Tampilkan postingan dengan label psikologi perkembangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi perkembangan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Juni 2021


A.    Lansia

1.      Pengertian Lansia

Lansia merupakan tahap akhir dari siklus perkembangan manusia. Undang-undang No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia menetapkan batasan umur lansia di Indonesia adalan 60 tahun ke atas. Lansia ditandai dengan proses penuaan, dimana penuaan adalah proses alamiah yang terjadi sebagai dampak dari perubahan usia yang ditandai dengan penurunan kondisi fisik dan psikis (BPS Penduduk Lanjut Usia, 2017).

Indriana (2012) di dalam bukunya yang berjudul Gerontologi & Progeria menjelaskan mengenai lansia. Dimana lanjut usia adalah sebutan bagi mereka yang telah memasuki usia 60 tahun ke atas. Undang-undang Republic Indonesia nomor 13 tahun 1998 tentangKesejahteraan Lanjut Usia Bab 1 pasal 1, yang dimaksud dengan lanjut usia adalah seorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.

Sedangkan menurut Hurlock (1980) lansia adalah periode terakhir dalam perkembangan kehidupan manusia. Lansia terbagi menjadi dua yaitu usia lanjut dini dan usia lanjut, dimana usia lanjut dini adalah individu yang berkisar antara 60 sampai 70 tahun, sedangkan usia lanjut adalah dimulai pada usia 70 tahun sampai akhir kehidupan seseorang atau kematian.

Banyak istilah yang dikenal masyarakat untuk menyebut orang lanjut usia, antara lain lansia yang merupakan singkatan lanjut usia. Istilah lain adalah manula yang merupakan singkatan dari manusia lanjut usia, usila singkatan dari usia lanjut. Ada istilah lain yang terasa lebih enak didengar yakni wulan, yang merupakan singkatan dari warga usia lanjut.

Pada waktu seseorang memasuki masa usia lanjut, terjadi berbagai perubahan baik yang bersifat fisik, mental, maupun sosial. Perubahan yang bersifat fisik antara lain adalah penurunan kekuatan fisik, stamina, dan penampilan. Hal ini dapat menyebabkan beberapa orang menjadi depresif atau merasa tidak senangsaat memasuki masa usia lanjut. Mereka menjadi tidak efektif dalam pekerjaan dan peran sosial, jika mereka bergantung pada energy fisik yang sekarang tidak dimiliki lagi. Sebaliknya, mereka harus lebih menekankan kemampuan berpikir daripada kemampuan fisik dalam memecahkan masalah. Jadi, yang terpenting bagi orang lanjut usia adalah mengalihkan kemampuan fisik pada kemampuan mental atau kebijaksanaan dalam perilakunya (Indriana, 2012).

Dapat disimpulkan bahwa lansia adalah individu yang memiliki usia 60 tahun atau lebih sampai individu meninggal dunia yang ditandai dengan menurunnya kemampuan fisik maupun psikis.

2.      Tugas Perkembangan Lansia

Sebagian besar tugas perkembangan lansia berkaitan dengan kehidupan pribadi daripada kehidupan orang lain. Tugas perkembangan lansia dalam Hurlock (1980) dijelaskan terdapat 6 hal yaitu:

1.      Menyesuaikan diri terhadap menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan

2.      Menyesuaikan diri terhadap masa persiun serta mulai berkurangnya penghasilan keluarga

3.      Penyesuaian diri terhadap kematian pasangan hidup atau orang yang dicintai

4.      Membentuk sebuah hubungan yang baik dengan orang yang seusia

5.      Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan

6.      Menyesuaikan diri dengan peran sosial dengan luwes dan baik

 

Menurut Pack dalam Aleydrus (2014) terdapat 3 tugas-tugas lansia yang meliputi:

1.      Sesuatu yang berkaitan dengan masa pensiun. Peran kerja merupakan hal yang penting dalam membentuk identitas. Masa pensiun adalah sebuah masa penurunan terhadap ketertarikan di luar kerja, dimana hal tersebut membantu menciptakan kepuasan pribadi serta memiliki perasaan yang berharga di luar aktivitas bekerja yang merupakan hak penting dalam periode lansia.

2.      Kemunduran fisik, hal ini menjadikan perasaan putus asa dan perasaan yang tidak menyenangkan terhadap diri sendiri dan kehidupan. Lansia merubah nilai yang berkaitan dengan fisik menjadi nilai-nilai hubungan interpersonal serta aktualisasi mental. Karena hal tersebut dapat membantu lansia mengalami kepuasan hidup.

