

a)      Pengertian Regulasi Emosi

Menurut Gross, regulasi emosi adalah salah satu cara yang dilakukan dalam mengelolah emosi yang rasakan oleh individu, tentang kapan individu tersebut merasakannya, bagaimana mereka mengalami dan bagaimana individu mengekspresikan emosi tersebut. Regulasi emosi yang tepat meliputi kemampuan individu untuk dapat mengatur perasaan, reaksi fisiologis, kognisi yang berhubungan dengan emosi sebagai sebuah manipulasi yang dilakukan pada diri sendiri atau terhadap situasi yang dapat memicu respon yang terdiri atas aspek fisiologis, pengalaman subjektif, atau perilaku. Artinya regulasi emosi bisa dilakukan dengan memengaruhi situasi  pada saat respon emosi belum muncul atau ketika respon emosi telah muncul. Regulasi emosi yang efektif meliputi kemampuan fleksibel seorang individu dalam mengelola emosi sesuai dengan tuntutan lingkungan.  [1]

Regulasi emosi juga dapat di artikan sebagai suatu keterampilan yang dapat dilakukan oleh individu untuk menyeimbangkan emosi yang sedang dirasakan, dan bagaimana emosi yang dirasakannya tersebut di ekspresikan dengan baik . Upaya di perlukan untuk mengelolah emosi dapat bersifat otomatis, ataupun terkontrol, sadar dan tidak sadar.[2]

Dari sudut perkembangan Thompson menyatakan bahwa regulasi emosi terdiri atas proses ekstrinsik dan instrinsik yang menentukan pengawasan, evaluasi dan modifikasi reaksi emosi untuk mencapai tujuan seseorang. Proses intrinsik adalah cara seseorang mengelolah emosi yang muncul dari dalam dirinya sendiri. Proses ekstrinsik adalah cara seseorang dalam memengaruhi emosi yang datang dari luar. Perbedaan individu dalam kemampuan mengontrol emosi yang dimulai dari tahap infancy dan early childhood sangat memengang peran penting dalam penyesuaian.

Menurut Martin, ciri-ciri individu yang mempunyai pengelolahan emosi antara lain sebagai berikut:

1)   Bertanggung jawab secara pribadi terhadap perasaan dan kebahagiaannya.

2)   Mampu mengalihkan emosi negatif menjadi proses belajar dan kesempatan untuk berkembang.

3)   Lebih peka kepada perasaan orang lain.

4)   Melakukan intropeksi dan relaksasi.

5)   Selalu merasakan emosi positif dari pada emosi negatif.

6)   Tidak mudah putus asa ketika menghadapi masalah.[3]

b)      Fase Perkembangan Pengelolahan Emosi

Holodynski menyatakan bahwa pengelolahan emosi dilandasi dengan berbagai macam aspek tentang bagaimana individu melakukan keterampilan dalam mengelolah emosi yang bersifat negatif. Mengelolahnya atau mengantisipasi motivasi dan harapan dimasa mendatang. Berdasarkan model internalisasi dari Holodynski ini perkembangan emosi dan pengelolaannya dibagi menjadi lima fase.[4]

1)      Fase Pertama Usia 0-2 Tahun

Dalam fase ini individu menghadapi tugas yang mana untuk membentuk kemampuan dalam membedakan berbagai macam emosi yang dimediasi oleh tanda-tanda ekspresi dalam hubungannya dengan pengasuh. Oleh karena itu, pada fase ini individu masih sangat tergantung pada pengelolahan interpersonal melalui pengasuh. Individu masih belum dapat mengontrol emosi mereka. Oleh karena itu pada fase ini kepekaan pengasuh terkait ekspresi emosi individu sangat penting dalam proses perkembangan emosi individu. Regulasi emosi individu pada fase ini masih sangat bergantung pada regulasi interpersonal dengan pengasuh karena individu masih belum bisa mengontrol emosinya berdasarkan keinginannya.

Secara spesifik menurut Calkins dalam Gross menyatakan bahwa usaha dalam pengelolaan emosi dimulai saat individu memasuki usia 3 bulan. Salah satu contohnya bayi akan memalingkan muka atau menengok ketika bereaksi terhadap stimulus yang tidak menyenangkan atau menyenangkan.[5]

Kemudian usia 3-6 bulan bayi mampu mengenal stimulus yang tidak menyenangkan dengan distraksi sederahan, contohnya mengalihkan perhatian pada mainan ketika menghindari hal-hal yang menakutkan. Pada akhir tahun pertama, bayi mulai aktif mengontrol munculnya perasaan (affective arousal). Pada akhir tahun kedua, bayi mampu melakukan strategi pengelolaan emosi, diantara berupa calming (physical self soothing, misalnya menghisap jari atau dot menggunkan selimut yang lembut), distraction (umumnya berupa memalingkan pandangan dan manipulasi objek dengan mainan), dan first symbolic strategies/ cognitive reinterpretation (awal dari fungsi simbolik, tetapi masih jarang pada usia ini).[6]

2)      Fase Kedua Usia 3-6 Tahun

Dalam fase ini anak dihadapkan pada tugas untuk mengurangi dukungan dari pengasuh mereka dan menjadi mampu melakukan pengelolaan intrapersonal maupun interpersonal. Dukungan pengasuh yang baik dalam fase perkembangan emosi sebelumnya memungkinkan anak untuk mampu mengatur tindakannya secara mandiri melalui emosi bangga (pride), malu (shame), perasaan bersalah (guilt), dan emosi yang berkaitan dengan meningkatnya self-aware (kesadaran diri) anak terhadap norma dan aturan budaya. Anak mulai belajar untuk berkompromi dan memiliki toleransi atas keinginannya dipuaskan oleh orang lain, namun juga mulai belajar untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Mereka mulai belajar untuk mematuhi norma budaya dan aturan interaksi sosial saat melakukan suatu hal.[7]

