A.
PENGERTIAN
DEWASA AWAL
Istilah
adult berasal dari kata kerja latin, seperti juga istilah
adolesence-adolencere- yang berarti “tumbuh menjadi kedewasaan”. Akan tetapi
kata adult berasal dari bentuk lampau partisipel dari kata kerja adultus yang
“berarti telah tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna” atau “telah
menjadi dewasa”. Oleh karena itu orang dewasa adalah individu yang telah
meyelesaikan pertumbuhannya dan dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat
bersama denga orang dewasa lainnya.
Pengertian
kedewasaan sebagai suatu fase dalam perkembangan dipandang oleh Wijngaarden
(1963) dan Andriesen (1974) dari beberapa segi sebetulnya kurang tepat. Dewasa
dalam nahasa belamda adalah “volwassen” “vol” berarti penuh dan “wassen” yang
berarti tumbuh. Volwassen itu sendiri bermakna sudah tumbuh dengan penuh atau
selesai tumbuh.
Kecuali
jika dalam pengertian keewasaan kurang jelas dalam arti psikologi perkembangan,
maka kedewasaan juga dianggap sebagai sudah mencapai perkembangan yang penuh,
sudah selesai perkembangannya.
B.
KONSEP
MASA DEWASA AWAL
Masa
dewasa awal adalah dimulai pada usia 18 tahun sampai kira-kira usia 40 tahun.
Santrock mengatakan bahwa masa dewasa awal atau dewasa dini adalah merupakan
masa transisi, baik transisi secara fisik maupun transisi secara intelektual,
serta transisi secara peran sosial. Masa ini ditandai pula dengan adanya
perubahan fisik, misalnya tumbuh bulu-bulu halus, perubahan suara, menstruasi,
dan kemampuan reproduksi.
C.
TEORI
MASA DEWASA AWAL
1. Teori
Perkembangan Mental
Turner
dan Helms mengemukakan bahwa ada dua dimensi perkembangan mental, yakni:
·
Dimensi Perkembangan Kualitatif
Pieget mengatakan bahwa remaja ataupun dewasa
muda sama-sama berada pada tahap operasi formal, yang membedakan adalah
bagaimana kemampuan individu dalam memecahkan suatu masalah. Hal ini berarti
bahwa Pieget percaya bahwa remaja dan dewasa muda (awal) mempunyai cara pikir
yang sama. Akan tetapi para pengkritik Pieget menemukan bahwa banyak anak
remaja ternyata tidak menggunakan pemikiran operasional formal. Bahkan sejumlah
ahli perkembangan percaya bahwa baru pada masa dewasalah individu menata
pemikiran operasional formal mereka. Mereka mungkin merencanakan dan membuat
hipotesis tentang masalah-masalah seperti remaja, tapi mereka menjadi
sistematis ketika mendekati masalah sebagai orang dewasa.
Ketika sejumlah orang dewasa lebih mampu
menyusun hipotesis daripada remaja dan menurunkan suatu pemecahan masalah dari
suatu permasalahan, banyak orang dewasa yang tidak menggunakan pemikiran
operasional formal.
·
Dimensi Mental Kuantitatif
Menurut Turner dan Helms (1995), biasanya untuk
mengetahui kemampuan mental secara kuantitatif diperlukan suatu pengukuran yang
menggunakan skala angka secara eksak atau pasti. Dalam suatu penelitian
longitudinal yang dilakukan sekitar tahun 1930 dan 1940, ditemukan bahwa taraf
intelegensi cenderung menurun. Latar belakang penurunan ini karena perbedaan
faktor pendidikan ataupun status sosial ekonomi (status of econo-social)
2. Teori
Perkembangan Kognitif
Warner
Schaie membagi tahap perkembangan kognitf menjadi beberapa tahap, yakni:
a. Tahap
menguasai pengetahuan dan keterampilan (acquisitive)
b. Tahap
pencapaian prestasi (achieving stage)
c. Tahap
tanggung jawab (responsibility stage)
d. Tahap
eksekutif (executive stage)
e. Tahap
reorganisasional (reorganisational stage)
f.