3.      Ketidak abadian manusia, lansia harus memiliki keyakinan akan kematian. Bahwa setiap manusia akan mengalami kematian sehingga harus bisa menerima kenyataan.


DAFTAR PUSTAKA


Papalia, Old, dan Feldman. (2009). Human development, perkembangan manusia. edisi 10, buku 2. Jakarta : Salemba Humanika.

Santrock, J. W. (2002). Life Span Development Perkembangan Masa Hidup Jilid II (edisi kelima). Jakarta : Erlangga.

Santrock, J.W., (2007). Child Development. 11th edition. Boston: Mc. Graw Hill.

Sabtu, 12 Januari 2019

MINAT

Minat adalah suatu rasa lebih suka atau ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaaan akan sesuatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri (Slamento, 1995: 182). Minat berpengaruh pada pencapaian tujuan terhadap sesuatu hal yang diinginkan. Salahsatu tolak ukur pencapaianpembelajarandi sekolah dengan mengetahui minat siswa mengikuti pembelajaran. Minat dipengaruhi oleh beberapafaktor diantaranya adalah: (a) Faktor dari dalam anak didik, terdiri dari (1) faktor fisiologis, yang terdiri dari panca indera, pusat syaraf, serta keadaanfisik pada umumnya, (2) faktor psikologis, yang meliputi pengamatan, perhatian, emosi, motivasi dan intelegensi. (b). Faktor dari luar anak didik, yang terdiri dari (1) faktor sosial, yaitu pengaruh yang dapat menimbulkan minat atau tidak berminat. Faktor sosial dapat berupa orangtua atau kehadiran orang tersebut secara langsung, (2) faktor non sosial, yaitu faktor alam yang dapat menimbulkan minat seseorang, misalnya: panas, dingin, lembab, perlengkapan, sarana dan prasarana.
Minat adalah suatu rasa lebih suka atau ketertarikan padasuatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan sesuatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri (Slamento,1995: 182). Sukardi (1987: 46) mengemukakan bahwa minat sebagai suatu perangkat mental yang terdiri dari kombinasi perpaduan dan campuran dari perasaan, harapan, prasangka, cemas, takut, dan kecenderungan lain yang dapat menggerakan individudalam pilihantetentu. Dengan kata lain Sukardi memandang minat sebagai campuran dari keadaan mental dan kecenderungan jiwa yang mengarahkan pada pilihan tertentu pada diri individu. Winkel (1983: 30) mengemukakan minat adalah kecenderungan yang agak menetap dalam subyek, merasa tertarik pada bidang atau hal tertentu dan merasa senang dalam bidang itu. Walgito (1997: 57) menjelaskan bahwa minat merupakan suatu keadaan dimana seseorang menaruh perhatian pada sesuatu, disertai keinginan, untuk mengetahui, mempelajari, atau membuktikan. Menurut uraian diatas ada hubungan antara minat dan tindakan seseorang yang berminat terhadap sesuatu obyek maka akan merasa senang terhadap sesuatu dan seseorang akan senang berkecimpung atau terlibat langsung pada sesuatu tersebut. Minat muncul apabila individutersebut tertarik terhadap sesuatu, sesuatu yang dirasakan menarik bagi individu. Minat merupakan gejala psikis yang menyebabkan seseorang merasa senang terhadap benda atau situasi tertentu.
Sulaeman (1995: 77) juga menyatakan bahwa minat dapat digolongkan menjadi dua yaitu minat intrinsik dan minat secara ekstrinsik. Minat secara intrinsik merupakan emosi secara senang yang dihubungkan dengan aktivitas tersebut. Sedangkan minat secara instrinsik tidak mendasar dalam diri siswa, meskipun tujuannya telah tercapai akan tetap senang dengan aktivitas tersebut, sedangkan minat ekstrinsik tidak mendasar dalam diri siswa, tetapi adanya unsur dari luar yang menyebabkan siswa tersebut mempunyai rasa senang, pengaruh dari luar ini dapat berasal dari orangtua, wali, ternan-ternan sekolah, ternan bermain, media massa,atau guru di sekolah.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa disamping minat disebabkan oleh rasa senang, tertarik, dan adanya aktivitas yang dilakukan akan tetapi minat juga disebabkanpula oleh pengaruh dari luar individu, misalnya pengaruh lingkungan keluarga, lingkungan sekolah,dan lingkungan masyarakat.

