Senin, 27 Januari 2014

UTS ( Take Home Exam) Psikologi Kepribadian


1. Sturktur kepribadian menurut Dollard dan Miller :

Struktur kepribadian
            Kebiasaan (habit) adalah satu-satunya elemen dalam teori Dollard dan Miller yang memiliki sifat struktural. Habit adalah ikAtan atau asosiasi antara stimulus dengan respon, yang relative stabil dan bertahan lama dalam kepribadian. Karena itu gambaran kebiasaan seseorang tergantung pada event khas yang menjadi pengalamannya. Namun susunan kebiasaan itu bersifat sementara. Maksudnya, kebiasaan hari ini mungkin berubah berkat pengalaman baru keesokan harinya. Dollard dan Miller menyerahkan kepada ahli lain rincian perangkat habit tertentu yang mungkin menjadi ciri seseorang, karena mereka lebih memusatkan bahasannya mengenai proses belajar, bukan kepemilikan atau hasilnya. Namun mereka menganggap penting kelompok habit dalam bentuk stimulus verbal dari orang itu sendiri atau dari orang lain, dan responnya yang umum juga berbentuk verbal. Dollard dan Miller juga mempertimbangkan dorongan sekunder (secondary drives), seperti rasa takut sebagai bagian kepribadian yang relative stabil. Dorongan primer (primary drives) dan hubungan stimulus-respon yang bersifat bawaan (innate) juga menyumbang struktur kepribadian, walaupun kurang penting dibanding habit dan dorongan sekunder, karena dorongan primer dan hubungan stimulus-respon bawaan ini menentukan taraf umum seseorang, bukan membuat seseorang menjadi unik.
            Dollard dan Miller kurang menaruh minat pada unsur-unsur struktural atau unsur-unsur yang relatif tidak berubah dalam kepribadian, tetapi berminat pada proses belajar dan perkembangan kepribadian. Kebiasaan adalah konsep struktural kunci dalam teori ini sebagaimana telah dijelaskan dalam eksperimen bahwa kebiasaan merupakan asosiasi antara stimulus (baik eksternal maupun internal) dan respon. Susunan dari kebiasaan yang telah dipelajari tersebut membentuk kepribadian.
Sejumlah kebiasaan melibatkan respon internal yang membangkitkan stimulus internal yang bersifat dorongan (drive). Dorongan itu sendiri merupakan stimulus yang cukup kuat untuk mengaktifkan perilaku. Dorongan terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
  1. Dorongan Primer (primary drives)
            Adalah dorongan-dorongan yang berkaitan dengan kondisi fisik atau fisiologis, seperti lapar, haus, seks, dan sebagainya. Dorongan primer ini dianggap kurang penting oleh Dollard dan Miller dalam tingkah laku manusia karena fungsinya telah tergantikan oleh dorongan sekunder.
  1. Dorongan Sekunder (secondary drives)
            Merupakan asosiasi pemuasan dari dorongan primer, seperti kecemasan, rasa takut, gelisah, dan sebagainya. Dorongan sekunder ini dibandingkan dengan dorongan primer dianggap memiliki peranan yang lebih penting dalam tingkah laku manusia karena lebih tampak secara nyata dan dipandang sebagai bagian-bagian kepribadian yang bersifat menetap.