Pada usia 3-6 tahun anak dapat bermain sendiri dan sudah bisa di tinggalkan dalam waktu yang sebentar. Meningkatnya kemampuan bicara pada anak juga dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengelolah emosi yang sedang dirasakan. Dalam masa ini anak dapat mengekspresikan emosi secara verbal ketika menghindari atau menghadapi suatu hal yang dapat menyebkan timbulnya emosi. Karena itu pengasuh bisa meningkatkan strategi simbolik dalam melakukan pengelolaan emosi interpersonal. Dalam hal ini komunikasi verbal menjadi penting dalam pengelolaan emosi.[8]

Pada akhir usia 6 tahun anak bisa melakukan pengalihan dengan mandiri contohnya bermain sendiri ketika pengasuh tidak ada. Begitu juga saat pengasuhnya ada mengajaknya bermain dengan memperlihatkan mainannya. Pada usia strategi calming  menjadi menurun. Secara umum, pada fase ini peran eksternal atau interpersonal regulation mengalami sedikit penurunan. Pada usia ini belajar spesifik dari orang tua. [9]

Menurut Thompson anak mempelajari pengelolaan emosi dari orang tua melalui empat cara, yaitu intruksi langsung (distect intruction), mengajukan reinterprestasi penyebab (proposals for reinterpreting the cause), mencontoh model (model learning), berdiskusi seputar masalah emosi (discourse over emotion).[10]

3)      Fase Ketiga di Atas 6 Tahun

Dalam pada fase ini kemandirian anak mulai meningkat komunikasi verbal dan ekspresi anak mulai disesuaikan dengan lingkungannya. Ekspresinya juga telah dapat dipahami oleh orang disekitarnya. Anak mulai mengembangkan perasaan yang menggambarkan ekspresi somatosensory. Bukan hanya ekspresi fisik  Santrock menyatakan bahwa pada masa ini anak semakin bisa mengembangkan pemahaman emosi dan pengelolaan emosi. Selain itu ia menyatakan terhadap perubahan emosi pada masa ini seperti: [11]

(a)     Meningkatnya pemahaman tentang emosi, misalnya anak-anak usia sekolah dasar mengembangkan suatu kemampuan  untuk memahami emosi kompleks tertentu seperti bangga dan malu. Emosi dan pengelolaan emosi menjadi lebih mandiri serta terintegrasi dengan tanggung jawab personal.

(b)      Meningktanya pemahaman tentang emosi kompleks dari pada emosi dasar yang dapat dialami atau diterapkan dalam situasi tertentu

(c)     Meningkatnya kecendrungan untuk mengingat peristiwa yang menimbulkan reaksi emosi.

(d)     Meningktanya kemampuan menekan atau menyembunyikan rekasi emosi negatif. Anak-anak sekolah dasar sering dengan sengaja menyembunyikan emosi mereka.

(e)      Menggunakan strategi untuk mengalihkan perasaanya. Dalam usia sekolah dasar, anak menjadi lebih relektif dan mengembangkan strategi yang lebih baik untuk menanggulangi masalah dengan pola emosi. Mereka dapat lebih efektif mengatur emosinya dengan strategi kognitf, misalnya dengan mengalihkan pikiran atau perhatian (cognitive change),

(f)      Terdapat suatu kapasitas empati yang tulus.[12]

4)      Fase Keempat Usia Remaja (Adolescence)

Dalam tugas pada fase ini remaja  bukan hanya mengatur aksi dan emosi, tetapi mengembangkan kemampuan kontrol diri. Menurut Santrock kemampuan mengontrol emosi merupakan aspek yang penting dalam perkembangan aspek emosi masa remaja. Kemampuan pengelolaan emosi berkaitan dengan berbagai keberhasilan atau kegagalan banyak aspek, misalnya akademik.

Reaksi remaja dalam menghadapi situasi yang stressfull dapat memengaruhi tinggi rendahnya pengelolaan emosinya yang dapat membedakan kerentanan remaja dalam mengahadapi stres. Saat situasi stress menimbulkan amarah pada remaja, adalah suatu pilihan yang dapat dipilih remaja untuk menanggulanginya yaitu:[13]

(a)   Supepression, dipilih karena rasa takut diasosiasikan pada figur yang mempunyai otoritas untuk menahan emosi yang dirasakan.

(b)   Open aggression, bentuknya adalah pengeskpresian dari eosi, sperti kritik, sarkasme, bertengkar, berdebat, agresif, sampai berbuat criminal. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kepuasan diri tanpa memikirkan orang lain.

(c)    Passive aggression, dimana individu melakukan sabotase karena individu merasa marah tetapi terlalu berbahaya jika diketahui oleh orang lain. Hal ini terjadi karena individu tersebut memiliki kontrol.

(d)   Assertiveness,  dengan cara ini dapat membantu mengembangkan hubungan antar individu mengenai hal yang tidak menyenangkan dan diselesaikan bersama. Hal ini merupakan tanda dari kedewasaan dan stabilitas.[14]

(e)   Dropping anger, remaja menyadari batasan diri dan menerima kekurangan sehingga dapat mengontrol situasi.[15]

5)      Fase Kelima Usia Dewasa (Adulthood)

Menurut Charles dan Chartensen bahwasanya regulasi emosi tidak menurun dengan seiring meningkatnya usia individu. Pada fase ini individu lebih mampu menunjukkan kemampuan dalam meregulasi emosi negatif dari pada yang sebelumnya.