Minat adalah usaha dan kemauan untuk mempelajari (learning) dan mencari sesuatu.

a.       Makna Minat, menurut Crow & Crow, dalam bukunya Educational Psychology hlm 248, minat atau interest bisa berhubungan dengan daya gerak yang mendorong kita cenderung atau merasa tertarik pada orang, benda atau kegiatan atau pun bisa berupa pengalaman yang afektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Dengan kata lain, minat dapat menjadi penyebab kegiatan dan penyebab partisipasi dalam kegiatan. Pengertian yang tak jauh beda itu juga disampaikan oleh Witherington/Buchori,1978,hlm 124.
Dari pengertian tersebut kita memperoleh kesan bahwa minat itu sebenarnya mengandung unsur-unsur : kognisi (mengenal), emosi (perasaan), dan konasi  (kehendak) (Bigot,et al) hlm 201). Dan oleh sebab itu minat dapat dianggap sebagai respon yang sadar, sebab kalau tidak demikian maka minat tak akan mempunyai arti apa-apa. Unsur kognisi, dalam arti minat itu didahului oleh pengetahuan dan informasi mengenai obyek yang dituju oleh minat tersebut. Unsur emosi, karena dalam partisipasi atau pengalaman itu disertai dengan perasaan tertentu (biasanya perasaan senang). Sedangkan unsur konasi merupakan lanjutan dari kedua unsur tersebut yaitu yang diwujudkan dalam bentuk kemauan dan hasrat untuk melakukan suatu kegiatan, termasuk kegiatan yang diselenggarakan di sekolah.

b.      Minat dan Usaha. Tugas dan pekerjaan tidaklah dapat diselesaikan tanpa mengerahkan usaha, daya dan tenaganya. Semakin sulit tugas yang dihadapi, semakin banyak pula tenaga yang diperlukan untuk menyelesaikan dengan baik. Kenyataan ini berlaku pula dalam belajar. Penguasaan yang sempurna akan suatu mata pelajaran atau keterampilan menghendaki curahan perhatian yang demikian terinci. Dengan demikian, aspek tugas-tugas sekolah yang mungkin dirasakan menjemukan akan dapat ditiadakan dengan menghadirkan minat dalam menyelesaikan kegiatan tersebut. Ini berarti, bahwa minat yang telah disadari terhadap bidang belajar mungkin sekali akan menjaga pikiran siswa sehingga dia bisa menguasainya dengan baik. Pada gilirannya, prestasi yang berhasil itu akan menambah minatnya, dan keadaan ini bisa berlanjut sepanjang hayatnya.
Minat siswa terhadap bidang pelajaran apa pun tidak dapat dipisahkan dari bakat nyata dalam bidang tersebut. Kalau pelajaran itu dipelajari dan dikaji terus meneru, niscaya bisa menghasilkan kecakapan yang lebih besar disertai dengan bertambahnya minat, bukan hanya terhadap bidang itu sendiri tetapi juga terhadap bidang-bidang lain yang berhubungan.
Dalam kenyataannya, tidak semua siswa memulai bidang studi baru karena factor minatnya sendiri. Ada yang mengembangkan minatnya terhadap bidang pelajaran tersebut karena pengaruh dari gurunya, teman sekelasnya atau orang tuanya. Walaupun demikian, lama-kelamaan jika siswa yang serupa itu mampu mngembangkan minatnya yang kuat terhadap mata pelajaran dan mampu pula mengerahkan segala daya dan upayanya untuk menguasainya, niscaya ia bisa memperoleh prestasi yang berhasil, sekalipun ia tergolong siswa yang berkemampuan rata-rata. Oleh sebab itu, menjadi kewajiban dan tanggung jawab sekolah untuk menyediakan lingkungan yang diperkaya bagi para siswa guna merangsang minat mereka terhadap banyak kegiatan yang bermanfaat yang berlangsung dalam proses belajar mengajar pada khususnya.

c.       Minat dan kelelahan. Ada dua macam kelelahan pada manusia, yaitu kelelahan yang hakiki dan kelelahan yang semu. Kelelahan yang hakiki diakibatkan oleh kerja fisik atau psikis sehingga menyebabkan racun tau toksin yang menumpuk pada tubuh. Kelelahan ini dapat dihilangkan dengan istirahat. Sedangkan kelelahan yang semu diakibatkan oleh tidak ada atau hilangnya minat terhadap kegiatan yang dilakukan oleh individu itu sendiri. Misalnya, siswa yang membaca buku pelajaran secara terus-menerus bisa menyebabkan ia kelelahan dan timbullah karenanya keinginan untuk menghentikan membacanya. Kemudian, jika ia mengalihkan dari buku tersebut kepada buku lain yang menarik minatnya, maka ia bisa terus membacanya sampai berjam-jam lamanya tanpa merasa lelah. Jadi, rasa lelah yang nampaknya menyertai belajar seringkali tidak lebih dari kebosanan belaka disertai keinginan untuk melakukan kegiatan lain yang menarik minatnya.Sebaliknya, siswa yang memang sangat menaruh minatnya kepada suatu tugas tertentu, maka kemungkinan ia akan lebih banyak melakukan tugasnya dan juga tugas tersebut akan dilakukannya dengan baik, sekalipun dalam beberapa hal minatnya bisa menyebabkan dia bekerja di luar batas-batas waktu yang semestinya dan kesehatannya sekaligus. Ini tidak berarti bahwa istirahat dan rileks itu tidak penting. Keduanya tetap diperlukan sebagai salah satu upaya untuk menjaga kesehatan dan mencapai prestasi yang  berhasil dalam tugas sekolah.( Abd.Rachman Abror,1993,hal 112-114)