Dinamika Kepribadian

Motivasi – Dorongan (Motivation – Drives)
            Dollard dan Miller sangat memerhatikan motivasi atau drive. Mereka tidak menggambar atau mengklasifikasi motif tertentu, tetapi memusatkan perhatiannya pada motif-motif yang penting, seperti kecemasan. Dalam menganalisa perkembangan dan elaborasi kecemasan inilah mereka berusaha menggambarkan proses umum yang mungkin berlaku untuk semua motif. Dalam kehidupan manusia banyak sekali muncul dorongan yang dipelajari (secondary drives) dari atau berdasarkan dorongan primer seperti lapar, haus dan seks. Dorongan yang dipelajari itu berperan sebagai wajah semu yang fungsinya menyembunyikan dorongan bawaan. Kenyataannya, di masyarakat Barat yang modern, dari pengamatan sepintas terhadap masyarakat dewasa, pentinganya dorongan primer sering tidak jelas. Sebaliknya, yang kita lihat adalah dampak dari dorongan yang dipelajari seperti kecemasan, malu dan kebutuhan kepuasan. Hanya dalam proses perkembangan masa anak-anak atau dalam periode krisis dapat dilihat jelas beroperasinya dorongan primer. Dollard dan Miller mengemukakan bahwa bukan hanya dorongan primer yang diganti oleh dorongan sekunder, tetapi hadiah atau penguat yang primer ternyata juga diganti dengan hadiah atau penguat sekunder. Misalnya senyum orang tua secara bijak terus menerus dihubungkan dengan aktivitas pemberian makanan, penggantian popok dan aktivitas yang memberi kenyamanan lainnya: ”senyum” akan menjadi hadiah sekunder yang sangat kuat bagi bayi sampai dewasa.
            Penting diperhatikan bahwa kemampuan hadiah/penguat sekunder untuk memperkuat tingkah laku itu tidak tanpa batas. Hadiah/penguat sekunder lama kelamaan menjadi tidak efektif , kecuali kalau hadiah/penguat sekunder itu kadang masih berlangsung bersamaan dengan penguat primer.
            Dollard dan Miller setuju dengan Freud yang memandang kecemasan adalah tanda bahaya, semacam antisipasi menghindari rasa sakit (yang pernah dialami pada masa lalu). Behaviorisme menjelaskan perolehan kecemasan sebagai tanda bahaya itu melalui proses kondisioning klasik, dan penyebarannya ke dalam pribadi dijelaskan melalui perolehan reinforsemen dan generalisasi stimulus.

Proses Belajar
            Dollard dan Miller melakukan eksperimen rasa takut terhadap tikus. Peralatannya adalah kotak yang dasarnya diberi aliran listrik yang menimbulkan rasa sakit. Kotak itu diberi sekat yang dapat diloncati tikus, sisi satu diberi warna putih dan sisi lain diberi warna hitam. Dibunyikan bel bersamaan dengan pemberian kejutan listrik pada kotak putih yang membuat tikus kesakitan, yang segera dihentikan kalau tikus itu meloncat dari kotak putih ke kotak hitam. Ternyata sesudah terjadi proses belajar, warna kotak yang putih dan atau bunyi bel saja (tanpa kejutan listrik) telah membuat tikus meloncati sekat. Ini adalah reaksi takut terhadap rasa sakit. Percobaan ditingkatkan dengan menutp sekat dan memasang pengumpil yang harus ditekan tikus agar pintu penghubung ke sekat hitam terbuka (tikus bisa lari ke kotak hitam yang bisa bebas dari kejutan listrik dan bel berhenti). Ternyata kemudian tikus berhenti berusaha menabrak sekat (yang tidak dapat diloncati lagi), dan menemukan cara baru yakni menekan pengumpil untuk membuaka pintu sekat. Eksperimen ini mendemonstrasikan beberapa prinsip belajar yakni;
  1. Classical conditioning (tikus terkondisi merespon bel sebagai tanda aka nada kejutan listrik)
  2. Instrumental learning (tikus belajar respon meloncati sekat sebagai instrumental menghindari rasa sakit)
  3. Extinction (tingkah laku meloncat tidak dilakukan lagi, diganti dengan menekan pengumpil)
  4. Tampak pula primary drive (rasa sakit dan tertekan) memunculkan learned atau secondary drive (rasa takut) yang kemudian memotivasi tingkah laku organisme bahkan ketika sumber rasa sakit sudah tidak muncul.