Tahap reintegratif (reintegrative stage)
g. Tahap
mencipta dalil-dalil hukum (legacy creating stgae)
Menurut
Jan Sinnnot ada empat ciri perkembangan kognitif masa post-formal berikut ini:
a. Shifting
gearsl, yakni kemampuan mengaitkan penalaran abstrak
b. Multiple
causality/multiple solutions, yakni seorang individu mampu memahami suatu
masalah tidak disebabkan oleh satu faktor melainkan oleh beberapa faktor
c. Pragmatism,
yakni mampu menyadari dan memilih beberapa solusi yang terbaik dalam memecahkan
suatu masalah
d. Awareness
of paradox, yakni mampu menemukan hal-hal yang bersifat paradoks.
3. Teori
Perkembangan Karier
Teori
perkembangan dari pemilihan karier ini berdasarkan pandangan Eli Ginzberg
yangmengatakan bahwa individu melalui tiga fase pemilihan karier yakni fantasi,
tentatif, dan realistik. Fase fantasi terjadi pada masa anak-anak , karena pada
masa tersebut biasanya ketika anak-anak ditanya jika sudah besar mau menjadi
apa jawaban mereka akan bermacam-macam dan terkesan tidak konsisten. Fase
tentatif adalah fase transisi dari fase fantasi menuju pengambilan keputusan
yang realistik. Sedangkan fase realistik adalah dimana individu sudah
mengeksploitasi lebih luas karier yang ada, kemudian memfokuskan diri pada
karier tertentu an akhirnya memilih pekerjaan tertentu dalam karier tersebut.
Sementara
itu, teori perkembangan karier menurut Donald Super, perkembangan pemilihan
karier pekerjaan dibagi menjadi lima tahap, yaitu:
a. Masa
kristalisasi (cristalization)
b. Spesifikasi
(spesification)
c. Implementasi
(implementation)
d. Stabilisasi
(stabilization)
e. Konsolidasi
(consolidation)
D.
KARAKTERISTIK
MASA DEWASA AWAL
1. Masa
pengaturan
Pada
generasi-generasi terdahulu berpandangan bahwa jika anak laki-laki dan wanita mencapai
usia dewasa secara syah, hari-hari kebebasan mereka telah berakhir dan saatnya
telah tiba untuk menerima tanggung jawab sebagai orang dewasa. Ini berarti
bahwa pria muda mulai membentuk bidang pekerjaan yang akan ditanganinya sebagai
kariernya, sedangkan wanita muda diharapkan mulai menerima tanggung jawab
sebagai ibu dan pengurus rumah tangga.
Kapan
orang muda masa kini memulai hidup rumah tangga bergantung pada dua faktor.
Pertama, tepat tidaknya mereka mampu menemukan pola hidup yang memenuhi kebutuhan
mereka kini dan masa depan. Faktor kedua yang menentukan kemantapan pilihan
seseorang bekerja tanggung jawab yang harus dipikulnya sebelum ia mulai
berkarya.
2. Usia
reproduktif
Usia
tua (parenthood) merupakan salah satu peran yang paling penting dalam hidup
orang dewasa. Orang yang kawin berperan sebagai orang tua pada waktu saat ia
berusia dua puluhan atau pada awal tiga puluhan, beberapa sudah menjadi kakek
atau nenek sebelum masa dewasa dini berakhir.
Orang
yang belum menikah hingga menyelesaikan pendidikan atau telah menuai kehidupan
kariernya, tidak akan menjadi orang tua sebelum ia merasa bahwa ia mampu
berkeluarga. Perasaan ini biasanya terjadi sesudah umurnya sekitar awal tiga
puluhan. Dengan demikian, baginya hanyalah dasa warsa terakhir dari masa dewasa
ini merupakan “usia reprodukif”. Bagi orang yang cepat mempunyai anak dan
mempunyai keluarga besar pada awal masa dewasa atau bahkan pada tahun-tahun
terakhir pada masa remaja kemungkinan seluruh masa dewasa ini merupakan masa
reproduksi.