Senin, 27 Januari 2014


A.   PENGERTIAN DEWASA AWAL
Istilah adult berasal dari kata kerja latin, seperti juga istilah adolesence-adolencere- yang berarti “tumbuh menjadi kedewasaan”. Akan tetapi kata adult berasal dari bentuk lampau partisipel dari kata kerja adultus yang “berarti telah tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna” atau “telah menjadi dewasa”. Oleh karena itu orang dewasa adalah individu yang telah meyelesaikan pertumbuhannya dan dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama denga orang dewasa lainnya.[1]
Pengertian kedewasaan sebagai suatu fase dalam perkembangan dipandang oleh Wijngaarden (1963) dan Andriesen (1974) dari beberapa segi sebetulnya kurang tepat. Dewasa dalam nahasa belamda adalah “volwassen” “vol” berarti penuh dan “wassen” yang berarti tumbuh. Volwassen itu sendiri bermakna sudah tumbuh dengan penuh atau selesai tumbuh.
Kecuali jika dalam pengertian keewasaan kurang jelas dalam arti psikologi perkembangan, maka kedewasaan juga dianggap sebagai sudah mencapai perkembangan yang penuh, sudah selesai perkembangannya.[2]

B.    KONSEP MASA DEWASA AWAL
Masa dewasa awal adalah dimulai pada usia 18 tahun sampai kira-kira usia 40 tahun. Santrock mengatakan bahwa masa dewasa awal atau dewasa dini adalah merupakan masa transisi, baik transisi secara fisik maupun transisi secara intelektual, serta transisi secara peran sosial. Masa ini ditandai pula dengan adanya perubahan fisik, misalnya tumbuh bulu-bulu halus, perubahan suara, menstruasi, dan kemampuan reproduksi.[3]

C.   TEORI MASA DEWASA AWAL
1.      Teori Perkembangan Mental
Turner dan Helms mengemukakan bahwa ada dua dimensi perkembangan mental, yakni:
·         Dimensi Perkembangan Kualitatif
Pieget mengatakan bahwa remaja ataupun dewasa muda sama-sama berada pada tahap operasi formal, yang membedakan adalah bagaimana kemampuan individu dalam memecahkan suatu masalah. Hal ini berarti bahwa Pieget percaya bahwa remaja dan dewasa muda (awal) mempunyai cara pikir yang sama. Akan tetapi para pengkritik Pieget menemukan bahwa banyak anak remaja ternyata tidak menggunakan pemikiran operasional formal. Bahkan sejumlah ahli perkembangan percaya bahwa baru pada masa dewasalah individu menata pemikiran operasional formal mereka. Mereka mungkin merencanakan dan membuat hipotesis tentang masalah-masalah seperti remaja, tapi mereka menjadi sistematis ketika mendekati masalah sebagai orang dewasa.
Ketika sejumlah orang dewasa lebih mampu menyusun hipotesis daripada remaja dan menurunkan suatu pemecahan masalah dari suatu permasalahan, banyak orang dewasa yang tidak menggunakan pemikiran operasional formal.[4]
·         Dimensi Mental Kuantitatif
Menurut Turner dan Helms (1995), biasanya untuk mengetahui kemampuan mental secara kuantitatif diperlukan suatu pengukuran yang menggunakan skala angka secara eksak atau pasti. Dalam suatu penelitian longitudinal yang dilakukan sekitar tahun 1930 dan 1940, ditemukan bahwa taraf intelegensi cenderung menurun. Latar belakang penurunan ini karena perbedaan faktor pendidikan ataupun status sosial ekonomi (status of econo-social)[5]