            Dari eksperimen-eksperimennya, Dollard dan Miller menyimpulkan bahwa sebagian besar dorongan sekunder yang dipelajari manusia, dipelajari melalui belajar rasa takut dan anxiety. Mereka juga menyimpulkan bahwa untuk bisa belajar orang harus menginginkan sesuatu, mengenali sesuatu, mengerjakan sesuatu dan mendapat sesuatu (want something, notice something, do something,  get something). Inilah yang kemudian menjadi empat komponen utama belajar, yakni drive, cue, response dan reinforcement.
  1. Drive adalah stimulus (dari dalam diri organisme) yang mendorong terjadinya kegiatan tetapi tidak menentukan bentuk kegiatannya. Kekuatan drives tergantung kekuatan stimulus yang memunculkannya. Semakin kuat drivenya, semakin kuat tingkah laku yang dihasilkannya.
  2. Cue adalah stimulus yang member petunjuk perlunya dilakuakn respon yang sesungguhnya. Pengertian cue mirip dengan pengertian realitas subjektif dari Rogers, yakni cue adalah petunjuk yang ada pada stimulus sepanjang pemahaman subjektif individu.
  3. Response adalah aktivitas yang dilakukan seseorang. Menurut Dollard dan Miller, sebelim suatu respon dikaitkan dengan suatu stimulus, respon itu harus terjadi terlebih dahulu. Dalam situasi tertentu, suatu stimulus menimbulkan respon-respon yang berurutan, disebut initial hierarchy of response. Belajar akan menghilangkan beberapa respon yang tidak perlu, menjadi resultant hierarchy yang lebih efektif mencapai tujuan yang diharapkan.
  4. Reinforcement maksudnya agar belajar terjadi, harus ada reinforcement atau hadiah. Dollard dan Miller mendefinisikan reinforcement sebagai drive pereda dorongan (drive reduction). Event yang hanya meredakan sebentar stimuli pendorongnya akan memperkuat respon apapun yang terlibat. Bisa dikatakan, reduksi drive menjadi syarat mutlak dari reinforcement. Hipotesis mengenai reduksi drive ini menimbulkan kontroversi, dan Miller sendiri terus berusaha mencari pembenarannya.

Proses Mental yang Lebih Tinggi

Perluasan Stimulus – Respon
            Dollard dan Miller memperluas apa yang dimaksud dengan stimulus – respon,. Untuk contoh kasus, seorang pilot yang pesawatnya meledak karena diserang musuh, kemudian sang pilot menjadi fobia, takut terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pesawat dan pertempuran. Konsep drive, cue, response dan reinforcement menjadi kurang tepat karena stimuli penyebab takut bukan lagi suara ledakan, tetapi juga pikirandan ingatan tentang pesawat dan ledakannya. Sehingga teori belajar bukan hanya menjelaskan tingkah laku yang sederhana, tetapi juga hal-hal yang makna dan terapannya berkaitan dengan persoalan kepribadian yang kompleks.
            Pakar teori belajar tradisional umumnya beranggapan bahwa mengaburkan objektivitas dari definisi stimulus dan respon akan membuat teori belajar menjadi berbahaya yang sama dengan yang dihadapi psikoanalisis yakni; menjkadi sangat tidak cermat dan menipu. Namun perluasan pengertian itu membuat teori belajar tradisional terhindar dari objektivitas yang steril.

Generalisasi Stimulus
            Menurut Dollard dan Miller, ada dua tipe interaksi individu dengan lingkungannya. Pertama, interaksi yang umumnya memiliki respon berdampak segera (immediate effect) terhadap lingkungan dan dituntun oleh cue atau situasi tunggal. Kedua, respon menghasilkan isyarat (cue producing response) yang fungsi utamanya membuka jalan terjadinya generalisasi atau diskriminasi.
            Respon yang dipelajari dalam dalam kaitannya dengan suatu stimulus, dapat dipakai untuk menjawab stimulus lain yang bentuk atau wujud fisiknya mirip. Ini disebut generalisasi stimulus (stimulus generalization). Semakin mirip stimulus lain itu dengan stimulus aslinya, peluang terjadinya generalisasi tingkah laku, emosi, pikiran atau sikap semakin besar. Pada manusia, bisa terjadi generalisasi mediasi (mediated stimulus generalization), yakni generalisasi karena stimulus lain dengan stimulus asli dimasukkan ke dalam klasifikasi yang sama berdasarkan alasan (reasoning) tertentu, atau diberi label (nama) yang sama.

Reasoning
            Cue Producing Response itu umumnya terjadi melalui sejumlah event internal yang disebut alur berpikir (train of thought). Reasoning pada dasarnya merupakan pengganti perbuatan nyata menjadi Cue Producing Response internal yang lebih efisien untuk memecahkan masalah daripada mencoba-coba. Reasoning memungkinkan orang menguji alternatif respon tanpa benar-benar mencobanya, sehingga menyingkat proses memilih tindakan pada masa yang akan datang, mengantisipasi respon agar menjadi lebih efektif. Lebih lanjut, urutan berpikir itu dapat dipandang sebagai hubungan stimulus-respon dalam kondisioning klasik.