Didalam fase ini individu akan ditunjukkan atau dihadapkan pada permasalahan yang baru dihidupnya yang mana sebagai individu yang sudah tergolong individu yang dewasa. Tanggung jawab dan peran individu ini tentunya akan semakin besar dengan bertambahnya usia. Individu sudah tidak lagi bergantung kepada orang lain dalam hal apapun. Semua urusan dan masalah yang dihadapi didalam kehidupannya sebisa mungkin akan diselsaikan sendiri tanpa orang  lain termasuk saudara dan orang tuanya sendiri. Kehidupan psikososial individu dalam fase ini sangat kompleks. Individu akan memasuki kehidupan yang baru misalnya kehidupan pernikahan yang akan membentu keluarga baru, merawat anak-anaknya dan tetap harus perhatian kepada orang tuanya yang usianya tidak lagi muda.

Suatu permasalahan yang terjadi di hidupnya pada hakikatnya merupakan suatu batu loncatan agar individu bisa menjadi lebih dewasa dari sebelumnya. Wajar jika melakukan suatu usaha untuk mengungkapkan berbagai macam emosi yang individu itu rasakan di dalam dirinya. Namun lebih baik jika individu merespon emosi yang ada pada dirinya dengan perilaku yang adaptif agar tidak merugikan diri individu itu sendiri dan orang-orang disekitarnya.[16]

 

c)      Faktor-Faktor Yang Dapat Mempengaruhi Regulasi Emosi

Terdapat berbagai macam faktor yang dapat mempengaruhi regulasi individu antara lain:

1)      Usia Individu

Kematangan emosi individu dipengaruhi oleh kemtangan fisiologis, faktor bertambahnya usia pada individu yang mempengaruhi kematangan organ dan tingkat pertumbuhan individu. Beer dan Lombardo mengatakan bahwa pengelolaan emosi pada individu berkaitan dengan proses kerja organ otak yaitu lobus frontal, cingulate anterior, lobus temporal, dan kemungkinan amygdala. Calkins mengatakan bahwa organ otak lobus frontal dalam membentuk perilaku mendekat dan menghindar terhadap stimulus yang dapat menyebabkan timbunya emosi. Semakin bertambahnya usia individu menyebabkan ekspresi emosi, pengelolahan emosi yang awalnya bersifat interpersonal (yang lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal) menjadi bersifat intrapersonal (bersifat internal, instrumental maupun kognitif) individu tersebut semakin terkontrol.[17]

2)      Gender

Kondisi  fisiologis dan hormonal yang berbeda pada laki-laki dan perempuan menyebabkan berbedanya karakteristik emosi antara laki-laki dan perempuan. Perempuan harus mengontrol perilaku asertif dan agresifnya. Hal ini menyebabkan adanya kecemasan-kecemasan yang ada pada dirinya. Karena itu secara tidak langsung adanya perbedaan emosi antara laki-laki dan perempuan. Middendrop mengatakan bahwa pengelolaan emosi seorang perempuan lebih kuat pengaruhnya atas perasaanya sendiri baik tentang kesehatan dirinya ataupun dalam pengelolahan emosi yang dilakukan atas dasar kondisi kesahatannya yang mungkin bisa di anggap dapat mengancamnya. Laki-laki dan perempuan mempunyai pengelolahan emosi yang berbeda. Middendrop menyatakan bahwa perempuan lebih sering melakukan rumination (membuat seorang wanita akan terus-menerus memikirkan hal-hal yang negatif), positive refocusing (memikirkan hal-hal yang menyenangkan daripada memikirkan hal yang sebenarnya) dan catastrophizing (merasa bahwa apa yang dialami  adalah suatu pengalaman yang buruk baginya).[18]

Perbedaan jenis kelamin ketikan mengekspresikan emosi dikaitkan dengan perbedaan tujuan perempuan dan laki-laki ketika mengontrol emosi yang dirasakannya. Laki-laki mengekspresikan rasa bangga dan marah untuk menjaga hubungan interpersonal serta membuat mereka tampak lemah dan tidak berdaya, sedangkan laki-laki mengeskpresikan rasa marah dan bangga untuk mempertahankan dan menunjukkan dominasi, karena itu perempuan lebih dapat melakukan pengelolahan terhadap emosi marah dan bangga, sedangkan laki-laki pada emosi takut, sedih dan cemas. Sedangkan perempuan akan mengekspresikan emosinya untuk membuat mereka tampak tidak berdaya, lemah dan untuk menjaga hubungan interpersonalnya.[19]

3)      Motivasi

Motivasi berperan dalam terbentuknya pengelolahan emosi, menurut Fischer individu akan cenderung menginginkan situasi nyaman dan menghindari situasi yang negatif. Fischer membagi tiga perbadaan motivasi pada interpersonal yaitu:

(a)   Prosocial motive: dalam hal ini individu menunjukkan motivasinya agar tidak melukai orang lain dan melindunginya.

(b)   Impression management: dalam hal ini individu melakukan pengelolahan emosi dengan cara menghindari hal yang membuat penilaian yang tidak menyenangkan atau tidak menguntungkan dikarenakan adanya potensi terjadinya ketidak tepatan emosi mereka.