2.      Teori Perkembangan Kognitif
Warner Schaie membagi tahap perkembangan kognitf menjadi beberapa tahap, yakni:
a.       Tahap menguasai pengetahuan dan keterampilan (acquisitive)
b.       Tahap pencapaian prestasi (achieving stage)
c.       Tahap tanggung jawab (responsibility stage)
d.       Tahap eksekutif (executive stage)
e.       Tahap reorganisasional (reorganisational stage)
f.        Tahap reintegratif (reintegrative stage)
g.       Tahap mencipta dalil-dalil hukum (legacy creating stgae)[6]

Menurut Jan Sinnnot ada empat ciri perkembangan kognitif masa post-formal berikut ini:
a.       Shifting gearsl, yakni kemampuan mengaitkan penalaran abstrak
b.       Multiple causality/multiple solutions, yakni seorang individu mampu memahami suatu masalah tidak disebabkan oleh satu faktor melainkan oleh beberapa faktor
c.       Pragmatism, yakni mampu menyadari dan memilih beberapa solusi yang terbaik dalam memecahkan suatu masalah
d.       Awareness of paradox, yakni mampu menemukan hal-hal yang bersifat paradoks.[7]

3.      Teori Perkembangan Karier
Teori perkembangan dari pemilihan karier ini berdasarkan pandangan Eli Ginzberg yangmengatakan bahwa individu melalui tiga fase pemilihan karier yakni fantasi, tentatif, dan realistik. Fase fantasi terjadi pada masa anak-anak , karena pada masa tersebut biasanya ketika anak-anak ditanya jika sudah besar mau menjadi apa jawaban mereka akan bermacam-macam dan terkesan tidak konsisten. Fase tentatif adalah fase transisi dari fase fantasi menuju pengambilan keputusan yang realistik. Sedangkan fase realistik adalah dimana individu sudah mengeksploitasi lebih luas karier yang ada, kemudian memfokuskan diri pada karier tertentu an akhirnya memilih pekerjaan tertentu dalam karier tersebut.[8]
Sementara itu, teori perkembangan karier menurut Donald Super, perkembangan pemilihan karier pekerjaan dibagi menjadi lima tahap, yaitu:
a.       Masa kristalisasi (cristalization)
b.       Spesifikasi (spesification)
c.       Implementasi (implementation)
d.       Stabilisasi (stabilization)
e.       Konsolidasi (consolidation)[9]

D.   KARAKTERISTIK MASA DEWASA AWAL
1.      Masa pengaturan
Pada generasi-generasi terdahulu berpandangan bahwa jika anak laki-laki dan wanita mencapai usia dewasa secara syah, hari-hari kebebasan mereka telah berakhir dan saatnya telah tiba untuk menerima tanggung jawab sebagai orang dewasa. Ini berarti bahwa pria muda mulai membentuk bidang pekerjaan yang akan ditanganinya sebagai kariernya, sedangkan wanita muda diharapkan mulai menerima tanggung jawab sebagai ibu dan pengurus rumah tangga.
Kapan orang muda masa kini memulai hidup rumah tangga bergantung pada dua faktor. Pertama, tepat tidaknya mereka mampu menemukan pola hidup yang memenuhi kebutuhan mereka kini dan masa depan. Faktor kedua yang menentukan kemantapan pilihan seseorang bekerja tanggung jawab yang harus dipikulnya sebelum ia mulai berkarya.[10]

2.      Usia reproduktif
Usia tua (parenthood) merupakan salah satu peran yang paling penting dalam hidup orang dewasa. Orang yang kawin berperan sebagai orang tua pada waktu saat ia berusia dua puluhan atau pada awal tiga puluhan, beberapa sudah menjadi kakek atau nenek sebelum masa dewasa dini berakhir.
Orang yang belum menikah hingga menyelesaikan pendidikan atau telah menuai kehidupan kariernya, tidak akan menjadi orang tua sebelum ia merasa bahwa ia mampu berkeluarga. Perasaan ini biasanya terjadi sesudah umurnya sekitar awal tiga puluhan. Dengan demikian, baginya hanyalah dasa warsa terakhir dari masa dewasa ini merupakan “usia reprodukif”. Bagi orang yang cepat mempunyai anak dan mempunyai keluarga besar pada awal masa dewasa atau bahkan pada tahun-tahun terakhir pada masa remaja kemungkinan seluruh masa dewasa ini merupakan masa reproduksi.