Bahasa (Ucapan, Pikiran, Tulisan Maupun Sikap Tubuh)
            Merupakan respon isyarat yang penting sesudah reasoning. Dua fungsinya yang penting sebagai respon isyarat adalah generalisasi dan diskriminasi. Dengan member label yang sama terhadap dua atau lebih event yang berbeda, terjadi generalisasi untuk meresponnya secara sama. Sebaliknya, label yang berbeda terhadap event yang hampir sama memaksa orang untuk merespon event itu secara berbeda pula. Perbedaan antara stimuli dipengaruhi oleh factor sosiokultural.
            Dollard dan Milller sangat mementingkan peran bahasa dalam motivasi, hadiah dan pandangan ke depan. Kata mampu membangkitkan drive dan memperkuat atau member jaminan. Kata dapat berfungsi sebagai pengatur waktu, maksudnya kata dapat menguatkan tingkah laku sekarang secara verbal dengan menggambarkan konsekuensi masa yang akan datang. Jelasnya, intervensi verbal terhadap drive-cue-response-reinforcement telah membuat tingkah laku manusia menjadi semakin kompleks. Tanpa kata atau pikiran untuk mendukung motivasi lintas waktu, tingkah laku mungkin menjadi kurang konsisten dan kurang fleksibel.

Secondary Drives
            Dalam masyarakat yang modern yang kompleks, tingkah laku tidak semata-mata diatur oleh penguat primer (misalnya, makanan dan air). Kehidupan manusia modern dibentuk oleh perjuangan memeroleh prestise, status, kebahagiaan, kekayaan, ketergantungan, dan sebagainya. Menurut Dollard dan Miller, stimulus atau cue apapun yang sering berasosiasi dengan kepuasan dorongan primer, dapat menjadi reinforcement sekunder.
Umumnya drive sekunder bersifat rentan, manakala drive itu berulang-ulang gagal menjadi reinforcement, drive itu menjadi lemah. Anak yang gagal mendapat pujian orang tua karena usahanya tidak mencapai prestasi yang diharapkan, sering berakibat anak menjadi bosan dan menolak berusaha mendapat pujian. Pada drive primer itu tidak terjadi. Namun ada juga drive sekunder yang sangat mantap, bahkan lebih kuat dibandingkan dengan drive lapar dan rasa sakit fisik. Misalnya nilai kebenaran dan integritas tetap dipertahankan (sebagai sumber reinforcement) sampai mati.

Model Konflik
            Formulasi tingkah laku konflik dari Dollard Miller sangat terkenal. Tidak ada seorang pun yang kalis dari konflik berbagai motif dan kecenderungan, dan konflik yang parah sering mendasari tingkah laku menyedihkan dan simptom neurotik, karena konflik itu membuat orang tidak dapat merespon secara normal dapat meredakan drives yang tinggi. Ada tiga bentuk konflik, yakni konflik approach-avoidance (orang dihadapkan dengan pilihan nilai positif dan negatif yang ada di satu situasi), konflik avoidance-avoidance (orang dihadapkan dengan dua pilihan yang sama-sama negatif), dan konflik approach- approach (orang dihadapkan dengan pilihan yang sama-sama positif). Ketiga konflik itu yang mengikuti lima asumsi dasar mengenai tingkah laku konflik berikut:
  1. Kecenderungan mendekat (Gradient of Approach); kecendrungan mendekati tujuan positif semakin kuat kalau orang semakin semakin dekat dengan tujuannya itu.
  2. Kecenderungan menghundar (Gradient of Avoidance); kecenderungan menghundar dari stimulus negatif semakin kuat ketika orang semakin dekat dengan stimulus negative itu. Dua asumsi diatas sebagian dapat dijelaskan dari prinsip yang lebih mendasar, yakni kecenderungan mendapat perkuatan (Gradient of Reinforcement) dan generalisasi stimulus (Stimulus Generalization). Pengertian kecenderungan mendapat perkuatan: hadiah dan hukuman yang segera diberikan memberi dampak lebih besar dibanding menundanya. Semakin dekat ke tujuan, kenikmatan sebagai dampak dari pencapaian tujuan itu akan semakin segera diperoleh. Sedang generalisasi stimulus adalah fenomena; semakin jelas tujuannya, terjadi proses generalisasi tujuan sebagai stimulus, dan semakin kuat stimulus itu mendorong terjadinya respon yang sesuai.
  3. Peningkatan gradient of avoidance lebih besar dibanding gradient of approach.
  4. Meningkatnya dorongan yang berkaitan dengan mendekat atau menghindar akan meningkatkan tingkat gradient. Jadi meningkatnya motivasi akan memperkuat gradient mendekat atau gradient menjauh pada semua titik jarak dari tujuan. Hal sebaliknya akan terjadi kalau dorongannya menurun.
  5. Jikalau ada dua respon yang bersaing, yang lebih kuat akan terjadi.