(c)   Influence: dalam hal ini dimana individu ingin mempengaruhi orang lain dengan menujuukan ekspresikan emosinya. Misalnya ingin membuat orang lain nyaman, ingin melakukan sesuatu kepada dirinya, tidak ingin melukai orang lain dan sebagainya. [20]

4)      Aspek Sosial

Thompson dan Mayer mengatakan bahwa pengelolahan emosi individu dapat dipengaruhi oleh teman sebaya dan keluarganya. Hal penting dalam perkembangan individu dalam melakukan pengelolahan emosi pada kondisi ketika berada di luar rumah dan keluarga dalam kondisi ketika individu berada didalam rumah. Dalam faktor keluarga kualitas anak dan keluarga menjadi dasar utama yang dapat mempengaruhi individu dalam mengelolah emosi.[21]

   Anak yang memiliki hubungan baik dengan orang tuanya cenderung lebih sadar diri secara emosional. Anak akan dapat mengembangkan dirinya untuk mengelolah emosi yang tepat dalam lingkungannya.

sebaliknya anak yang mempunyai ibu kurang sensitif, tidak konsisten dalam merespon perasaan anaknya dan kurang membuat nyaman saat berbicara tentang kesulitan emosi yang dipahami sang anak. Hal ini akan membuat anak  cenderung terbatas dalam memahami emosi dan sulit dalam melakukan pengelolahan emositerutama dalam keadaan penuh stres. Hal ini terjadi karena kurangnya dukungan dalam hubungan orang tua dan anak. Anak ini dapat memperlihatkan disregulasi emosi dengan memperlihatkan peningkatan emosi negatif yang tidak teratur.

5)      Norma dan Budaya

Pengelolahan emosi bukan hanya berkaitan dengan intrapersonal tetapi pengelolahan emosi sesuai dengan tempat dan cara individu tersebut menjalani kehidupan. Pengelolahan emosi terjadi melalui situasi sosial yang terstrukur, dinamika interaksi sosial dan usaha orang terdekat untuk memodifikasi situasi individu yang bersangkutan. Makna yang diambil dalam berbagai situasi, dan kesempatan yang tersedia dalam mengelola emosi.[22]

 Aspek budaya berhubungan dengan pengelolahan emosi serta motivasi untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain, contoh praktis individu tidak mau terlihat sebagai abnormal, individu tertawa di suatu tempat yang tidak tepat, stereotip gender yang menyebutkan bahwa laki-laki lebi rasional dan perempuan lebih emosional. Kondisi tersebut menuntut individu untuk memelihara harmoni sosial dengan menekan emosi negatif di depan orang lain. Fischer juga menyimpulkan bahwa yang membentuk dasar motivasi adalah norma.[23]

d)      Strategi Regulasi Emosi

1)      Pemilihan Situasi

Salah satu cara dimana individu menghindari/mendekati situasi atau orang yang bisa menimbulkan emosi yang berlebihan. Misalnya ketika individu memilih untuk menghindari teman atau rekan kerjanya yang menurutnya menyebalkan. Dalam menjalankan strategi pemilihan situasi (Situation Selection) individu perlu memahami situasi yang akan dihadapinya beserta konsekuesni emosi yang mungkin menyertainya.

2)      Modifikasi Situasi

Salah satu cara dimana individu mengubah lingkungan sehingga dapat mengurangi hal yang menimbulkan emosi, contohnya ketika orang tua yang langsung memberikan bantuan pada anaknya yang kesulitan agar sang anak tidak marah atau frustasi.  Sehingga dalam hal ini modifikasi situasi  merupakan usaha yang langsung dilakukan agar memodifikasi situasi agar efek emosi yang dirasakan anak dapat teralihkan.[24]

3)      Mengalihkan Perhatian

Salah satu cara dimana individu mengalihkan perhatian dari situasi yang membuat tidak menyenangkan untuk menghindari hal yang menimbulkan emosi yang berlebihan. Starttegi regulasi emosi ini dapat dilakukan dalam berbagai bentuk misalnya dengan menunjukkan pengalihan fisik (dengan menutup mata dan telinga) maupun internal (membatasi konsentrasi dan mengatur fokus). Terdapat dua strategi dalam pengalihan fisik ini yaitu:

(a)   Distraction, memfokuskan perhatian pada aspek lain dari situasi yang dihadapi atau mengalihkan perhatiannya dari situasi yang sedang di hadapi.   Salah satu contohnya ketika seorang bayi memalingkan pandangannya dari stimulus yang dapat memicu timbulnya  emosi.

(b)   Concentration, memfokuskan perhatian pada aspek emosi dari situasi yang dihadapi.

4)      Mengubah Cara Berpikir

Salah satu cara strategi dimana individu mengevaluasi kembali keadaan dengan mengubah cara berfikir yang negatif menjadi positif sehingga dapat mengurangi pengaruh dari emosi yang dirasakan. Strategi ini dapat dilakukan dengan mengubah cara berfikir terhadap situasi yang dihadapi atau dengan mengubah persepsi kita terhadap “tuntutan” dari situasi yang sedang dihadapi, contohnya individu  yang mempunyai pikiran bahwa kegagalan yang dihadapi merupakan suatu tantangan bukan suatu ancaman.

5)      Membuat Perubahan Dalam Merespon Emosi

Suatu usaha yang dilakukan oleh individu dalam membuat perubahan terhadap respon emosi yang berfokus untuk mengatur pengalaman emosi yang dimiliki. Di tahap ini individu akan menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya kepada orang lain.[25]



[1] Amitya Kumara dan Ayu Sulistyaningsari, dkk,  Mengenali dan Menangani Emosi Pada Siswa (Yoyakarta: PT Kanisius, 2018), hal. 15

[2] Ibid.