3.      Masa bermasalah
Dalam tahun-tahun awal masa dewasa banyak masalah baru yang harus dihadapi seeorang. Masalah baru dari segi utamanya berbeda dari masalah-masalah yang sudah dialami sebelumnya. Dengan menurunnya tingkat usia kedewasaan secara hukum menjadi 18 tahun pada tahun 1970, anak-anak muda telah dihadapkan pada banyak masalah dan mereka tidak siap untuk mengatasinya. Penyesuaian diri terhadap masalah-masalah masa dewasa dini ini akan menjadi lebih intensif dengan diperpendeknya masa remaja, sebab masa transisi untuk menjadi masa dewasa menjadi sangat pendek sehingga anak-anak muda hampir-hampir tidak mempunyai waktu untuk membuat peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.
Karena masalah-masalah yang harus dihadapi orang muda itu rumit dan memerlukan waktu dan energi untuk diatasi, maka berbagai penyesuaian diri tidak akan dilakukan dalam waktu bersamaan, demikian pula bentuk akhir pnyesuaiannya yidak akan diterima secara serempak. Ada banyak alasan mengapa penyesuaian diri terhadap maslah-masalah pada masa dewasa awal begitu sulit, tiga diantara alasan tersebut adalah:
*      Sedikit sekali orang muda yang mempunyai persiapan untuk mengahdapi jenis-jenis masalah yang perlu diatasi sebagai orang dewasa. Pendidikan di sekolah lanjutan dan tinggi hanya memberikan latihan kerja yang terbatas.dan hampir tidak ada sekolah atau akademi yang memberikan kursus-kursus mengenai masalah-masalah yang umum ditemui dalam perkawinan dan dalam peran sebagai orang tua.
*      Mencoba menguasai dua atau lebih keterampilan serempak biasanya menyebabkan kedua-duanya kurang berhasil. Oleh karena itu menyesuaiakan diri dalam dua peran secara serempak juga tidak memberikan hasil yang baik dalam upaya penyesuaian diri.
*      Orang-orang muda itu tidak memperoleh bantuan dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah mereka, tidak seperti sewaktu mereka belum dianggap sebagai dewasa. Banyak orang dewasa muda yang sangat membanggakan statusnya yang baru itu sehingga mereka segan untuk mengakui bahwa mereka tidak siap menghadai status itu. oleh sebab itu mereka tidak minta nasehat dan pertolongan untuk mengatasi masalah-masalah yang diakibatkan oleh status baru ini.[11]

4.      Masa ketegangan emosional
Sekitar awal atau pertengahan usia tiga puluhan, kebanyakan orang muda telah mampu memecahkan masalah-masalah mereka dengan cukup baik sehingga menjadi stabil dan tenang secara emosional. Apabila emosi yang menggelora yang merupakan ciri tahun-tahun awal kedewasaan masih tetap kuat pada usia tiga puluhan, maka hal ini merupakan tanda bahwa penyesuaian diri pada kehidupan orang-orang dewasa belum terlaksana secara memuaskan.
Apabila ketegangan emosi terus berlanjut sampai usia tiga puluhan, hal itu umumnya nampak dalam bentuk keresahan. Keresahan utama mungkin terpusat pada pekerjaan mereka, mereka merasa bahwa mereka tidak mengalami kemajuan secepat yang mereka harapkan, atau mungkin kekhawatiran mereka berpusat pada perkawinan atau peran sebagai orang tua.[12]

5.      Masa keterasingan sosial
Banyak orang muda yang semenjak masa kanak-kanak dan remaja terbiasa tergantung pada persahabatan kelompok mereka merasa kespian sewaktu tugas-tugas mereka dalam rumah mereka atau dalam pekerjaan, memisahkan mereka dari kelompok mereka. Khususnya mereka yang paling populer selama masa sekolah dan kuliah, dan yang banyak mencurahkan waktu dalam kegiatan-kegiatan kelompok akan paling banyak menemukan kesulitan dalam penyesuaian diri pada keterasingan sosial selama masa dewasa dini.
Keterasingan diidentikkan dengan adanya semangat bersaing dan hasrat kuat untuk maju dalam karier, dengan demikian keramahtamahan masa remaja diganti dengan persaingan dalam masyarakat dewasa dan mereka juga harus mencurahkan sebagian besar tenaga mereka untuk pekerjaan mereka, sehingga mereka dapat menyisihkan waktu yang sedikit untuk sosialisasi yang diperlukan untuk membinan hubungan-hubungan yang akrab. Akibatnya mereka menjadi egosentris dan ini tentunya menambah kesepian mereka.[13]