Ketidaksadaran
            Dollard dan Miller memandang penting faktor ketidaksadaran, tetapi formula analisis asal muasal factor ini berbeda denga Freud. Dollard dan Miller membagi isi-isi ketidaksadaran menjadi dua. Pertama ketidaksadaran berisi hal yang tidak pernah disadarai, sperti stimuli, drive dan respon yang dipelajari bayi sebelum bisa berbicara sehingga tidak memiliki label verbal. Juga apa yang dipelajari secara nonverbal, dan detil dari berbagai keterampilan motorik. Kedua, berisi apa yang pernah disadari tetapi tidak bertahan dan menjadi tidak disadari karena adanya represi. Orang belajar melakuakan represi, atau menolak memikirkan sesuatu yang menakutkan, rasa takut akan berkurang. Kurangnya rasa takut itu dapat dipandang sebagai suatu reinforcement dari tingkah laku tidak memikirkan (represi) hal yang menakutkan. Orang kemudian memiliki repertoire tingkah laku tidak mudah takut.
            Kesadaran verbal sangat penting, karena label verbal sangat esensial dalam proses belajar. Generalisasi dan diskriminasi lebih efisien dengan memakai symbol verbal. Jika tanpa label maka kita dipaksa untuk bekerja dengan tingkat intelektual yang primitif. Kita harus terikat dengan ikatan stimulus yang nyata, dan tingkah laku kita mirip dengan tingkah laku bayi atau binatang yang tidak berbahasa.



2. Habit yang paling penting pada manusia menurut Miller:


            Pengulangan (repetition) merupakan kunci untuk mengembangkan kebiasaan yang baik. Telah kita ketahui, suatu kebiasaan adalah pertautan atau asosiasi antara suatu stimulus (isyarat) dan suatu respon. Asosi­asi-asosiasi yang dipelajari atau kebiasaan-kebiasaan bisa terbentuk tidak hanya antara stimulus-stimulus eksternal dan respon-respon terbuka, tetapi juga antara stimulus-stimulus dan respon-respon internal. Bagian terbesar teori mereka adalah mengenai penetapan kondisi-kondisi dalam mana kebiasaan­-kebiasaan diperoleh dan dihapus atau diganti, dan hanya sedikit atau sama sekali tidak menyinggung penggolongan kebiasaan-­kebiasaan atau penyusunan daftar aneka-ragam kebiasaan penting yang diperlihatkan orang-orang.
            Meskipun kepribadian terutama terdiri dari kebiasaan-ke­biasaan, namun struktur khusus kebiasaan-kebiasaan itu akan tergantung pada peristiwa-peristiwa unik yang pernah dialami oleh individu yang bersangkutan. Selanjutnya, struktur ini hanya bersifat sementara kebiasaan-kebiasaan seseorang hari ini da­pat berubah sebagai akibat dari pengalaman-pengalaman yang diperolehnya keesokan harinya. Dollard dan Miller merasa cutup menentukan prinsip-prinsip yang mengatur pembentukan ke­biasaan dan menyerahkan kepada masing-masing klinikus atau peneliti tugas untuk menentukan kebiasaan-kebiasaan khas orang-seorang. Akan tetapi, mereka berusaha menekankan de­ngan panjang lebar bahwa segolongan kebiasaan-kebiasaan yang penting bagi manusia dihasilkan oleh stimulus-stimulus verbal, apakah stimulus-stimulus itu dihasilkan oleh orang-orang itu sendiri atau oleh orang lain, dan bahwa respon-responnya seringkali juga bersifat verbal.
            Sejumlah kebiasaan dapat meli­batkan respon-respon internal yang pada gilirannya membang­kitkan stimulus-stimulus internal yang memiliki sifat-sifat dorongan. (Kita telah memeriksa rasa takut sebagai salah satu contoh dorongan yang dihasilkan oleh respon dan yang bersifat dipelajari.) Dorongan-dorongan sekunder ini juga harus dipan­dang sebagai bagian-bagian kepribadian yang bersifat menetap. Dorongan-dorongan primer dan hubungan-hubungan S-R bawaan juga merupakan unsur bagi pembentukan struktur kepribadian. Akan tetapi, dorongan-dorongan primer dan hubungan-hubungan bawaan itu selain kurang penting dalam tingkah laku manusia dibandingkan dengan dorongan-dorongan sekunder dan jenis-jenis kebiasaan lainnya, juga menentukan sifat-sifat yang sama-sama dimiliki oleh semua individu sebagai anggota spesies yang sama, dan bukannya menentukan keunikan mereka.