3. Masa
bermasalah
Dalam
tahun-tahun awal masa dewasa banyak masalah baru yang harus dihadapi seeorang.
Masalah baru dari segi utamanya berbeda dari masalah-masalah yang sudah dialami
sebelumnya. Dengan menurunnya tingkat usia kedewasaan secara hukum menjadi 18 tahun
pada tahun 1970, anak-anak muda telah dihadapkan pada banyak masalah dan mereka
tidak siap untuk mengatasinya. Penyesuaian diri terhadap masalah-masalah masa
dewasa dini ini akan menjadi lebih intensif dengan diperpendeknya masa remaja,
sebab masa transisi untuk menjadi masa dewasa menjadi sangat pendek sehingga
anak-anak muda hampir-hampir tidak mempunyai waktu untuk membuat peralihan dari
masa kanak-kanak ke masa dewasa.
Karena
masalah-masalah yang harus dihadapi orang muda itu rumit dan memerlukan waktu
dan energi untuk diatasi, maka berbagai penyesuaian diri tidak akan dilakukan
dalam waktu bersamaan, demikian pula bentuk akhir pnyesuaiannya yidak akan
diterima secara serempak. Ada banyak alasan mengapa penyesuaian diri terhadap
maslah-masalah pada masa dewasa awal begitu sulit, tiga diantara alasan
tersebut adalah:
Sedikit sekali orang muda yang mempunyai
persiapan untuk mengahdapi jenis-jenis masalah yang perlu diatasi sebagai orang
dewasa. Pendidikan di sekolah lanjutan dan tinggi hanya memberikan latihan
kerja yang terbatas.dan hampir tidak ada sekolah atau akademi yang memberikan
kursus-kursus mengenai masalah-masalah yang umum ditemui dalam perkawinan dan
dalam peran sebagai orang tua.
Mencoba menguasai dua atau lebih keterampilan
serempak biasanya menyebabkan kedua-duanya kurang berhasil. Oleh karena itu
menyesuaiakan diri dalam dua peran secara serempak juga tidak memberikan hasil
yang baik dalam upaya penyesuaian diri.
Orang-orang muda itu tidak memperoleh bantuan
dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah mereka, tidak seperti sewaktu
mereka belum dianggap sebagai dewasa. Banyak orang dewasa muda yang sangat
membanggakan statusnya yang baru itu sehingga mereka segan untuk mengakui bahwa
mereka tidak siap menghadai status itu. oleh sebab itu mereka tidak minta
nasehat dan pertolongan untuk mengatasi masalah-masalah yang diakibatkan oleh
status baru ini.
4. Masa
ketegangan emosional
Sekitar
awal atau pertengahan usia tiga puluhan, kebanyakan orang muda telah mampu
memecahkan masalah-masalah mereka dengan cukup baik sehingga menjadi stabil dan
tenang secara emosional. Apabila emosi yang menggelora yang merupakan ciri
tahun-tahun awal kedewasaan masih tetap kuat pada usia tiga puluhan, maka hal
ini merupakan tanda bahwa penyesuaian diri pada kehidupan orang-orang dewasa
belum terlaksana secara memuaskan.
Apabila
ketegangan emosi terus berlanjut sampai usia tiga puluhan, hal itu umumnya
nampak dalam bentuk keresahan. Keresahan utama mungkin terpusat pada pekerjaan
mereka, mereka merasa bahwa mereka tidak mengalami kemajuan secepat yang mereka
harapkan, atau mungkin kekhawatiran mereka berpusat pada perkawinan atau peran
sebagai orang tua.
5. Masa
keterasingan sosial
Banyak
orang muda yang semenjak masa kanak-kanak dan remaja terbiasa tergantung pada
persahabatan kelompok mereka merasa kespian sewaktu tugas-tugas mereka dalam
rumah mereka atau dalam pekerjaan, memisahkan mereka dari kelompok mereka.