[3] Ibid., 16

[4] Ibid., 16

[5] Ibid., 17

[6] Ibid., 17

[7] Ibid., 17

[8] Ibid., 18

[9] Ibid., 18

[10] Ibid., 19

[11] Ibid., 19

[12] Ibid., 20

[13] Ibid., 20

[14] Ibid., 20

[15] Ibid., 21

[16] Ibid., 21

[17] Ibid., 22

[18] Ibid., 22

[19] Ibid., 23

[20] Ibid., 24

[21] Ibid., 24

[22] Ibid., 24

[23] Ibid., 24-25

[24] Ibid., 25

[25] Ibid., 26


1.      Pengertian Happiness

        Kebahagiaan adalah istilah umum yang menunjukkan kenikmatan atau kepuasan yang menyenangkan dalam kesejahteraan, keamanan, atau pemenuhan keinginan. Kebahagiaan merupakan tujuan utama dalam kehidupan manusia. Jika seseorang gagal mendapatkan kebahagiaan, maka hidup ini akan menjadi suatu pengalaman yang menyedihkan. Kebahagiaan adalah rasa puas, tenang, ketentraman batin, dan tidak adanya ketegangan. Kebahagiaan bukan semata-mata suatu perasaan atau keadaan yang menyenangkan, tetapi juga suatu kondisi yang meningkatkan kualitas hidup, kesehatan fisik, dan pemenuhan potensi-potensi seseorang. Suatu perasaan bahagia merupakan bukti keberhasilan seseorang dalam hidupnya. Kebahagiaan merupakan prestasi yang paling hebat (Indriana, 2012).

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kebahagiaan adalah kesenangan dan ketentraman hidup yang tidak hanya secara lahir saja tetapi juga secara batin. Bahagia juga diartikan sebagai keberuntungan dan kemujuran.

Menurut Diener (Diponegoro, 2013) kebahagiaan mempunyai istilah ilmiah yakni kesejahteraan subyektif. Menurut Diener definisi dari kesejahteraan subyektif yakni evaluasi afektif dan kognitif mengenai kehidupan. Evaluasi afektif yakni banyak tidaknya afek positif dan afek negative yang dirasakan, sedangkan evaluasi kognitif orang bahagia berupa kepuasan hidup yang tinggi.

Kebahagiaan menurut Mustofa (2008) yaitu kesenangan, kesukaan, dan kepuasan hati mengenai segala peristiwa yang telah terjadi. Menurut Carr (2004) kebahagiaan bergantung pada kepuasan evaluasi kognitif meliputi kehidupan keluarga, pekerjaan, pengaturan, dan pengalaman afektif.

Seligman (2005) mengatakan bahwa pada umumnya kebahagiaan mengacu kepada emosi positif yang dirasakan dan aktivitas positif yang disukai individu. Kebahagiaan dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal yakni pemicu yang berasal dari luar diri, meliputi agama, pernikahan dan kehidupan sosial yang memuaskan. Faktor internal yakni pemicu yang berasal dari dalam diri, seperti perasaan bahagia yang ditandai dengan adanya keadaan emosi positif masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Emosi positif masa lalu meliputi perasaan bangga, puas dan tenang. Emosi positif pada masa sekarang meliputi semangat, riang, gembira, ceria pada aktifitas yang disukai. Sedangkan emosi positif pada masa depan meliputi optimis, keyakinan, harapan, kepercayaan.

Kebahagiaan dalam perspektif islam menurut Al-Ghazali dalam kitab Kimiya al-Sa;adah, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma’rifatullah, telah mengenal Allah. Kemudian dalam kitab tersebut Al-Ghazali juga menyatakan:

Sesungguhnya kenikmatan dan kebahagiaan bagi manusia itu adalah ma’rifatullah. Ketahuilah bahagia pada sesuatu adalah bila merasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya, karena rasa tersebut adalah menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) adalah melihat ada rupa yang indah, kenikmatan telinga apabila mendengar suara yang merdu, demikian juga segala anggota yang lain dan tubuh manusia (Sholihah, 2016).

Adapun kenikmatan hati menurut Al-Ghazali yaitu ma’rifat kepada Allah, karena hati diciptakan sejatinya untuk mengingat Tuhan. Seseorang rakyat jelata akan sangat gembira apabila dapat berkenalan dengan seseorang pejabat tinggi atau menteri lalu kegembiraan itu akan naik berlipat-lipat apabila ia bisa berkenalan dengan yang lebih tinggi yaitu presiden atau raja. Oleh karena itu, tentu dengan mengenal Allah adalah puncak dari segala macam kegembiraan. Lebih dari yang dibayangkan manusia, kerena tidak ada yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah. Sehingga tidak ada ma’rifat yang lebih lezat daripada ma’rifatullah (Sholihah, 2016).

Dengan demikian menurut perspektif al-Ghazali, kebahagiaan itu terpilih menjadi kebahagiaan hakiki yaitu akhirat dan kebahagiaan perlambang atau majazi, yaitu kebahagiaan di dunia dan bahkan ada kebahagiaan yang salah. Selain itu kriteria orang yang bahagia menurut Al-Ghazali adalah seseorang yang dalam dirinya telah dikuasai cinta hanya kepada Allah. Karena apabila hatinya telah dikuasai cinta kepada Allah maka akan menghirup lebih banyak kebahagiaan dari penampakan-Nya dibanding dengan orang yang tidak mencintai Allah.

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan adalah suatu hal yang berkaitan dengan emosi dan aktifitas positif yang digemari oleh individu, hal ini mengacu pada teori Seligman (2005).

2.      Aspek-aspek Happiness

Berikut komponen happiness yang dikemukakan oleh Seligman (2005) yakni sebagai berikut:

a.       Emosi positif mengenai masa lalu

Emosi positif mengenai masa lalu ialah tentang kebanggaan, kelegaan, kepuasan, kesuksesan, dan kedamaian. Kurangnya pemahaman mengenai peristiwa di masa lalu akan menyebabkan turunnya tingkat kelegaan, kepuasan, dan ketenangan seseorang.

b.      Emosi positif mengenai masa sekarang

Beberapa keadaan yang berbeda tentang masa lalu dan masa depan mengenai emosi positif masa sekarang, yakni:

1.      Kenikmatan

Kenikmatan yakni kesukaan yang ada hubungannya dengan indra manusia yang jelas dan disertai emosi yang kuat, yang biasa disebuti oleh para filsuf sebagai “perasaan dasar” (raw feels): ekstase, gairah, orgasme, rasa senang, dan nyaman.