3. Fungsi dari Reasoning

            Berpikir (Reasoning) pada hakikatnya merupakan proses menggantikan perbuatan-perbuatan terbuka dengan respon-respon internal penghasil isyarat. Maka penalaran jauh lebih efisien daripada perbuatan terbuka yang bersifat “trial and eror”. Ia tidak hanya berfungsi sebagai menguji secara simbolis berbagai alternatif, tetapi juag memberikan kemungkinan untuk mengganti dengan respon-respon yang lebih efektif daripada alternatif respon terbuka yang mula-mula tersedia. Dengan menggunakan respon-respon penghasil isyarat, kita bisa mulai dari situasi tujuan dan bekerja mundur sampai menemukan respon instrumentalnya yang tepat, suatu langkah yang biasanya tidak mungkin dilakukan dalam belajar gerak. Merencanakan adalah suatu tipe khusus berpikir, dimana tekanannya terletak pada perbuatan di masa mendatang.
            Supaya kegiatan berpikir atau merencanakan terjadi, pertama-tama individu harus mampu menahan atau menangguhkan respon instrumental langsung terhadap stimulus dorongan dan isyaratnya. Inhibisi inilah yang memberikan respon-respon penghasil isyarat kesempatan untuk tampil atau bekerja, dan respon berupa “tidak memberi respon” ini harus dipelajari sama seperti respon baru yang lain. Perlu juga bahwa respon-respon penghasil isyarat itu efisien dan realistik dan bahwa akhirnya respon-respon itu melahirkan tindakan-tindakan intrumental atau tindakan-tindakan terbuka yang tepata dan sesuai.


4. Proses Cue Producing Response dalam belajar

            Cue Producing Response itu umumnya terjadi melalui sejumlah event internal yang disebut alur berpikir (train of thought). Reasoning pada dasarnya merupakan pengganti perbuatan nyata menjadi Cue Producing Response internal yang lebih efisien untuk memecahkan masalah daripada mencoba-coba. Reasoning memungkinkan orang menguji alternatif respon tanpa benar-benar mencobanya, sehingga menyingkat proses memilih tindakan pada masa yang akan datang, mengantisipasi respon agar menjadi lebih efektif. Lebih lanjut, urutan berpikir itu dapat dipandang sebagai hubungan stimulus-respon dalam kondisioning klasik. Reasoning memungkinkan orang menungkat proses pemilihan tindakan.
            Dalam eksperimen hipotesis yang dilakukan oleh Miller dengan subyek tikus laboratorium menggunakan sebuah kotak persegi dengan lantai berjaringan kabel listrik. Kotak tersebut dibagi menjadi dua ruang dengan sekat sebagai pagar yang digunakan untuk lompat tikus dengan sebuah bel listrik yang dibunyikan bersamaan dengan dialiri arus listrik.
            Dari eksperimen yang dilakukan oleh Miller ini akan memunculkan sesuatu yang berupa dorongan habit dalam teorinya.
            Dorongan adalah konsep motivasional dalam sistem Hullian dan dipandang berfungsi membangkitkan tingkah laku tetapi ti­dak menetapkan arahnya. Pada contoh ini, dorongannya bersifat bawaan atau primer, berdasarkan rasa sakit. Tentu saja, masih ada sejumlah dorongan primer (primary drives) selain rasa sakit, seperti rasa lapar, haus, dan seks. Contoh-contoh terakhir, ber­beda dengan rasa sakit, merupakan keadaan-keadaan deprivasi atau kekurangan akibat tertahannya sejenis stimulus tertentu, seperti makanan, dan akan direduksikan dengan memberi organisme stimulus yang tepat, bukan dengan menghilangkan stimulasi yang bersifat membahayakan.
Berikut Skema Teori Miller:
Analisis teoritis tentang proses-proses yang terlibat
dalam pengondisian klasik suatu respon emosional
berdasarkan rasa sakit
ST kejutan  => r emos  => SD (dorongan) =>  Remos
                Kebiasaan
SKbel