Khususnya mereka yang paling populer selama masa sekolah dan kuliah, dan yang
banyak mencurahkan waktu dalam kegiatan-kegiatan kelompok akan paling banyak
menemukan kesulitan dalam penyesuaian diri pada keterasingan sosial selama masa
dewasa dini.
Keterasingan
diidentikkan dengan adanya semangat bersaing dan hasrat kuat untuk maju dalam
karier, dengan demikian keramahtamahan masa remaja diganti dengan persaingan
dalam masyarakat dewasa dan mereka juga harus mencurahkan sebagian besar tenaga
mereka untuk pekerjaan mereka, sehingga mereka dapat menyisihkan waktu yang
sedikit untuk sosialisasi yang diperlukan untuk membinan hubungan-hubungan yang
akrab. Akibatnya mereka menjadi egosentris dan ini tentunya menambah kesepian
mereka.
6. Masa
komitment
Sewaktu
menjadi dewasa, orang-orang muda mengalami perubahan tanggung jawab dari
seorang pelajar yang sepenuhnya tergantung pada orang tua menjadi orang dewasa
mandiri, makka mereka menentukan pola hidup baru, memikul tanggung jawab baru
dan membuat komitmen-komitmen baru. Meskipun pola-pola hidup, tanggung jawab
dan komitmen baru ini mungkin akan berubah juga, pola-pola ini menjadi landasan
yang akan membentuk pola-pola hidup, tanggung jawab dan komitmen dikemudian
hari.
7. Masa
ketergantungan
Meskipun
telah resmi mencapai status dewasa pada usia 18 tahun, dan status ini
memberikan kebebasan untuk mendiri, banyak orang muda yang masih tergantung
atau bahkan sangat tergantung pada orang-orang lain selama jangka waktu yang
berbeda. Ketergantungan ini mungkin akan pada orang tua, lembaga pendidikan
yang memberikan beasiswa sebagian atau penuh atau pada pemerintah karena mereka
memperoleh pinjaman untuk membiayai pendidikan mereka.
Ada
orang-orang muda yang membenci ketergantungan ini, walaupun mereka menyadari
bahwa hal itu perlu agar mereka memperoleh pendidikan yang diutuhkan bagi
pekerjaan pilihan mereka. Ada juga orang-orang muda yang meskipun memberontak
terhadap ketergantungan akibat pendidikan panjang menjadi begitu terbiasa pada
ketergantungan ini sehinngga mereka meragukan kemampuan mereka untuk mandiri
secara ekonomi.
8. Masa
perubahan nilai
Banyak
nilai masa kanak-kanak dan remaja berubah karena pengalaman dan hubungan sosial
yang lebih luas dengan orang-orang yang berbeda usia dan karena nilai-nilai itu
kini dilihat dari kaca mata orang dewasa. Ada beberapa alasan yang menyebabkan
perubahan nilai pada masa dewasa dini, diantaranya yang sangat umum adalah:
a. Jika
orang muda dewasa ingin diterima oleh anggota-anggota kelompok orang dewasa,
mereka harus menerima niai-nilai kelompok ini, seperti juga sewaktu kanak-kanak
dan remaja mereka harus menerima niai-nilai kelompok teman sebaya.
b. Orang-orang
muda itu segera menyadari bahwa kebanyakan kelompok sosial berpedoman pada
nilai-nilai kenvensional dalam hal keyakinan-keyakinan dan perilaku seperti
juga haknya dalam hal penampilan.
c. Orang-orang
muda yang menjadi orang tua tidak hanya cenderung mengubah nilai-nilai mereka
lebih cepat daripada mereka yang tidak kawin atau tidak punya anak, tetapi
mereka juga bergeser pada nilai-nilai yang lebih konservatif dan lebih
tradisional.
9. Masa
penyesuaian diri dengan cara hidup baru
Diantara
berbagai penyesuaian diri yang harus dilakukan orang muda terhadap gaya hidup
baru adalah penyesuaian diri pada pola peran seks atas dasar persamaan derajat
(egalitarian) yang menggantikan pembedaan pola peran seks tradisional, serta
pola-pola baru bagi kehidupan keluarga, termasuk perceraian, keluarga berorang
tua tunggal, dan berbagai pola baru di tempat pekerjaan khususnya pada
unit-unit kerja yang besar dan impersonal di bidang bisnis dan industri.