2.      Gratifikasi

Gratifikasi berawal dari aktifitas yang sangat di senangi, tetapi tidak serta merta disertai perasaan dasar. Gratifikasi membuat seseorang terlibat secara menyeluruh sehingga perhatian terhadap sekitar berkurang. Membaca buku bagus, mendengarkan music, menikmati percakapan yang bermanfaat dan menyenangkan ialah beberapa contoh aktifitas yang seakan menghentikan waktu bagi seseorang. Gratifikasi melibatkan banyak sekali pemikiran dan interpretasi serta bertahan lebih lama dari sekedar kenikmatan.

c.       Emosi positif mengenai masa depan

Emosi positif mengenai masa depan meliputi harapan, kepastian, kepercayaan, keyakinan, juga optimisme. Optimisme dan harapan memberi kekuatan dalam menghadapi depresi ketika kondisi sedang buruk, meningkatkan kinerja, dan dapat menjadikan kesehatan fisik semakin baik.

Menurut Hills & Argyle dalam Tia Safira (2016), kebahagiaan memiliki tujuh aspek yaitu sebagai berikut:

1.      Merasakan kepuasan terhadap hidup yang dijalani

Kepuasan hidup adalah suatu kondisi yang bersifat khas pada orang lain yang memiliki semangat hidup dan mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan berbagai perubahan kondisi di dalam diri maupun kondisi lingkungannya.

2.      Sikap ramah dalam lingkungan sosial

Seseorang bisa bersikap baik dalam tatanan norma masyarakat sehingga akan terwujud suatu keakraban dan keharmonisan sosial yang melahirkan efek positif bagi lingkungan.

3.      Mempunyai sikap empati

Empati merupakan suatu proses ketika seseorang merasakan perasaan orang lain dan menangkat arti perasaan tersebut kemudia menunjukkannya ke dalam perilaku bahwa individu tersebut sungguh-sungguh memahami perasaan orang lain, selain itu empati mengomunikasikan sikap penerimaan dan pengertian terhadap perasaan orang lain secara tepat.

4.      Memiliki pola pikir yang positif

Pikiran positif akan menimbulkan kebahagiaan, sukacita, kesehatan, serta kesuksesan dalam setiap situasi dan tindakan.

5.      Merasakan kesejahteraan dalam hidup

Kesejahteraan hidup dapat dirasakan ketika seseorang mampu menerima keadaan dirinya serta lingkungan sekitarnya sehingga dapat merasakan afek positif berupa kepuasan yang dapat mengarah kepada kebahagiaan.

6.      Bersikap riang dan ceria

Kondisi emosi seseorang yang memunculkan suka cita dan kesenangan hati akan sesuatu yang telah dijalani dalam hidupnya.

7.      Memiliki harga diri yang positif

Harga diri yaitu penilaian positif atau negatif yang dihubungkan dengan konsep diri seseorang. Individu yang memiliki harga diri yang positif tentunya akan lebih dapat merasakan kebahagiaan daripada individu yang memiliki harga diri yang negatif.

Aspek-aspek happiness yang dikemukakan oleh Carr (2004):

a.       Aspek Afektif

Aspek afektif mewakili pikiran-pikiran positif dan pengalaman emosional seseorang seperti rasa riang, senang dan berbagai emosi positif lainnya.

b.      Aspek Kognitif

Aspek kognitif mewakili evaluasi kognitif dan kepuasan terhadap berbagai domain dalam kehidupan.

Menurut Myers (1995) terdapat empat aspek kebahagiaan yaitu:

a.       Menghargai Diri Sendiri

Menghargai diri sendiri adalah kecenderungan individu untuk menyukai dirinya sendiri dengan menyetujui pernyataan.

b.      Optimis

Optimis adalah kepercayaan untuk berhasil saat melakukan sesuatu yang baru, sehingga cenderung lebih sukses, sehat, dan bahagia. Individu yang optimis menyetujui pernyataan.

c.       Terbuka

Individu yang tergolong extrovert cenderung lebih terbuka terhadap orang lain serta lebih mudah bersosialisasi dibandingkan orang-orang yang tergolong introvert sehingga lebih merasa bahagia.

d.      Mampu Mengendalikan Diri

Mengendalikan diri adalah kontrol individu terhadap diri sendiri sehingga lebih mampu memahami kelebihan di dalam diri yang membuatnya menjadi lebih berdaya.

Berdasarkan beberapa aspek yang dikemukakan oleh para ahli, peneliti memutuskan menggunakan aspek Seligman (2005) tentang kebahagiaan yang ditunjukkan dengan emosi positif pada masai lalu, emosi positif pada masa sekarang dan emosi positif pada masa depan. Hal ini berdasar pada aspek kebahagiaan yang ditawarkan Seligman (2005) lebih sesuai dan mudah dipahami dengan focus pembahasan dalam penelitian ini.