6.      Masa komitment
Sewaktu menjadi dewasa, orang-orang muda mengalami perubahan tanggung jawab dari seorang pelajar yang sepenuhnya tergantung pada orang tua menjadi orang dewasa mandiri, makka mereka menentukan pola hidup baru, memikul tanggung jawab baru dan membuat komitmen-komitmen baru. Meskipun pola-pola hidup, tanggung jawab dan komitmen baru ini mungkin akan berubah juga, pola-pola ini menjadi landasan yang akan membentuk pola-pola hidup, tanggung jawab dan komitmen dikemudian hari.[14]

7.      Masa ketergantungan
Meskipun telah resmi mencapai status dewasa pada usia 18 tahun, dan status ini memberikan kebebasan untuk mendiri, banyak orang muda yang masih tergantung atau bahkan sangat tergantung pada orang-orang lain selama jangka waktu yang berbeda. Ketergantungan ini mungkin akan pada orang tua, lembaga pendidikan yang memberikan beasiswa sebagian atau penuh atau pada pemerintah karena mereka memperoleh pinjaman untuk membiayai pendidikan mereka.
Ada orang-orang muda yang membenci ketergantungan ini, walaupun mereka menyadari bahwa hal itu perlu agar mereka memperoleh pendidikan yang diutuhkan bagi pekerjaan pilihan mereka. Ada juga orang-orang muda yang meskipun memberontak terhadap ketergantungan akibat pendidikan panjang menjadi begitu terbiasa pada ketergantungan ini sehinngga mereka meragukan kemampuan mereka untuk mandiri secara ekonomi.[15]

8.      Masa perubahan nilai
Banyak nilai masa kanak-kanak dan remaja berubah karena pengalaman dan hubungan sosial yang lebih luas dengan orang-orang yang berbeda usia dan karena nilai-nilai itu kini dilihat dari kaca mata orang dewasa. Ada beberapa alasan yang menyebabkan perubahan nilai pada masa dewasa dini, diantaranya yang sangat umum adalah:
a.       Jika orang muda dewasa ingin diterima oleh anggota-anggota kelompok orang dewasa, mereka harus menerima niai-nilai kelompok ini, seperti juga sewaktu kanak-kanak dan remaja mereka harus menerima niai-nilai kelompok teman sebaya.
b.       Orang-orang muda itu segera menyadari bahwa kebanyakan kelompok sosial berpedoman pada nilai-nilai kenvensional dalam hal keyakinan-keyakinan dan perilaku seperti juga haknya dalam hal penampilan.
c.       Orang-orang muda yang menjadi orang tua tidak hanya cenderung mengubah nilai-nilai mereka lebih cepat daripada mereka yang tidak kawin atau tidak punya anak, tetapi mereka juga bergeser pada nilai-nilai yang lebih konservatif dan lebih tradisional.[16]

9.      Masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru
Diantara berbagai penyesuaian diri yang harus dilakukan orang muda terhadap gaya hidup baru adalah penyesuaian diri pada pola peran seks atas dasar persamaan derajat (egalitarian) yang menggantikan pembedaan pola peran seks tradisional, serta pola-pola baru bagi kehidupan keluarga, termasuk perceraian, keluarga berorang tua tunggal, dan berbagai pola baru di tempat pekerjaan khususnya pada unit-unit kerja yang besar dan impersonal di bidang bisnis dan industri.
Menyesuaikan diri pada suatu gaya hidup yang baru memang selalu sulit, terlebih-lebih bagi kaum muda zaman sekarang karena persiapan yang mereka terima sewaktu masih anak-anak dan di masa remaja biasanya tidak berkaitan atau bahkan tidak cocok dengan gaya-gaya hidup baru ini.[17]

10.  Masa kreatif
Bentuk kreatifitas yang akan terlihat setelah seseorang itu dewasa akan tergantung pada minat dan kemampuan individual, kesempatan untuk mewujudkan keinginan dan kegiatan-kegiatan yang memberikan kepuasan sebesar-besarnya.

E.    TUGAS PERKEMBANGAN MASA DEWASA AWAL
            Sebagian besar golongan dewasa muda telah menyelesaikan pendidikan sampai taraf universitas dan kemudian mereka segera memasuki jenjang karier dalam pekerjaannya. Kehidupan psikososial dewasa muda makin kompleks dibandingkan dengan masa remaja. Karena selain bekerja, mereka akan memasuki kehidpan pernikahan, membentuk keluarga baru, memelihara anak-anak, dan tetap harus memperhatikan orang tua yang makin tua.
            Adapun tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa awal adalah sebagai berikut:

1.    Mencari dan menemukan calon pasangan hidup
                 Setelah melewati masa remaja, golongan dewasa muda semakin memiliki kematangan fisiologis (seksual) sehingga mereka siap melakukan tugas reproduksi, yaitu mampu melakukakn hubungan seksual denga lawan jenisnya, asalkan memnuhi persyaratan yang sah (perkawinan yang resmi). Untuk sementara waktu, dorongan biolohid tersebut mungkin akan ditahan terlebih dahulu.
                 Mereka akan beruapaya mencari calon teman hidup yang cocok untuk dijadikan pasangan dalam perkawinan ataupun untuk membentuk kehidupan rumah tangga berikutnya. Mereka akan menentukan kriteria usia, pendidikan, pekerjaan, atau suku bangsa tertentu, sebagai persyaratan pasangan hidupnya. Setiap orang mempunyai kriteria yang berbeda-beda.