            Sebenarnya, Miller mengajukan dalil bahwa setiap stimulus internal atau eksternal, jika cukup kuat, mampu__ membangkitkan suatu _dorongan dan memicu tindakan. Seperti tersirat dalam pernyataan ini, dorongan-dorongan memiliki kekuatan yang berbeda-beda, dan makin kuat dorongan itu maka makin berse­mangat atau makin tahan uji juga tingkah laku yang digerakkannya. Dalam eksperimen kita, misalnya, kekuatan tingkah laku emosionalnya yang dapat diamati yang terjadi dalam diri para subjek sebagai respon terhadap ST dan kemudian, kekuatan respon melompati penyekat yang dipelajari dipengaruhi oleh tingkat kejutan yang diberikan.
            Mula-mula bunyi bel listrik itu sama sekali tidak mampu membangkitkan tingkah laku-tingkah laku emosional berkaitan dengan kejutan. Tetapi setelah bunyi bel dan kejutan berulangkali diberikan, maka bel tersebut mendapatkan kapasitas untuk membangkitkan remos internal serupa dengan yang aslinya ditim­bulkan oleh ST yang menyakitkan; suatu respon terkondisi (RK) telah diperoleh. Dalam sistem Hullian yang digunakan oleh Dollard dan Miller, belajar digambarkan sebagai pembentukan hubungan asosiatif antara stimulus terkondisi (bunyi bel) dan respon (remos) dan digambarkan dengan konsep teoretis, kebiasaan (habit). Sebagaimana akan dibahas secara lebih rinci sebentar lagi, Hull mengemukakan dalil bahwa supaya terbentuk kebiasaan, selain stimulus dan respon harus terjadi secara berdekatan dalam hal waktu dan ruang, maka respon tersebut juga harus disertai dengan perkuatan atau hadiah. Apabila kondisi terakhir terpenuhi, maka kekuatan kebiasaan S-R akan meningkat sejalan dengan jumlah kali stimulus dan responnya terjadi bersama-sama.
            Penyajian bunyi bel dan kejutan secara berulang-ulang pada sesi pertama percobaan kita disertai terhindarnya subjek dari kejutan yang berfungsi sebagai pemerkuat adalah cukup untuk membentuk kebiasaan yang relatif kuat. Segera setelah remos yang terkondisi secara klasik terbentuk, maka penyajian bunyi belnya sendiri tidak hanya membangkitkan remos, tetapi juga memicu rangkaian peristiwa selanjutnya yang aslinya terkait dengan penyajian kejutan. Jadi, pola khusus stimulasi internal SD akan dibangkitkan dan dikombinasikan dengan bunyi bel, ia akan berperan sebagai isyarat untuk membangkitkan tingkah laku terbuka yang sama seperti yang sebelumnya dibangkitkan oleh kejutan. Selanjutnya, respon-respon yang bisa diamati ini digerakkan atau digiatkan oleh sifat-sifat dorongan yang ter­dapat pada SD. Karena dorongan ini dibangkitkan oleh respon yang dipelajari terhadap stimulus yang sebelumnya netral, ma­ka dorongan itu dikenal sebagai dorongan yang diperoleh atau dorongan sekunder (secondary drive), berbeda dengan dorongan primer (primary drive) yang dibangkitkan oleh respon-respon terhadap stimulasi yang menyakitkan.
            Untuk membedakan rangkaian remos -----> SD Yang di­bangkitkan oleh kejutan dari rangkaian yang terkondisi secara klasik yang dibangkitkan oleh bunyi bel, maka yang terakhir ini diberi sebutan khusus: kecemasan atau rasa takut.

            Dollard dan Miller kurang menaruh minat pada unsur-un­sur struktural atau unsur-unsur yang relatif tak berubah dalam kepribadian. Secara konsisten mereka lebih berminat pada proses belajar dan perkembangan kepribadian. Tanpa menekankan aspek-aspek struktural itu, konsep-konsep manakah yang mereka gunakan untuk menggambarkan sifat-sifat stabil dan menetap pada individu? Kebiasaan adalah konsep kunci dalam teori be­lajar yang dianut Dollard dan Miller.

0 komentar:

Posting Komentar