3.      Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Happiness

     Seligman (2005) dalam buku yang berjudul “Authentic Happiness: Menciptakan Kebahagiaan Dengan Psikologi Positif membedakan kebahagiaan yang bersifat sementara dengan kebahagiaan yang menetap. Ia menyatakan bahwa kebahagiaan yang menetap merupakan hasil kontribusi dari lingkungan (circumstance) dan faktor-faktor yang berada di bawah pengendalian diri seseorang (voluntary control) seseorang.

a.      Lingkungaan (circumstance)

Seligman (2005) memberikan delapan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi kebahagiaan seseorang, namun tidak semua memiliki pengaruh yang besar terhadap kebahagiaan. Berikut ini adalah penjabaran dari faktor-faktor lingkungan yang berkontribusi terhadap kebahagiaan seseorang menurut Seligman (2005), diantara lain adalah:

Beberapa faktor yang mempengaruhi happiness individu (Seligman, 2005):

a.       Uang

Di negara-negara yang sangat miskin, yang dimana kemiskinan dapat mengancam nyawa, memang kaya bisa berarti lebih bahagia. Namun, di negara yang lebih makmur, tempat hampir semua orang memperoleh kebutuhan dasar, peningkatan kekayaan tidak begitu berdampak pada kebutuhan pribadi. Individu yang menempatkan uang di atas goal (tujuan) yang lainnya juga akan cenderung menjadi kurang puas dengan pemasukan dan kehidupannya secara keseluruhan (Seligman, 2005).

b.      Pernikahan

Pernikahan sangat berhubungan dengan kebahagiaan, Pernikahan memiliki dampak yang jauh lebih besar dibanding uang dalam mempengaruhi kebahagiaan seseorang. Seseorang yang menikah cenderung lebih bahagia dari mereka yang tidak menikah, namun jika pasangan merasa tidak bahagia dalam rumah tangganya, mereka memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih rendah dibanding mereka yang bahkan tidak menikah. Lebih bahagianya individu yang telah menikah bisa karena pernikahan menyediakan keintiman psikologis dan fisik, konteks untuk memiliki anak, membangun rumah tangga, dan mengafirmasi identitas, serta peran sosial sebagai orang tua.

c.       Kehidupan Sosial

Individu yang memiliki tingkat kebahagiaan tinggi umumnya memiliki kehidupan sosial yang memuaskan dan menghabiskan banyak waktu bersosialisasi. Orang yang sangat bahagia paling sedikit menghabiskan waktu sendirian. Sehingga keikutsertaan seseorang dalam aktivitas yang membuatnya bertemu dengan banyak teman akan berkontribusi positif terhadap kebahgiaan.

d.      Emosi Positif

Penelitian yang dilakukan oleh Norman Bradburn (1969) diketahui bahwa individu yang mengalami banyak emosi negatif akan mengalami lebih sedikit emosi positif, dan sebaliknya. (Seligman, 2005) hanya terdapat sedikit korelasi negatif antara emosi positif dengan emosi negatif. Ini berarti, jika memiliki banyak emosi negatif, maka dimungkinkan memiliki lebih sedikit emosi positif dibandingkan rata-rata. Meskipun demikian tidak berarti orang yang memiliki banyak emosi negatif akan tercampak dari kehidupan yang gembira. Demikian pula meskipun individu memiliki banyak emosi positif dalam hidup, tidak berarti individu tersebut sangat terlindung dari kepedihan.

e.       Usia

Studi mengenai kebahagiaan terhadap 60.000 orang dewasa di 40 negara membagi kebahagiaan dalam tiga komponen, afek menyenangkan, afek tidak menyenangkan, dan kepuasan hidup. Kepuasan hidup meningkat perlahan seiring dengan usia, afek menyenangkan menurun sedikit, dan afek tidak menyenangkan tidak berubah. Berdasarkan hasil tersebut, maka usia muda bukan berarti lebih bahagia dibanding dengan usia tua.

f.        Kesehatan

Kesehatan yang dapat mempengaruhi kebahagiaan seseorang adalah kesehatan yang dipersepsikan (kesehatan subjektif), bukan kesehatan yang sebetulnya dimiliki (kesehatan objektif). Masalah ringan dalam kesehatan tidak lantas membuat seseorang merasa tidak bahagia, tetapi sakit parahlah yang menyebabkannya.

g.      Agama

Seseorang yang religius cenderung lebih bahagia dan puas akan hidupnya dibanding dengan seseorang yang tidak religius. Agama mengisi umat manusia dengan harapan akan masa depan dan menciptakan makna kehidupan. Keterlibatan agama dikaitkan dengan gaya hidup sehat, baik secara fisik atau psikologis yang ditandai dengan kesetiaan dan perilaku altruistic prososial yang mana salah satu bentuk dari perilaku altruistic prososial ialah pemaafan.

h.      Pendidikan, iklim, ras, dan gender

Keempat hal ini memiliki pengaruh yang tidak terlalu besar terhadap tingkat kebahagiaan seseorang. Pendidikan mempunyai pengaruh yang sedikit terhadap kebahagiaan. Pendidikan dapat sedikit meningkatkan kebahagiaan pada mereka yang berpenghasilan rendah karena pendidikan merupakan sarana untuk mencapai pendapatan yang lebih baik. Iklim di daerah dimana seseorang tinggal dan ras juga tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kebahagiaan. Sedangkan gender, antara pria dan wanita tidak terdapat perbedaan pada keadaan emosinya, namun ini karena wanita cenderung lebih bahagia dan lebih sedih dibandingkan pria.

b.      Faktor Yang Berada Di Bawah Pengendalian Diri Seseorang (voluntary control)

Menurut Seligman (2005) terdapat tiga faktor yang berada di bawah pengendalian diri seseorang (voluntary control) yang berkontribusi terhadap kebahagiaan, yaitu kepuasan terhadap masalalu, kebahagiaan pada masa sekarang, dan optimisme terhadap masa depan. Ketiga hal tersebut tidak selalu dapat dirasakan secara bersamaan, seseorang bisa saja bangga dan puas terhadap masa lalunya namun merasa getir dan pesimis terhadap masa sekarang dan yang akan datang.