Menyesuaikan
diri pada suatu gaya hidup yang baru memang selalu sulit, terlebih-lebih bagi
kaum muda zaman sekarang karena persiapan yang mereka terima sewaktu masih
anak-anak dan di masa remaja biasanya tidak berkaitan atau bahkan tidak cocok
dengan gaya-gaya hidup baru ini.
10. Masa
kreatif
Bentuk
kreatifitas yang akan terlihat setelah seseorang itu dewasa akan tergantung
pada minat dan kemampuan individual, kesempatan untuk mewujudkan keinginan dan
kegiatan-kegiatan yang memberikan kepuasan sebesar-besarnya.
E.
TUGAS
PERKEMBANGAN MASA DEWASA AWAL
Sebagian besar golongan dewasa muda
telah menyelesaikan pendidikan sampai taraf universitas dan kemudian mereka
segera memasuki jenjang karier dalam pekerjaannya. Kehidupan psikososial dewasa
muda makin kompleks dibandingkan dengan masa remaja. Karena selain bekerja,
mereka akan memasuki kehidpan pernikahan, membentuk keluarga baru, memelihara
anak-anak, dan tetap harus memperhatikan orang tua yang makin tua.
Adapun tugas-tugas perkembangan pada
masa dewasa awal adalah sebagai berikut:
1. Mencari
dan menemukan calon pasangan hidup
Setelah
melewati masa remaja, golongan dewasa muda semakin memiliki kematangan
fisiologis (seksual) sehingga mereka siap melakukan tugas reproduksi, yaitu
mampu melakukakn hubungan seksual denga lawan jenisnya, asalkan memnuhi persyaratan
yang sah (perkawinan yang resmi). Untuk sementara waktu, dorongan biolohid
tersebut mungkin akan ditahan terlebih dahulu.
Mereka
akan beruapaya mencari calon teman hidup yang cocok untuk dijadikan pasangan
dalam perkawinan ataupun untuk membentuk kehidupan rumah tangga berikutnya.
Mereka akan menentukan kriteria usia, pendidikan, pekerjaan, atau suku bangsa
tertentu, sebagai persyaratan pasangan hidupnya. Setiap orang mempunyai
kriteria yang berbeda-beda.
2. Membina
kehidupan rumah tangga
Hubungan
interpersonal memainkan peran yang penting dalam perkawinan yang pentingnya
sama dengan hubungan persahabatan dan hubungan bsinis. Makin banyak pengalaman
dalam hubungna interpersonal antara pria dan wanita yang diperoleh pada masa
lalu, makin besar pengertian wawasan sosial yang telah mereka kembangkan. Serta
semakin baik mereka menyesuaikan diri dalam hubungna perkawinan.
3. Meniti
karier dalam rangka memantapkan kehidupan ekonomi rumah tangga
Masa ini disebut juga dengan masa
berharap kerja dimana seorang dewasa awal tidak memiliki keterampilan dalam
melamar suatu jenis pekerjaan. Banyak juga orang dewasa awal yang tidak tertair
dengan pekerjaan yang selama ini ditekuni oleh orang tua atau sanak
keluarganya.
Orang dewasa yang mempunyai cukup
pengalaman kerja dapat memperoleh kepuasan yang jauh lebih sesuai dengan
pekerjaan yang dipilih daripada mereka yang kurang mempunyai pengalaman kerja.
4. Menjadi
warga negara yang bertanggung jawab
Warga
negara yang baik adalah dambaan bagi setiap orang yang ingin hidup tenang,
damai, dan bahagia ditengah-tengah masyarakat. Syarat-syarat untuk menjadi
warga negara yang baik harus dipenuhi oleh seseorang, sesuai dengan norma
sosial budaya yang berlaku di masyarakat.