2.    Membina kehidupan rumah tangga
            Hubungan interpersonal memainkan peran yang penting dalam perkawinan yang pentingnya sama dengan hubungan persahabatan dan hubungan bsinis. Makin banyak pengalaman dalam hubungna interpersonal antara pria dan wanita yang diperoleh pada masa lalu, makin besar pengertian wawasan sosial yang telah mereka kembangkan. Serta semakin baik mereka menyesuaikan diri dalam hubungna perkawinan.[18]

3.    Meniti karier dalam rangka memantapkan kehidupan ekonomi rumah tangga
            Masa ini disebut juga dengan masa berharap kerja dimana seorang dewasa awal tidak memiliki keterampilan dalam melamar suatu jenis pekerjaan. Banyak juga orang dewasa awal yang tidak tertair dengan pekerjaan yang selama ini ditekuni oleh orang tua atau sanak keluarganya.[19]
            Orang dewasa yang mempunyai cukup pengalaman kerja dapat memperoleh kepuasan yang jauh lebih sesuai dengan pekerjaan yang dipilih daripada mereka yang kurang mempunyai pengalaman kerja.[20]

4.    Menjadi warga negara yang bertanggung jawab
                 Warga negara yang baik adalah dambaan bagi setiap orang yang ingin hidup tenang, damai, dan bahagia ditengah-tengah masyarakat. Syarat-syarat untuk menjadi warga negara yang baik harus dipenuhi oleh seseorang, sesuai dengan norma sosial budaya yang berlaku di masyarakat.




[1] Elizaberh, B. Hurlock. 1980. Psikologi Perkembangan. (jakarta: erlangga). Hal:246
[2] F. J. Monk. 2006. Psikologi Perkembangan. (Yogyakarta: GANDJAH MADA UNIVERSITY). Hal:290-291
[3] Andi mappiare. 1983. Psikologi Orang Dewasa. (Surabaya: Usaha Nasional). Hal: 245
[4] Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya). Hal: 238
[5] Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya). Hal: 238
[6] Dariyo, Agus. 2004. Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. (Jakarta: PT. Grasindo). Hal: 61
[7] Dariyo, Agus. 2004. Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. (Jakarta: PT. Grasindo). Hal: 57-58
[8] Santrock, John. 1995. Perkembangan Masa Hidup Jilid II. (Jakarta: Erlangga). Hal: 94
[9] Dariyo, Agus. 2004. Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. (Jakarta: PT. Grasindo). Hal: 69
[10] Elizaberh, B. Hurlock. 1980. Psikologi Perkembangan. (jakarta: erlangga). Hal:247
[11] Elizaberh, B. Hurlock. 1980. Psikologi Perkembangan. (jakarta: erlangga). Hal:248-249
[12] Elizaberh, B. Hurlock. 1980. Psikologi Perkembangan. (jakarta: erlangga). Hal:249-250
[13] Elizaberh, B. Hurlock. 1980. Psikologi Perkembangan. (jakarta: erlangga). Hal:250
[14] Elizaberh, B. Hurlock. 1980. Psikologi Perkembangan. (jakarta: erlangga). Hal:250
[15] Elizaberh, B. Hurlock. 1980. Psikologi Perkembangan. (jakarta: erlangga). Hal:250-251
[16] Elizaberh, B. Hurlock. 1980. Psikologi Perkembangan. (jakarta: erlangga). Hal:251
[17] Elizaberh, B. Hurlock. 1980. Psikologi Perkembangan. (jakarta: erlangga). Hal:251
[18] Elizaberh, B. Hurlock. 1980. Psikologi Perkembangan. (jakarta: erlangga). Hal: 290-291
[19] Elizaberh, B. Hurlock. 1980. Psikologi Perkembangan. (jakarta: erlangga). Hal: 279
[20] Elizaberh, B. Hurlock. 1980. Psikologi Perkembangan. (jakarta: erlangga). Hal: 280