Faktor yang berada di bawah pengendalian diri seseorang (voluntary control) yang berkontribusi terhadap kebahagiaan berbeda dengan faktor lingkungan, dimana faktor ini merupakan hal-hal yang berada dalam kontrol secara sadar seseorang. Faktor ini terdiri atas kepuasan terhadap masa lalu, kebahagiaan pada masa sekarang, dan optimisme terhadap masa depan, seperti halnya yang akan dijelaskan sebagai berikut:

1.      Kepuasan Terhadap Masa Lalu

Kepuasan terhadap masa lalu dapat dicapai melalui tiga cara, yakni:

a.       Merubah pandangan masa lalu sebagai penentu masa depan seseorang. Misalnya, seorang lansia yang dulunya pernah mengalami pengalaman yang tidak mengenakkan dalam kehidupannya.

b.      Gratitude (bersyukur), dengan adanya gratitude terhadap hal-hal baik dalam hidup akan meningkatkan kenangan-kenangan positif. Rasa syukur dapat menambah kepuasan hidup adalah bahwa rasa ini menambah intensitas, kekerapan, maupun kesan yang baik tentang masa lalu.

c.       Forgiving and Forgetting (memaafkan dan melupakan), perasaan seseorang mengenai masa lalu tergantung sepenuhnya pada ingatan yang dimilikinya. Salah satu cara untuk menghilangkan emosi negatif mengenai masa lalu adalah dengan memaafkan. Dengan memaafkan dapat memungkinkan tercapainya kepuasan hidup. Adapun melupakan disini bukan berarti menghilangkan memori mengenai suatu hal, namun mengubah atau menghilangkan hal yang menyakitkan.

2.      Kebahagiaan Pada Masa Sekarang

Kebahagiaan pada masa sekarang melibatkan dua hal:

a.       Pleasures, yaitu kesenangan yang memiliki komponen sensori dan emosional yang kuat, sifatnya sementara dan melibatkan sedikit pemikiran. Pleasures terbagi menjadi dua, yaitu body pleasures yang didapat melalui indera atau sensori, dan higher pleasures yang didapat melalui aktifitas yang lebih kompleks.

b.      Gratification, yaitu kegiatan yang sangat disukai oleh seseorang namun selalu melibatkan perasaan tertentu, dan durasinya lebih lama dibandingkan dengan pleasures. Kegiatan yang umumnya memunculkan gratifikasi umumnya memiliki komponen seperti menantang, membutuhkan ketrampilan dan konsentrasi, bertujuan, ada umpan balik langsung, pelaku tenggelam di dalamnya, ada pengendalian, kesadaran diri pupus, dan waktu seolah berhenti. Seligman menekankan gratifikasi tidak muncul setelah melakukan aktifitas yang menyenangkan, namun muncul saat individu telah menggunakan kekuatan (strengh) dan keutamaan (virtue) saat melakukan aktifitas tersebut

3.      Optimisme Terhadap Masa Depan

Emosi positif mengenai masa depan mencakup keyakinan, kepercayaan, kepastian, harapan dan optimisme. Optimisme dan harapan memberikan daya tahan yang lebih baik dalam menghadapi depresi tatkala musibah melanda.

   Orang pesimis memikirkan hal-hal buruk dengan kata “selalu” dan “tidak pernah”. Mereka mudah menyerah dan percaya bahwa penyebab kejadian buruk yang menimpa mereka bersifat permanen, kejadian itu akan terus berlangsung selalu hadir mempengaruhi hidup mereka. Sedangkan orang optimis memikirkan hal-hal buruk dalam istilah “kadang-kadang”, dan “akhir-akhir ini”, lebih mengarah pada penyebab kejadian buruk itu bersifat sementara. Orang optimis jika dihadapkan pada kesulitan, mereka memandangnya sebagai tantangan dan berusaha lebih keras. Mereka juga percaya bahwa kekalahan tersebut bukan karena kesalahan mereka, melainkan karena keadaan atau lingkungan. Hal ini bukan berarti tidak pernah merasa bersalah atau egois, namun mereka memiliki kemampuan untuk membangkitkan diri sendiri dengan mengedepankan hal-hal positif yang dimiliki.

Kebahagiaan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor menurut Mustofa (2008), yaitu:

a.       Kekayaan

Kekayaan berasal dari banyaknya harta yang dimiliki, sehingga mampu memenuhi kebutuhan materi dan kepuasan diri.

b.      Jabatan

Jabatan merupakan posisi stata sosial yang mampu meningkatkan kewibawaan dan pandangan lebih dari orang lain.

c.       Prestasi

Prestasi di bidang tertentu dapat menumbuhkan semangat baru dan dapat meningkatkan rasa percaya diri.

d.      Penerimaan positif oleh lingkungan

Penerimaan yang positif oleh lingkungan dapat memberikan tempat dan posisi yang baik untuk individu.


DAFTAR PUSTAKA

Biswas, R., Diener, & Dean, B. 2007. Positive Psychology Coaching : Putting the Science of Happiness to Work for your Clients. John Wiley & Sons, In

Carr, A. 2004. Positive Psychology : The Science of Happiness and Human Strengths. Hove & NewYork : Brunner – Routledge Taylor & Francis Group

Indriana, Yeniar. 2012. Gerontologi & Progeria. Yogyakarta: Pustaka Belajar

Santrock, J. W. 2002. Life Span Development Perkembangan Masa Hidup Jilid II (edisi kelima). Jakarta : Erlangga.

Santrock, J.W., (2007). Child Development. 11th edition. Boston: Mc. Graw Hill.